kumparan
31 Jul 2017 8:56 WIB

Ride into the Sunrise: Jelajahi Indahnya Indonesia dengan Motor Klasik

oleh: Freddy Soemitro
Bagi saya, berpertualang dan berkendara sepeda motor adalah perpaduan yang selalu menarik untuk dilakukan karena keduanya selalu memberikan saya pengalaman yang tak ternilai harganya. Dengan modal pengalaman dan kecintaan saya terhadap sepeda motor, usia pun bukan lagi menjadi halangan bagi saya untuk menguji fisik dalam menjelajah berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia tentunya.
ADVERTISEMENT
Hamparan pesona keindahan alam, tradisi masyarakat, legenda hingga sejarah dari tiap-tiap wilayah menjadi magnet tersendiri bagi saya untuk tidak pernah saya sia-siakan kesempatan dalam menjelajahi Indonesia dan menguliknya lebih dalam selagi masih diberi anugerah kesehatan apalagi di usia yang kini sudah menginjak lebih dari 60 tahun.
Sekitar akhir tahun lalu, tepatnya pada tanggal 15 Agustus hingga 2 September 2016, saya dan rekan sesama penyuka riding, mewujudkan rencana kami untuk kembali melakukan riding adventure.
Kali ini, dengan menggagas tema “Ride into the Sunrise”, kami memilih untuk mengarungi nusantara mengendarai motor klasik dengan rute perjalanan yang cukup menantang, yaitu dari Cikampek ke Timor Leste, untuk mengeksplor ketangguhan mesinnya. Saya selalu merasa penasaran dan semangat untuk mengambil tantangan baru dan tentu saja, menyelesaikannya. Hobi riding ini membuat saya selalu merasa muda.
ADVERTISEMENT
Melintasi Eloknya Pulau Jawa hingga Pulau Dewata
Dengan Royal Enfield Classic 500, sebuah motor tangguh dengan gaya klasik khas perang dunia yang konon telah terbukti hingga ke medan pegunungan Himalaya, kami memulai perjalanan di pagi hari pada Senin, 19 September dari Cikampek menuju Solo dengan total jarak sekitar 500 kilometer. Kami melewati jalur Pantura, ke arah Semarang sampai akhirnya tiba dan bermalam di kota Solo.
Di hari ke-2, kami melanjutkan perjalanan menuju Malang melalui medan-medan tanjakkan dari wilayah Madiun, Kertosono, Pare, sampai ke Batu. Selama perjalanan ini, kondisi motor yang kami tunggangi cukup kuat dan aman, tidak ada 1 baut pun yang kendur padahal medan yang dilewati cukup ekstrem. Berselimutkan udara dingin, kami pun beristirahat kembali di wilayah Batu, Malang, untuk mempersiapkan diri sebelum keesokan harinya melanjutkan petualangan kami.
Di hari berikutnya, kami memilih untuk melalui jalan umum guna mempercepat waktu tiba di destinasi selanjutnya, Denpasar, Bali, selambatnya pukul 18.30 WITA. Di pulau Dewata, kami kembali beristirahat serta melakukan pengecekan motor dan memulihkan stamina. Setelah 2 hari jelajah Pulau Dewata, kami melanjutkan perjalanan ke kota Mataram, Lombok.
ADVERTISEMENT
Perjalanan dari Denpasar ke Mataram kami tempuh selama kurang lebih 4 jam. Rasa pegal mulai terasa, namun kelelahan kami terbayar oleh kehangatan Lombok dengan atmosfer alam yang hijau. Di Pulau Seribu Masjid ini, kami diundang oleh Komunitas Royal Enfield yang akrab dikenal dengan “The Green Team” untuk menghabiskan malam bersama. Obrolan seputar kegiatan komunitas motor di sekitar Bali dan Lombok menjadi agenda utama pertemuan kami malam itu dengan alunan musik yang diakhiri dengan makan malam bersama.
Menantang Kabut dan Hujan di Maumere
Seusai Lombok, kami melanjutkan perjalanan menuju Sumbawa Besar dengan menempuh jarak sepanjang kurang lebih 220 kilometer. Kami pun kembali berjumpa dan menyempatkan diri untuk bersenda gurau sejenak bersama komunitas motor setempat sebelum melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo.
ADVERTISEMENT
Sesampainya di Labuan Bajo yang merupakan salah satu desa di kecamatan Komodo ini, kami mampir sejenak mendaki bukit untuk melihat kehidupan komodo dan berfoto-foto. Perjalanan pun kami lanjutkan menuju Bajawa, kota kecil di daerah Flores. Disana kami melihat panorama langka yaitu desa yang dikelilingi pemandangan gunung volkano.
