kumparan
20 Sep 2019 14:14 WIB

2 Tahun Berlalu, Jembatan Roboh di Tolitoli Tak Kunjung Diperbaiki

Kondisi terkini jembatan yang menghubungkan antara Desa Tinigi dan Desa Lakatan di Kabupaten Tolitoli yang terputus setelah tersapu banjir bandang pada Juni 2017 silam, yang hingga saat ini belum diperbaiki oleh Pemerintah Daerah Tolitoli. Foto: Moh. Sabran/PaluPoso
Banjir yang melanda Kecamatan Galang, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, pada Juni 2017 silam mengakibatkan jembatan penghubung Desa Tinigi dan Desa Lakatan jadi roboh.
ADVERTISEMENT
Puing jembatan tersebut kini terlihat berserakan dan hanya dibiarkan begitu saja. Padahal, selain dua desa itu, jembatan sepanjang 25 meter tersebut sebelumnya juga digunakan masyarakat untuk menghubungkan empat desa di Kecamatan Galang.
Dua tahun berlalu, jembatan tersebut tak kunjung diperbaiki. Terlebih, jembatan rusak itu telah menutup akses transportasi warga.
Tak hanya itu, warga yang berprofesi sebagai petani adalah yang paling merasakan dampak terputusnya jembatan tersebut. Sebab, mereka harus mengeluarkan biaya tambahan sebesar Rp 5.000 untuk menyeberangkan hasil pertaniannya.
Selain petani, kondisi tersebut juga dirasakan para pelajar yang saban hari harus melewati sungai dengan selebar 25 meter menggunakan rakit milik warga. Belum lagi, para pelajar juga harus mengeluarkan uang untuk menyeberang sungai.
Puing jembatan penghubung desa di Kecamatan Galang, Kabupaten Tolitoli, terlihat berserakan dan terkesan dibiarkan begitu saja. Foto: Moh. Sabran/PaluPoso
Kepala Desa Tinigi, Mulyadi Muin, mengatakan pihaknya hingga saat ini masih menunggu janji dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tolitoli yang akan merealisasikan pembangunan jembatan tersebut.
ADVERTISEMENT
“Semenjak dua tahun rusak, kami masih terus menunggu hingga kini untuk perbaikan jembatan dari BPBD Tolitoli, sebagian besar masyarakat yang ada di desa kami sangat mengeluhkan belum diperbaiki jembatan tersebut,’’ kata Mulyadi ketika ditemui PaluPoso, Jumat (20/9).
Menurut Mulyadi, sejatinya jembatan tersebut sudah akan diperbaiki. Namun ketika anggaran akan diturunkan, di saat bersamaan Kota Palu dan sekitarnya dilanda bencana gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi. Akibatnya, pembangunan jembatan itu tertunda.
Diketahui, insiden jembatan putus antardesa di Kecamatan Galang itu terjadi akibat hantaman air bah dari hulu sungai pada sekitar pukul 17.30 WITA, Sabtu, 3 Juni 2017.
Diketahui pula, jembatan itu merupakan penghubung dan sekaligus salah satu akses terdekat bagi warga setempat untuk menuju ke desa tetangga, seperti Desa Lakatan, Ogomoli, Kinopasan, dan Desa Lantapan.
ADVERTISEMENT
Kontributor: Moh Sabran (Tolitoli-Buol)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan