News
·
11 September 2020 10:20

Dari Medsos, Orang Bisa Terjangkit Paham Radikal

Konten ini diproduksi oleh PALU POSO
Dari Medsos, Orang Bisa Terjangkit Paham Radikal (200463)
Kasubdit Pengawasan di BNPT, Moch Chairil Anwar (kedua dari kanan) saat memberikan materi tentang pelibatan masyarakat dalam mencegah paham radikal dan terorisme bertajuk "Ngobrol Pintar Cara Orang Indonesia (Ngopi CoI) di salah satu hotel di Palu, Kamis (10/9/2020). Foto: M Rifki
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bekerjasama dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulteng menyosialisasikan bahaya penyebaran paham radikal lewat media sosial.
ADVERTISEMENT
"Sosialisasi ini perlu, karena dari media sosial, orang bisa terkena dampak paham radikal bahkan terorisme," kata Kasubdit Pencegahan BNPT, Moch Chairil Anwar saat membawakan materi tentang perbedaan antara paham radikalisme dan terorisme di salah satu hotel di Palu, Kamis (10/9).
Menurutnya, pengaruh media sosial tanpa dibarengi dengan pemahaman literasi yang cukup, orang bisa terjebak dalam paham radikal.
Aksi radikal di medsos bermoduskan pemahaman tentang perubahan sosial, ekonomi dan potik dengan mengubah pola pikir hingga ideologi bangsa. Cara yang dilakukan pun terbilang esktrim. Sehingga, orang yang terjangkit paham ini, bisa menjadi pelaku terorisme.
“Dengan mengunggah suatu pemahaman yang berisi radikal, kemudian ada yang melihat unggahan itu di medsos, dan orang yang melihat tersebut tidak punya literasi atau pemahaman agama atau ilmu pengetahun yang cukup, sangat rentan terkena paham ini,” kata Chairil.
Dari Medsos, Orang Bisa Terjangkit Paham Radikal (200464)
Platform media sosial Facebook. (Foto: Thomas White/Reuters)
Chairil juga menyebut data penanganan konten radikalisme dan terorisme dari Kementerian Kominfo tahun 2017 sampai dengan Maret 2019 sudah berjumlah 13.032 konten.
ADVERTISEMENT
Sementara hasil survei nasional tentang daya tangkal masyarakat terhadap radikalisme dan terorisme dengan pengguna media sosial dalam mencari informasi mengenai pemahaman agama termasuk tinggi dengan skor 39,89.
“Hal ini tergambar dalam survei nasional tentang daya tangkal masyarakat terhadap radikalisme dan terorisme yang dilaksanakan oleh BNPT tahun 2017 - 2018, dengan skor 42,58 dari rentang 0 – 100. Jumlah ini terbilang tinggi,” katanya.
Senada dengan Ketua FKPT Sulteng M Nur Sangadji menambahkan, idealnya kehadiran internet dan media sosial menjadi salah satu jendela informasi yang dapat memberikan pencerahan, sehingga berdampak pada penguatan persatuan dan kesatuan. Namun, belakangan ini informasi yang bernuansa provokatif, kebencian, memancing emosi dan amarah serta mempropagandakan antara negara dan agama.
ADVERTISEMENT
Olehnya, ia berharap dengan adanya literasi informasi dapat menjadi satu penguatan untuk peningkatan kapasitas, dalam pencegahan penyebaran paham dan gerakan intoleransi, radikalisme dan terorisme lewat media sosial. *** (RK)