WhatsApp Image 2020-05-20 at 09.55.06.jpg
22 Mei 2020 19:43

Kisah Yaumil Masri, Pemuda Putus Kuliah Pendiri Sekolah Gratis di Sulteng

Kisah Yaumil Masri, Pemuda Putus Kuliah Pendiri Sekolah Gratis di Sulteng (987)
Yaumil Masri saat mengajar anak-anak desa dalam sekolah bermain di Sulteng. Foto: Istimewa
Berawal dari kerinduan agar generasi penerus bangsa dari daerah terpencil bisa setara pendidikannya dengan anak yang tinggal di perkotaan, Yaumil Masri mendirikan sekolah alam di pelosok pedesaan. Dia menamakan sekolah alam itu adalah Sikola Pomore yang hadir di Desa Dampal sejak 2015.
ADVERTISEMENT
Yaumil Masri adalah pendiri sekolah alam berbahasa Inggris tersebut dan kini dipercaya menjadi motor bagi anak-anak di Desa Dampal untuk bisa berbahasa Inggris.
Pria berusia 35 tahun kelahiran 23 Juli 1985 ini sejak lama ingin membangun niat mendirikan sekolah. Ia kemudian baru memiliki kesempatan melakukan penelitian pada 2014 dan memulainya pada 2015.
“Baru jalan 2015 dan sampai sekarang,” kata pria yang akrab disapa Yaumil itu.
Yaumil adalah anak muda dari Desa Dampal lulusan SMA Sirenja. Ia sempat melajutkan pendidikan di Universitas Tadulako. Sayangnya, ia tak menyelesaikan kuliahnya dan memilih bekerja di Kota Palu.
Pekerjaannya kala itu tidak menentu, kadang ia menjadi guru privat Bahasa Inggris dan sesekali ia menjual baju via online.
ADVERTISEMENT
Hasil dari bekerja itu, 80 persen ia tabung untuk mendirikan Sikola Pomore. Semenjak melakukan penelitian, ia sudah berkomitmen untuk menyimpan 80 persen hasil keringatnya untuk Sikola Pomore.
“Hidup dari 20 persen dan sampai sekarang hasil kerjaku 80 persen tetap saya simpan untuk Sikola Pomore,” kata Yaumil.
Pria murah senyum ini kemudian memulai Sikola Pomore seorang diri tanpa campur tangan dan bantuan orang lain. Ide ini sempat ia lontarkan kepada keluarganya, sayangnya tidak mendapat dukungan. Dasar inilah yang membuat Yaumil semakin bersemangat untuk melanjutkan idenya itu untuk kesetaraan pendidikan di daerahnya.
Pada 2015 itu, Yaumil mengawalinya dengan meyakinkan orangtua yang ada di desanya itu tentang pentinya Bahasa Inggris. Ia berjalan kaki dari rumah ke rumah.
ADVERTISEMENT
Usaha ini tentunya tidak langsung membuahkan hasil. Dari puluhan rumah yang disisir Yaumil di desanya, hanya dua anak yang datang dan diizinkan orangtuanya untuk memulai pembelajaran itu.
Kisah Yaumil Masri, Pemuda Putus Kuliah Pendiri Sekolah Gratis di Sulteng (988)
Yaumil Masri saat mengajar anak-anak desa dalam sekolah bermain di Sulteng. Foto: Istimewa
Lagi-lagi hal itu tidak membuat leleh semangat anak bungsu dari enam bersaudara ini. Baginya, dua pasang telinga yang mendengarkan pengajarannya hari itu tidak akan sia-sia begitu saja.
“Dua anak ini pasti bercerita sama teman-temannya dan saya pun terus meyakinkan orangtua karena di desa saya pada waktu itu pemahaman mereka masih sangat minim tentang pentingnya Bahasa Inggris,” kata Yaumil.
Pekan demi pekan pun berjalan, jumlah siswa di Sikola Pomore terus bertambah hingga jumlah sekarang mencapai 30 murid untuk usia Sekolah Dasar (SD) dan 10 murid untuk untuk usia Sekolah Menengah Atas (SMA).
ADVERTISEMENT
Jadwal pembelajaran Sikola Pomore yakni pada Sabtu dan Minggu dimulai pukul 14.00 WITA hingga pukul 16.30 WITA. Sistem pembelajaran Sikola Pomore pun menggunakan kurikulum sekolah alam Indonesia.
Dijelaskannya, dalam sistem pembelajaran dari 30 murid usia sekolah dasar akan dibagi menjadi kelompok kecil. Lima murid akan diajar oleh relawan sesuai dengan bidang dan mata pelajaran yang telah diatur.
Yaumil punya keinginan untuk membuat Sikola Pomore ini memiliki izin pendirian satuan pendidikan, di mana akan ada lulusan tiap tahunnya seperti sekolah negeri maupun swasta pada umumnya.
“Mungkin nanti pelan-pelan diurus setelah pandemi ini berakhir,” ujar Yaumil.
