Woman
·
12 Mei 2020 13:37

Bersandar Pada Harapan Kosong

Konten ini diproduksi oleh Okky Pratiwi
Sayang adalah sebuah perasaan di mana kita mengasihi seseorang. Perasaan ini seolah mengatakan bahwa orang yang kita sayangi adalah segalanya. Bahkan jika rasa sayang itu terlalu kuat, bisa berubah ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu cinta.
ADVERTISEMENT
Setiap manusia pasti pernah menyayangi atau mencintai orang lain, contohnya kepada orang tua, kakak, adik, kakek, nenek, suami, istri, juga kekasih. Perasaan ini normal dan setiap manusia pasti memilikinya. Karena perasaan sayang dan cinta datangnya dari hati tanpa ada kendali dari otak.
Aku pun merasakannya. Aku menyayangi orang tuaku, kakakku, kucing peliharaanku, sahabatku, bahkan idolaku. Selain itu, ada juga orang yang pernah kusayangi. Dia bukan bagian dari keluargaku. Dia adalah teman satu angkatanku di kampus yang bahkan sebelumnya aku tidak menaruh rasa sedikit pun padanya. Tetapi lama kelamaan perasaan itu muncul seiring berjalannya waktu.
Banyak yang mengatakan hidup tidak selalu berjalan mulus. Sama seperti kisahku dengannya. Berawal dengan mulus, berakhir dengan tidak bagus. Aku yang terlanjur menyayanginya dan sudah jatuh terlalu dalam untuk ia yang masih berdiri tegak. Ternyata rasa sayangku bertepuk sebelah tangan.
ADVERTISEMENT
PHP (Pemberi Harapan Palsu), sebutan ini sangat cocok untuknya. PHP merupakan situasi di mana seseorang tidak mampu mengatakan secara langsung namun sikapnya menunjukkan sesuatu. Sebutan ini cocok ditujukan untuk dia yang memberikan harapan pada orang yang berharap, dalam kasus ini adalah aku.
Namanya Noval. Dia teman satu angkatanku. Pertama kali aku mengenalnya di sebuah warung lesehan yang berlokasi di belakang kampusku. Aku dan beberapa teman angkatanku sedang berkumpul di sana seusai kuliah, dia juga ada di sana.
Saat itu, aku sedang sangat ingin bermain ludo secara online. Ternyata, ada dua orang yang menyanggupi keinginanku. Temanku dari kelas lain dan Noval. Sebelum memulai permainan, aku mengajak mereka untuk berkenalan. Karena wajar saja, saat itu kami masih mahasiswa baru yang belum terlalu mengenal banyak orang dari kelas lain.
ADVERTISEMENT
Aku menyodorkan tanganku dan berkenalan dengan temanku yang satu. Kemudian saatnya aku berkenalan dengannya. "Gua Noval," ujarnya sambil tersenyum ramah. Aku mencoba menghafal wajahnya dan mengingat namanya. Tetapi sangat disayangkan, satu menit kemudian, hanya wajahnya yang kuingat dan aku melupakan namanya.
Sejak berkenalan di tempat itu, jika bertemu, kami akan selalu saling sapa. Dengan dia yang menyebutkan namaku, dan aku yang hanya bisa mengucapkan "Hai!"
Hari demi hari berlalu, perkuliahan terus berlanjut hingga tiba suatu waktu dosenku memberikan tugas untuk meliput talkshow di sebuah Mal yang terletak di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. Sebanyak tiga kelas hadir untuk meliput acara ini. Termasuk kelasku dan Noval.
Kami bertemu di pameran fotografi yang juga bagian dari acara. Masih sama seperti sebelumnya. Dia menyebutkan namaku, dan aku yang juga masih tidak tahu siapa namanya.
ADVERTISEMENT
Setelah selesai acara, aku dan beberapa temanku memutuskan untuk bermain ke Gelora Bung Karno. Melihat-lihat bazar Asian Para Games 2018 sekaligus hunting foto. Noval juga ikut bersama kami. Setelah beberapa jam berkeliling, kami memutuskan untuk pulang.
Aku pulang bersama 4 temanku beriring-iringan dengan tiga motor. Aku dibonceng oleh temanku Rama, temanku yang lain yaitu Septian berboncengan dengan Tommy, dan Noval sendiri di motornya. Di perjalanan, aku bertanya pada Rama, "Mereka rumahnya di mana deh?" Rama pun menyebutkan mulai dari rumah Septian, Tommy, hingga akhirnya, "Kalau Noval rumahnya di Depok," jelasnya.
Aku bertanya padanya, "Yang itu namanya Noval?" Rama mengangguk sebagai jawaban. Setelah hampir dua bulan saling sapa, aku baru mengetahui namanya. Noval.
