Pencarian populer
PUBLISHER STORY

Pengungsi Korban Tsunami di Palu Antusias Menyambut Pemilu

Lokasi pengungsian korban bencana Palu Sport Center Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Foto: PaluPoso/Firman
Meski telah tujuh bulan hidup dalam kekurangan akibat seluruh harta benda mereka lenyap ditelan likuefaksi, warga Perumnas Balaroa yang kini harus tinggal di tenda pengungsian di lokasi Sport Center Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Sulawesi Tengah, masih tetap antusias untuk menyalurkan hak politiknya pada 17 April nanti.
ADVERTISEMENT
Minggu (14/4), PaluPoso kembali mendatangi shelter yang dihuni 418 kepala keluarga tersebut.
“Meskipun, usia saya sudah 67 tahun lebih, namun semangat untuk mencoblos tetap ada, meskipun kehidupan kami di tenda pengungsian ini sangat kekurangan. Tapi demi menentukan nasib bangsa ini ke depannya, ini harus dilakukan," kata Usman (67) salah seorang penyintas yang tinggal di shelter Balaroa.
Hal senada diutarakan Yusuf (30), pedagang barang campuran di pasar Inpres Manonda, Kota Palu, yang harus memulai kembali usaha dagangnya dari awal setelah seluruh rumah dan harta bendanya di Perumnas Balaroa lenyap ditelan likuefaksi 28 September 2018. Ia mengatakan walaupun kini bermukim di tenda pengungsian, namun untuk urusan Pemilu, dia tidak akan absen.
ADVERTISEMENT
"Hidup itu harus dijalani, sekuat apapun cobaan yang menimpa, kita harus semangat. Apalagi dalam hal menentukan pilihan kepada calon pemimpin, saya harus bersungguh-sungguh. Karena sangat menentukan arah kebijakan yang berpihak kepada rakyat kecil, " ujarnya.
Dua warga pengungsi Balaroa mengaku siap menentukan hak pilihnya pada Pemilu yang digelar pada 17 April 2019, di lokasi Sport Center Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Foto: PaluPoso/Firman
Fitria (28) juga warga Perumnas Balaroa yang kini harus berpanas-panasan hidup di dalam tenda yang hanya berukuran 4x4 meter tersebut, mengaku tetap antusias untuk menyalurkan hak pilihnya pada pemilu kali ini.
Ia mengakui memang seluruh harta benda termasuk berkas-berkas penting termasuk KTP hilang ditelan likuefaksi, pemerintah daerah dan penyelenggara pemilu telah memberikan kompensasi untuk kemudahan dalam pengurusan surat-surat penting tersebut.
“Jadi rugi sekali kalau tidak memilih. Sekalian reuni bersama di TPS, sedikitnya nanti dapat menghilangkan kejenuhan hidup di dalam tenda pengungsian," ujarnya.
ADVERTISEMENT
Sementara koordinator shelter pengungsian Sport Center Balaroa, Agus Ananto (46), tetap mendukung pelaksanaan pesta demokrasi ini karena yang akan menentukan siapa pemimpin ke depannya adalah masyarakat.
"Di shelter Balaroa hampir seratus persen ikut Pemilu, meskipun mayoritas kehilangan dokumen berharga, seperti KK hingga KTP. Namun pemerintah memberikan kemudahan dalam pengurusan kembali surat berharga kami. Olehnya jangan disia-siakan momen lima tahunan untuk memilih pemimpin yang terbaik," katanya.
Agus mengatakan ada 20 unit tempat pemungutan suara (TPS) yang disediakan di shelter Balaroa.
Penulis: Firman (Kontributor)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.80