Hingga saat ini, Yaumil percaya banyak orang baik yang ada di dunia ini. Ia yakin Sikola Pomore terus akan maju sesuai dengan komitmen awal kesetaraan pendidikan. Ia yakin akan banyak orang yang mendukung harapannya itu. Ia juga percaya Tuhan tidak buta dan membiarkan dia berjalan tanpa ada orang-orang baik yang dikirim untuk membantunya.
ADVERTISEMENT
“Alhamdulillah kami sering datang orang-orang asing untuk mengajar. Beberapa orang juga memberikan bantuan berupa buku bacaan untuk anak-anak,” cerita Yaumil.
Anak dari pasangan Almarhum Masri dan Masida ini mengakui di tengah pandemi COVID-19 saat ini sangat sulit bagi anak-anak untuk belajar. Keterbatasan teknologi yang dimiliki anak di Desa Dampal jadi kendala untuk belajar via online.
Meskipun begitu, Yaumil tidak habis akal. Ia kemudian melakukan kontrol bagi murid Sikola Pomore. Sesekali ia datang ke Desa Dampal untuk melihat perkembangan muridnya.
“Kalau untuk usia SMA pembelajaran setiap hari ada melalui WA, tetapi kalau anak usia SD kami tetap kontrol dan fokuskan mereka untuk lebih banyak waktu di rumah bersama keluarga,” katanya.
Kisah Yaumil Masri, Pemuda Putus Kuliah Pendiri Sekolah Gratis di Sulteng (989)
Suasana belajar mengajar Anak-anak sikola pomore di Sulteng. Foto: Istimewa
Sekelumit Mengenai Sikola Pomore
ADVERTISEMENT
Sikola Pomore merupakan sekolah alam di Desa Dampal, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, yang didirikan sejak 2015. Sekolah yang digagas oleh Yaumil Masri ini diambil dari Bahasa Kaili yang artinya Sekolah Bermain.
Yaumil memberikan nama Sikola Pomore karena ia berharap di sekolah ini siswa akan menemukan pembelajaran yang berbeda dengan sekolah pada umumnya yang belajar di dalam ruang kelas.
“Mengubah pola belajar agar anak-anak itu tidak cepat bosan, belajar di alam lebih asik dari pada harus berada dalam ruangan,” kata Yaumil.
Sekolah ini akan membuat anak-anak dekat dengan alam dan solusi berkelanjutan.
Kisah Yaumil Masri, Pemuda Putus Kuliah Pendiri Sekolah Gratis di Sulteng (990)
Suasana belajar mengajar Anak-anak sikola pomore di Sulteng. Foto: Istimewa
Menghadirkan Pelajaran Keterampilan dan Pelajaran Umum Lainnya
Seiring berjalannya waktu, Sikola Pomore tidak hanya mengajar Bahasa Inggris kepada murid-muridnya, namun juga menghadirkan pembelajaran keterampilan dan pelajaran umum lainnya.
ADVERTISEMENT
Ada pelajaran matematika, Bahasa Indonesia, Komputer, musik dan keterampilan lainnya. Yaumil juga menyisipkan pendidikan pertanian dan perkebunan, kelautan dan perikanan dalam pembelajaran di Sikola Pomore.
Sebagai salah satu daerah penghasil pertanian dan perkebunan dengan hasil laut yang melimpah jadi alasan Yaumil menghadirkan mata pelajaran itu untuk anak murid di Sikola Pomore.
Baginya, memberikan pembelajaran tersebut tidak hanya menggeser kebosanan murid dari pelajaran umum di sekolah mereka, namun juga mendidik mereka untuk menjaga dan merawat alam.
“Sesekali kami ke sawah, ke kebun dan ke laut untuk belajar di sana. Kami menanam, mengambil ikan dan melakukan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan hal-hal itu. Jadi sambil memberikan pengetahuan, ada praktek langsung yang kami lakukan,” kata Yaumil.
ADVERTISEMENT
Tidak hanya itu, Sikola Pomore juga memiliki mata pelajaran komputer di mana anak-anak belajar tentang pengoperasian komputer.
Sikola Pomore memiliki beberapa unit komputer dan laptop yang fungsinya untuk pembelajaran murid di Sikola Pomore.
“Saya rasa komputer juga penting bagi mereka untuk kedepannya sehingga diadakan pelajaran ini, kenapa kami pakai laptop juga karena sesuai dengan adanya sekolah ini ya belajar di alam, itu artinya kalau pada saatnya kita mau belajar komputer di alam terbuka ya silahkan bawa laptop,” jelasnya.
Kisah Yaumil Masri, Pemuda Putus Kuliah Pendiri Sekolah Gratis di Sulteng (991)
Suasana belajar mengajar Anak-anak sikola pomore di Sulteng. Foto: Istimewa
Punya Lahan Sawah Sendiri
Tidak hanya belajar tentang pertanian dan praktek langsung, kini Sikola Pomore sudah memiliki beberapa petak sawah padi sendiri.
Meskipun tidak begitu luas, setidaknya di lahan itu para murid melakukan praktek pelajaran pertanian. Dan, yang paling membanggakan, hasil dari pertanian dan perkebunan itu dibagi bersama dengan beberapa warga yang terlibat untuk merawat persawahan itu.
