News
·
27 Agustus 2020 16:27

Fhaiqa, Balita Penderita Perut Buncit di Parigi Moutong, Sulteng, Butuh Bantuan

Konten ini diproduksi oleh PALU POSO
Fhaiqa, Balita Penderita Perut Buncit di Parigi Moutong, Sulteng, Butuh Bantuan (211444)
Fhaiqa, balita penderita perut buncit asal Parimo ini mendapat penanganan medis di RSUD Undata Palu setelah ada rujukan dari RSU Anutapura Palu. Foto: Istimewa
Tubuhnya tampak lemas, matanya sayup dan tubuhnya pucat. Kondisi ini yang terlihat pada pasien balita yang mengalami pembengkakan di bagian perut.
ADVERTISEMENT
Balita perempuan berusia 1 tahun 11 bulan itu bernama Fhaiqa Mutia dan kini dirawat di Kamar Catelya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Undata Palu, Sulawesi Tengah.
Baru satu malam Fhaiqa mendapat penanganan medis di RSUD Undata Palu setelah ada rujukan dari RSU Anutapura Palu.
Fhaiqa anak kedua dari pasangan Rifky Maod (26) dan Astuti (23) warga Desa Bobalo, Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Mautong, Sulawesi Tengah.
Sejak usia enam bulan Fhaiqa mengalami pembengkakan di bagian perutnya. Awalnya, kedua orangtuanya tidak mengetahui perubahan yang terjadi pada anaknya itu. Gejala pun hanya demam pada umumnya, hanya saja perut Fhaiqa perlahan mulai membesar.
“Kalau hari-hari sebelum sakit lima hari ini anakku biasa-biasa saja. Bermain juga kalau di rumah,” kata sang ayah, Rifky.
ADVERTISEMENT
Saat ditemui di rumah sakit, Fhaiqa sedang tidur, jarum infus sudah terpasang di tangannya. Sesekali ia terbangun dan menangis.
“Dia ini belum makan, hanya minum air putih sama susu saja,” kata Rifky.
Kondisi ini mulai terjadi sekitar lima hari, di mana putrinya Fhaiqa demam dan hilang nafsu makan.
Setiap harinya ayah Fhaiqa bekerja sebagai pelayan restoran di salah satu rumah makan di Kota Palu. Sedangkan istrinya hanya sebagai ibu rumah tangga.
Fhaiqa, Balita Penderita Perut Buncit di Parigi Moutong, Sulteng, Butuh Bantuan (211445)
Fhaiqa Mutia, balita penderita perut buncit asal Parigi Moutong, dan kini dirawat di Kamar Catelya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Undata Palu, Sulawesi Tengah. Foto: Istimewa
Sudah dua bulan ia dan istrinya berada di Palu dan menumpang di rumah keluarga.
“Kalau di Parigi tidak kerja, makan hari-hari dapat dari hasil tangkap ikan di laut. Yah, hanya untuk makan saja,” terangnya.
Penghasilan yang tidak seberapa jadi penyebab orangtua Fhaiqa belum bisa membawa anaknya berobat lanjut.
ADVERTISEMENT
“Pernah dibawa tapi diperiksa begitu, katanya antara tumor sama penyakitnya tidak jelas,” kata Rifky.
Rifky juga sempat putus asa karena kepengurusan BPJS kesehatan yang tak kunjung berakhir. Ia pun beberapa kali harus mondar mandir mengurus pengaktifan BPJS Fhaiqa.
“Kalau dari BPJSnya sudah selesai, tinggal pengaktifan NIK anak saya, sudah berulang kali saya bolak balik urus pengaktifan tapi tidak ada juga. Saya urus ini sebelum anakku sakit dan sekarang sudah sakit semakin susah saya urus karena pikiran terbagi,” cerita Rifky.
Saat ini Rifky hanya mengharapkan bantuan yang diberikan untuknya. Ia pun dibantu oleh salah satu kelompok relawan untuk membawa Fhaiqa ke rumah sakit.
“Sekarang biayanya normal karena BPJS belum selesai. Cuman saya belum tanya berapa sudah satu malam ini,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Saat ini yang dibutuhkan Fhaiqa adalah biaya pengobatan, pampers ukuran L, tissu basah, tissu kering dan pakaian.
“Satu malam kami tidak tidur karena Fhaiqa menangis terus,” katanya.