Pencarian populer
PUBLISHER STORY

Kisah Penyintas Bencana Sulteng Mengenang Keluarganya di Hari Lebaran

Ritman berpelukan dengan keluarganya usai salat Id, dan mengenang hilangnya sembilan anggota keluarganya di lokasi likuefaksi Balaroa saat bencana melanda Kota Palu pada 28 September 2019 lalu. Foto: Ikram/Palu Poso

Lebaran kali ini tentunya terasa sangat berbeda bagi para penyintas bencana di Balaroa, Palu. Sebagian besar dari mereka yang selamat dari bencana alam berupa gempa bumi dan likuefaksi pada 28 September 2018 harus merayakan hari kemenangan kali ini tanpa sanak saudara yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut.

Hal ini jugalah yang dirasakan oleh Ritman (64), salah satu penyitas yang kini tinggal di tenda pengungsian. Rasa sedih dan duka yang mendalam tidak dapat lagi ditahannya usai melaksanakan salat Idul Fitri di masjid semi permanen Munzalan Mubarakan, Shelter Balaroa, Kota Palu, Rabu (5/6).

Ritman meneteskan air mata begitu kembali mengingat kenangannya berkumpul bersama seluruh keluarganya saat Hari Raya Lebaran tahun sebelumnya.

"Tak seperti dulu lagi, kebersamaan dengan keluarga disaat Lebaran begini tak dapat dirasakan lagi," ujarnya kepada Palu Poso usai pelaksanaan salat Idul Fitri di Shelter Balaroa, Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (5/6).

Sebagian besar anggota keluarga Ritman telah menjadi korban bencana gempa bumi dan likuefaksi yang memorak-porandakan Kelurahan Balaroa pada 28 September 2018.

"Dalam bencana itu, ada sembilan orang anggota keluarga saya meninggal. Mulai dari istri, anak, menantu, besan, dan cucu saya," ucapnya sambil meneteskan air matanya.

Ada pun, keluarganya yang meninggal dunia akibat kejadian tersebut adalah sang istri, Lusiana (53); seorang anaknya, Adi Saputra (16); menantunya, Hadija (25); kemenakannya, Hartini (50) dan Fitrib (24); sepupunya, Citra Ade (58); dan ketiga cucunya, yaitu Faidurahman (8), Salwa (11), serta Rendi (20).

Sementara anaknya yang lain, yaitu Aditya putra (31), Adlin Sasmita (29), Mahatir Muhamad (28), Mari Muhamad (23), dan Dewi Wahyuni (19) selamat. Saat bencana menerjang, mereka sedang berada di luar rumah.

Ritman kembali mengenang peristiwa bencana tersebut. Ia menceritakan, kala itu dirinya kurang sehat untuk pergi melaksanakan salat magrib di masjid. Karena kondisi fisiknya yang kurang maksimal, ia pun terpaksa melaksanakan salat di rumahnya sendirian saat salah seorang cucunya berpamitan untuk melaksanakan salat di masjid.

Namun, tak lama berselang setelah cucunya pergi dan azan baru saja berkumandang, Ritman terkejut ketika tiba-tiba ia merasakan gempa bumi dengan guncangan yang dahsyat.

Akibat gempa, bangunan rumahnya rubuh dan dirinya dihimpit oleh tembok. Pada saat itu, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa pasrah, sambil terus bertakbir dan berzikir.

Ketika dirinya mulai pasrah, tiba-tiba gempa susulan kembali terasa. Tanpa sadar, ia pun sudah berada di atas bumbungan rumah dan tembok yang menghimpit. Untungnya, tembok yang menghimpitnya sedikit longgar sehingga ia bisa merangkak keluar, menuju jalan besar dan akhirnya selamat.

"Saat itu, saya sudah tidak tahu apa-apa. Dan selamat hingga berada di tenda pengungsi ini," katanya.

Selama tiga hari, usai gempa menerjang, dirinya merasa seperti linglung dan terus berzikir menenangkan hati. Seiring waktu berjalan, kini dirinya sudah bisa menerima keadaan.

Ritman mencoba tetap tegar. Foto: Ikram/Palu Poso

Atas musibah itu, Ritman mengaku pasrah dan ikhlas dengan keadaan serta atas kepergiaan anggota keluarganya tersebut.

"Semua kita ini akan menuju kesana (kematian), takdir Tuhan tidak ada yang tahu. Kita (manusia) hanya menjalankan kehidupan ini dan harus bersabar," katanya dengan raut wajah sedih.

Meski Ritman masih memiliki keluarga lainnya, tetapi baginya sesama penyintas yang tinggal di Shelter Balaroa ia sudah dianggap sebagai keluarganya sendiri.

"Alhamdulillah, semua yang berada di sini terlihat kebersamaannya seperti keluarga sendiri baik itu saat melaksanakan salat tarawih sampai salat Idul Fitri saat ini," katanya.

Ritman mengatakan, meskipun dalam suasana duka kehilangan harta benda dan anggota keluarga, mereka semua yang tinggal di Shelter Balaroa masih kompak dan menyatu. Ia berpesan kepada pemerintah agar memerhatikan mereka dan segera merealisasikan hak-hak para penyintas.

Kini, Ritman pun telah memiliki keluarga baru. Ia dipertemukan dengan Harasia (45), seorang janda tiga anak di pengungsian. Ia pun menikahi Harasia pada 23 Desember 2018 dan tinggal bersama di tenda pengungsian.

Kontributor: Ikram

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.41