ADVERTISEMENT
“Pada masa panen, murid bagi hasil dengan orang yang membantu mengelola persawahan Sikola Pomore, alhamdulillah sawah itu bisa bermanfaat juga untuk orangtua murid dan orang lain,” kata Yaumil.
Kisah Yaumil Masri, Pemuda Putus Kuliah Pendiri Sekolah Gratis di Sulteng (992)
Suasana belajar mengajar Anak-anak sikola pomore di Sulteng. Foto: Istimewa
Punya 100 Lebih Relawan Sebagai Tenaga Pengajar
Yaumil mengawali Sikola Pomore dengan sendirian. Namun, seiring berjalannya waktu banyak anak muda dari berbagai lulusan pendidikan tinggi di Sulawesi Tengah yang tergerak untuk menjadi tenaga pengajar di Sikola Pomore.
Relawan-relawan pengajar itu didata dan dibagi jadwal mengajarnya oleh Yaumil. Setiap Jumat, sebanyak delapan relawan dari Kota Palu akan berangkat ke Desa Dampal untuk mengajar pada Sabtu dan Minggu.
“Mereka tinggal ditempat yang sudah saya sediakan dan mereka akan mengajar dengan sukarela sesuai dengan pengetahuan dan bidang mereka. Untuk makan, saya yang siapkan tetapi dibantu oleh ibu-ibu yang ada di Desa Dampal sehingga tugas para relawan ini hanya mengajar dan tidak perlu disibukkan lagi dengan mencari makan,” kata Yaumil.
ADVERTISEMENT
Selain memiliki relawan sebagai tenaga pengajar, Yaumil juga menggaji satu staf Sikola Pomore dan satu desain khusus untuk mengelola akun media sosial Sikola Pomore.
Bagi Yaumil, untuk saat ini bekerja sendiri tidaklah mudah sehingga ia perlahan sudah harus menggaji orang untuk membantunya meningkatkan kualitas pendidikan di Sikola Pomore.
“Mungkin kedepan bukan hanya dua orang yang saya gaji untuk membantu Sikola Pomore ini dan untuk saat ini saya sesuaikan dengan kemampuan saya dan kerja mereka juga,” sebut Yaumil.
Kisah Yaumil Masri, Pemuda Putus Kuliah Pendiri Sekolah Gratis di Sulteng (993)
Suasana belajar mengajar Anak-anak sikola pomore di Sulteng. Foto: Istimewa
Punya Perpustakaan di Tiga Daerah
Selain membuka sekolah alam di Desa Dampal, Yaumil kemudian mengembangkannya dengan membuka perpustakaan berbasis alam di dua tempat lain yakni di Kecamatan Tawali, Kota Palu dan di Kabupaten Sigi. Sesekali Yaumil mengadakan perpustakaan keliling menuju desa-desa terpencil di Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala.
ADVERTISEMENT
Keinginan Yaumil untuk memajukan generasi muda melalui pendidikan di pelosok Sulawesi Tengah m sangat besar. Diakuinya, masih banyak daerah yang belum memiliki perpustakaan sehingga penting diadakan perpustakaan keliling.
Sikola Pomore juga beberapa kali membagikan buku bacaan untuk anak-anak di daerah terpencil di Sulawesi Tengah, harapannya anak-anak yang ada di Desa Dampal bisa berbagi ilmu dengan anak-anak lainnya melalui buku bacaan,” katanya.
Kisah Yaumil Masri, Pemuda Putus Kuliah Pendiri Sekolah Gratis di Sulteng (994)
Menerima Peserta Didik Berkebutuhan Khusus
Yaumil tidak membatasi siapa saja yang mau belajar berbahasa Inggris dan belajar di Sikola Pomore. Dari 40 murid Sikola Pomore, dua di antaranya adalah anak berkebutuhan khusus.
Cara mengajar dua anak berkebutuhan khusus ini diakui Yaumil tidaklah mudah karena sekolah harus memiliki tenaga pengajar yang ahli untuk mendidik anak berkebutuhan khusus ini.
ADVERTISEMENT
“Alhamdulillah kami punya relawan sehingga dua anak berkebutuhan khusus ini tetap menerima pembelajaran yang sama dengan anak yang lainnya, meskipun pembelajarannya sama tetapi kami buat khusus untuk dua anak ini,” jelasnya.
Kisah Yaumil Masri, Pemuda Putus Kuliah Pendiri Sekolah Gratis di Sulteng (995)
Suasana ceria Anak-anak sikola pomore di Sulteng. Foto: Istimewa
Memiliki Dana Kesehatan Khusus untuk Murid
Perhatian Yaumil tidak berhenti hanya di pendidikan dan pengetahuan saja. Ia kemudian menyisihkan keuangan Sikola Pomore untuk fasilitas kesehatan bagi murid Sikola Pomore.
Baginya hal ini sangat penting, mengingat selain pendidikan yang terpenting adalah kesehatan.
“Dana kesehatan untuk anak-anak dan juga untuk relawan yang pergi mengajar,” kata Yaumil.