News
·
22 April 2021 13:32

Cinta Holiliana Tumimomor kepada Suami dan Jalan Berliku di Politik Praktis

Konten ini diproduksi oleh Palu Poso
Cinta Holiliana Tumimomor kepada Suami dan Jalan Berliku di Politik Praktis (103876)
Holiliana Tumimomor. Foto: Istimewa
“Halo, maaf Bunda lagi kurang sehat sekarang,” suara serak terdengar dari seberang telepon seperti suara seorang ibu menyapa anaknya.
ADVERTISEMENT
Hari itu, Holiliana Tumimomor (51) mengaku sedang tidak enak badan. Ia menderita flu dan batuk, hingga nyaris membuat suaranya berubah serak.
“Ini kecapean. Abis turun lapangan menyapa masyarakat sebelum pemilihan,” suaranya kembali terdengar disertai dengan batuk.
Sulit menghubungi wanita ini. Berhari-hari ditelepon tidak diangkat. Begitupun pesan singkat tidak juga dibalas.
Hasil pemungutan suara Pemilihan Suara Ulang (PSU) Kabupaten Morowali Utara (Morut) baru beberapa saat usai. Mungkin saja, ia sedang sedih sekarang meratapi nasib kekalahannya.
Namun hari itu, Holiliana menyapa telepon wartawan ini, Rabu (21/4). Dalam perbincangan ringan itu, sesekali dari seberang telepon, ia terdengar menertawakan dirinya yang kalah di medan tempur di Pilkada Morut.
“Saya maju di Pilkada Morut karena keinginan suami. Beliau sangat mencintai tanah kelahirannya. Itu yang memotivasi saya. Seminggu sebelum ia berpulang, suami saya menitipkan Morut pada saya,” kenang Holiliana.
ADVERTISEMENT
Suami Holiliana adalah Bupati Morowali Utara, Aptripel Tumimomor (55). Atripel juga merupakan seorang pengusaha sekaligus dosen di Universitas Kristen Indonesia Paulus (UKIP) Makassar, juga seorang keturunan Raja Mori.
Tahun 2015, Atripel terpilih bersama Asrar Abdul Samad memimpin Morut, namun belum cukup lima tahun kepemimpinannya, beliau meninggal dunia karena terkonfirmasi positif COVID-19, meninggalkan satu orang istri dan tiga anak.
“Bagi saya, maju di Pilkada ini untuk menjalankan amanah suami. Dan sebagai istri yang mencintai suaminya, saya harus menjalankan amanah itu. Saya tidak ingin durhaka kepada suami,” kata Holiliana.
Jika mengingat-ngingat sebentar perjalanan Holiliana selama bertarung memperebutkan kursi Bupati Morut, rasanya ia tidak menyangka bisa melewatinya. Sebab Holiliana, mengaku tidak punya pendidikan politik sedikitpun dan tidak pernah berniat maju mencalonkan diri sebagai Bupati, meski suaminya lebih dulu berkecimpung di dunia politik.
Cinta Holiliana Tumimomor kepada Suami dan Jalan Berliku di Politik Praktis (103877)
Holiliana Tumimomor (kanan) dan suaminya Aptripel Tumimomor (Almarhum). Foto: Istimewa
Saat suaminya bertarung memperebutkan kursi Bupati Morut, ia lebih banyak berada di Makassar, mengurus bisnis keluarganya. Sehingga, praktis, Holiliana tidak pernah tersentuh dunia politik.
ADVERTISEMENT
Namun majunya di Pilkada Morut memberikan ia segudang pengalaman berharga. Banyak kesan suka dan duka. Suka, saat ia bisa menyapa warga Morut hingga ke pedalaman. Melihat betapa Morut memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang besar. Sedangkan duka, ketika ia harus berhadapan dengan berbagai konflik kepentingan. Ia juga baru menyadari banyak yang tidak sesuai dengan harapan.
“Banyak pengalaman yang bisa ditimbah. Bahkan banyak orang-orang yang mengatakan politik itu kotor. Tapi Bunda berusaha menjalankan politik yang baik dan benar,” katanya bersungguh-sungguh.
Pilkada Morut banyak memberikannya pelajaran. Banyak hal-hal yang tidak sesuai harapan, terutama arti sebuah kepercayaan. Nilai kejujuran itu sangat berarti. Beberapa orang yang Holiliana percaya justru berbalik.
“Biarlah waktu yang menjawab. Dalam politik juga banyak kepentingan. Saya melihat itu. Misalnya kepentingan orang-orang tertentu. Tapi saya bersyukur pendukung saya orang-orang yang militan,” ujar Holiliana lagi.
ADVERTISEMENT
Hari ini, Kamis (22/4) adalah jadwal penetapan calon pemenang Pilkada Morut. Holiliana sudah siap dengan hasilnya. Meski sebenarnya ia sudah tahu siapa calon pemenangnya.
“Sudah pasti harus berjiwa besar. Dalam setiap pertarungan pasti ada menang dan kalah. Apa pun harus kita syukuri kepada Bapak di Surga,” ucapnya teduh.
Ia terjun di dunia politik seperti air yang mengalir. Begitu juga saat melihat karirnya ke depan usai mengikuti Pilkada Morut. Holiliana mengaku tidak punya rencana. Ia memilih menyerahkan semuanya kepada takdir.
“Nanti dilihat," katanya.
Hari ini adalah hari yang spesial untuk kaum wanita yakni Hari Kartini. Holiliana berpesan agar perempuan harus percaya diri.
"Kita harus punya niat yang baik dan usaha. Jangan pernah merasa tidak percaya walaupun lawan kita laki-laki,” tutup Holiliana.
ADVERTISEMENT