ADVERTISEMENT
Dua hari setelah acara tersebut, aku meminta satu foto hasil dari talkshow sebelumnya pada Noval lewat chat. Karena kulihat Noval aktif memotret selama acara berlangsung. Sejak saat itu, kami jadi sering mengobrol lewat chat. Tak lupa untuk tetap saling sapa jika bertemu.
Obrolan yang intens membuat hubungan kami pun semakin dekat. Hingga suatu hari untuk pertama kalinya ia menawarkan untuk menjemputku di stasiun terdekat dari kampusku dan berangkat kuliah bersama, lalu ku iyakan ajakannya itu.
Sejak itu, kami jadi sering berangkat dan pulang kuliah bersama. Berangkat liputan bersama. Bahkan obrolan kami di chat juga mulai berubah layaknya sepasang kekasih, walaupun kenyataan berkata kami hanyalah teman.
Tidak hanya berangkat dan pulang kuliah bersama. Kami juga pernah pergi ke Mal berdua kemudian makan di salah satu restoran pizza. Selesai makan, kami pun pulang. Di parkiran, tiba-tiba dia berdiri menghadapku, aku pun mendongak untuk menatapnya. "Sebentar, masih ada saus itu," ujarnya tiba-tiba kemudian membersihkan sisa saus di ujung bibirku dengan jarinya. Aku hanya bisa berdiam diri sambil mengucapkan selamat tinggal pada kondisi jantungku yang hampir lepas.
ADVERTISEMENT
Hubungan kami terus berlanjut, dari yang tidak ketahuan sama sekali, hingga teman-temanku menyadari bahwa aku sangat dekat dengan Noval. Sampai teman-temanku mulai menanyakan, "Kalian pacaran ya?" Sudah terlalu sering aku mendengar pertanyaan itu dan hanya bisa kujawab dengan, "Nggak kok, nggak pacaran."
Terlalu sering mendapat ledekan dan pertanyaan seputar hubunganku dengan Noval membuatku juga bertanya-tanya, 'Dia ada rasa juga nggak sih ke aku?'.
Waktu itu aku memberanikan diri untuk bertanya padanya tentang hubungan kami. "Aku gak bisa buat kasih status ke kita karena teman dekat aku yang juga teman dekat kamu suka sama kamu," jawab Noval. Bingung. Itu yang ku rasakan. Siapa? Pertanyaan itu terus terngiang hingga dia mengatakan bahwa orang itu adalah Rama, teman dekatku yang juga teman sejak kecilnya Noval. Tetapi, belum selesai obrolan kami, dia terpaksa menyudahi obrolan karena ada hal genting yang harus ia lakukan.
ADVERTISEMENT
Seminggu kemudian, aku mencoba untuk menanyakan hal ini lagi. Tetapi yang aku dapatkan justru jawaban dia yang aneh dan jelas sangat menyakitiku. Dia mengatakan bahwa dia tidak bisa menaruh rasa apa-apa kepadaku karena beberapa alasan. Dia menyebutkan alasan tersebut, "Kamu childish," "Kamu moody-an," "Kamu susah dinasihatin," "Kamu nggak bisa diam," "Kamu terlalu boros," "Kamu pemalas," "Kamu kasar," "Kamu nggak feminin."
Kaget. Cuma itu yang ku rasakan. Airmata mulai mengalir dari mataku. Dia yang bukan siapa-siapa justru menuntutku untuk menjadi sesuai dengan kemauannya. Jika ia tidak bisa menaruh rasa apa pun padaku, lalu yang kami berdua lakukan selama ini dia anggap apa?
Sejak saat itu, aku membencinya. Seluruh media sosialnya aku blokir. Jika tidak sengaja berpapasan, tidak ada lagi sapaan, bahkan sekadar senyum pun tak aku tunjukkan.
ADVERTISEMENT
Sejak saat itu juga, aku menutup hatiku dan tidak ingin untuk menjalin hubungan spesial dengan siapa pun. Aku mulai mencoba untuk lebih mencintai diriku sendiri. Aku harus yakin bahwa aku sudah berharga begini adanya tanpa perlu menjadi seperti yang ia katakan.
Me-Time, ini yang sering kulakukan sejak hubunganku berakhir dengannya. Me-Time adalah waktu untuk diriku sendiri melakukan apa pun yang aku mau tanpa ada kehadiran orang lain. Berkeliling Mal, makan, menonton bioskop, belanja, semua itu kulakukan sendirian karena aku harus membahagiakan diriku tanpa perlu adanya campur tangan orang lain.
Berkat Noval, aku jadi paham bahwa tidak semua yang diucapkan dan dilakukan oleh orang lain dapat dipercaya. Berkat Noval, aku sempat mengalami masa trauma untuk menjalin hubungan. Berkat Noval juga, aku jadi tahu bahwa mencintai diri sendiri jauh lebih penting daripada mencintai orang lain.
ADVERTISEMENT
(Okky Pratiwi / Politeknik Negeri Jakarta)