Keesokan paginya, kami lanjutkan perjalanan dari Bajawa menuju Maumere dengan ekspektasi melihat sunrise di Gunung Kelimutu. Namun, tak disangka, di tengah perjalanan kami menemui cuaca berkabut dengan densitas cukup tebal disertai hujan.
Akhirnya, kami berhenti sejenak di wilayah Ende, karena terhalang oleh jalanan yang tertutup longsor untuk melanjutkan kembali perjalanan di malam hari. Di tengah udara dingin yang menusuk, flu menyerang, serta kabut serta hujan gerimis menghalangi kami untuk mempercepat laju menuju Maumere. Mengantisipasi kondisi seperti ini, saya sempat melakukan sedikit modifikasi terhadap motor Royal Enfield dengan meninggikan handle bar serta mengatur posisi duduk senyaman mungkin sebelum berangkat. Karakter motor yang luwes dan fleksibel memudahkan saya untuk memodifikasinya sesuai dengan kebutuhan.
ADVERTISEMENT
Akhirnya kami sampai juga di Maumere pada tengah malam. Setelah beristirahat, keesokan paginya kami melanjutkan perjalanan ke Larantuka dan pada pukul 10 pagi, kami harus mengirimkan motor ke Kupang dengan menggunakan Kapal Ferry karena harus menyeberangi lautan yang pelayarannya memakan waktu sekitar 18 jam. Pada sore hari, saya langsung berangkat ke Kupang dengan pesawat. Keesokan harinya di Kupang, kami bergegas mengambil motor di pelabuhan untuk melanjutkan petualangan kami.
Tersasar di Tengah Malam hingga Dihadang Polisi Timor Leste
Selama di Kupang kami sempat bertemu dengan teman-teman sesama pencinta motor, dari Asosiasi Bikers Kupang (ASBAK). Sambil menikmati keindahan kota Kupang yang masyarakatnya dipenuhi berbagai suku bangsa ini, kami saling bertukar informasi mengenai pengalaman dan keseruan riding dengan sesama bikers. Kami juga mengikuti lunch party bersama para bikers di lokasi kebun sebelum melanjutkan riding menuju Atambua.
ADVERTISEMENT
Perjalanan ke Atambua dilalui dengan melewati jalan nasional sepanjang 270 kilometer melintasi jalan perbukitan berkelok yang sangat menantang. Sekeliling kami tampak pemandangan unik berupa rumah-rumah adat khas budaya Nusa Tenggara Timur (NTT), namun penerangan jalan yang cukup minim menjelang malam hari membuat kami harus ekstra hati-hati.
Kami sempat tersesat di perjalanan ketika tiba di kota Kefamenanu karena salah mengambil arah jalan. Setelah melintas sejauh 28 kilometer, kami menemui perbatasan daerah yang tidak seharusnya kami lewati, yakni wilayah Oecusee. Di sini kami berhadapan dengan pihak berwajib yang menjaga kawasan ini dengan cukup ketat. Kami sempat bersitegang dengan petugas setempat karena dicurigai dan tidak diperkenankan masuk ke wilayah tersebut.
Setelah melalui perdebatan panjang, kami pun berputar arah kembali menuju Atambua hingga akhirnya tiba di titik Pos Lintas Batas Negara Republik Indonesia dan Timor Leste. Kami disambut langsung oleh salah seorang kerabat kami di Timor Leste, Paolo Martin. Olehnya, kami diberi keistimewaan untuk menginap di hotel dengan lokasi yang bersebelahan dengan kediaman Xanana Gusmao, Presiden Pertama Timor Leste.
ADVERTISEMENT
Kembali ke Jakarta
Setelah puas menjelajah kota Dili ibukota Timor Leste selama dua malam dan bersenda gurau dengan kawan lama, kami pun kembali ke Atambua untuk menuju ke Kupang. Sesampainya di Kupang, kami mengirimkan motor yang kami gunakan ke Surabaya dengan menggunakan kapal feri, dan kemudian kami terbang pulang ke Jakarta.
Perjalanan ini menandai halaman baru dalam catatan riding, khususnya touring tanah air. Saya sudah pernah merasakan touring ke Eropa, Himalaya hingga Selandia Baru, namun sensasi berkendara di tanah air tetap menjadi rute unggulan dengan hamparan panorama keindahan sepanjang perjalanan.
Motor Royal Enfield Classic 500 yang saya kendarai juga menjadi salah satu faktor keberhasilan perjalanan saya kali ini. Dengan performa mesin dan ketahanannya yang baik, motor ini sangat handal. Saya dapat memacu kecepatan hingga top speed 120 kilometer per jam dengan manuver yang masih terasa ringan dan nyaman. Perjalanan dengan total jarak 5,800 kilometer ini merupakan salah satu pengalaman riding yang tidak terlupakan bagi saya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan