Yang Paling Penting Petaninya, Cerita Muliadi Widodo di Balik Secangkir Kopi
·waktu baca 3 menit

Bagi banyak orang, kopi berhenti di cangkir. Rasanya enak atau tidak, pahit atau asam, lalu selesai. Namun bagi Muliadi Widodo pendiri RDX Hobby di Serpong, Tangerang, perjalanan kopi justru dimulai jauh sebelum air panas menyentuh bubuk kopi.
Di sela omakase kopi yang berlangsung hampir empat jam di rumahnya di Serpong, Minggu (10/5/2026), Muliadi berkali-kali mengembalikan percakapan ke satu hal yang menurutnya paling menentukan kualitas kopi: petani.
“Yang paling penting itu petaninya sebenarnya,” kata Muliadi.
Pandangan itu lahir bukan dari teori semata. Muliadi mengaku kerap mendatangi langsung kebun kopi di berbagai daerah. Ia tidur di lahan kopi milik petani, mendatangi desa-desa pegunungan, hingga belajar memahami bagaimana kopi dipanen dan diproses sejak masih berupa buah.
“Saya suka alam, saya suka naik gunung. Jadi di kopi itulah saya sekalian menyalurkan hobi saya naik gunung,” ujarnya.
Ia menyebut pernah mendatangi petani di Temanggung, Sarongge, hingga kawasan Masurai di Jambi. Dari perjalanan-perjalanan itu, ia justru menemukan bahwa banyak petani Indonesia sebenarnya menghasilkan kopi berkualitas, tetapi tidak memiliki akses edukasi yang cukup soal pengolahan pascapanen.
Salah satu cerita yang paling membekas baginya adalah ketika bertemu petani kopi yang bahkan tidak pernah mencicipi hasil kebunnya sendiri.
Menurut Muliadi, sebagian petani terbiasa menjual seluruh kopi terbaik mereka, sementara untuk konsumsi sehari-hari justru meminum kopi saset murah.
“Mereka memiliki biji bagus, tapi mereka kopinya itu kopi saset,” katanya.
Ia kemudian mulai menjelaskan bagaimana kualitas kopi sebenarnya bisa rusak sejak tahap panen. Salah satu persoalan yang sering ia temui adalah kebiasaan mencampur buah kopi matang dan setengah matang dalam satu karung.
Menurutnya, banyak petani harus berjalan jauh menuju kebun sehingga buah kopi yang dipetik disimpan berhari-hari sebelum diproses. Tanpa disadari, fermentasi sudah terjadi di dalam karung dan memengaruhi rasa kopi.
“Fermentasi kopi sudah terjadi, buahnya sudah membusuk,” ujarnya.
Menurut Muliadi, persoalan kopi Indonesia sering kali bukan terletak pada tanah atau varietasnya, melainkan pada minimnya pendampingan dan edukasi.
Ia mencontohkan bagaimana sebagian petani masih mencampur robusta dan arabika demi mengejar kuantitas produksi. Ada pula yang memalsukan asal usul dan lain lain, untuk meraup keuntungan. Padahal menurutnya, praktik-praktik seperti itu justru merusak karakter asli kopi.
“Kalau roasternya sudah enggak benar, kacau,” katanya.
Bagi Muliadi, roasting bukan sekadar membakar biji kopi hingga berubah warna cokelat. Ia menyebut roasting memiliki banyak profiling: suhu, waktu, hingga karakter rasa apa yang ingin dimunculkan.
“Lu mau keluarin apa? Manisnya, asemnya, cleannya, kompleksitasnya, body-nya,” ujarnya ketika menjelaskan proses roasting.
Ia bahkan percaya roasting yang baik bisa “menyelamatkan” kopi yang kualitas dasarnya kurang baik. Namun sebaliknya, roasting yang buruk dapat merusak kopi berkualitas tinggi.
Meski begitu, ia tetap menilai petani memegang peranan terbesar. Karena itu, Muliadi mengaku lebih senang menghabiskan waktu berbincang dengan petani dibanding sekadar mengikuti tren coffee shop.
Baginya, kopi yang baik lahir dari rantai panjang yang dimulai dari gunung, petani, proses panen, fermentasi, hingga roasting. Dan jika salah satu bagian rusak, rasa kopi di cangkir pun ikut berubah.
“Indonesia itu sebenarnya enggak kalah,” katanya.
Di tengah maraknya budaya ngopi dan menjamurnya coffee shop, Muliadi justru melihat tantangan terbesar dunia kopi Indonesia hari ini bukan pada bagaimana menjual kopi, melainkan bagaimana membuat petani lebih dihargai dan lebih memahami kualitas kopi yang mereka tanam sendiri.
Karena bagi Muliadi, secangkir kopi yang baik sebenarnya dimulai jauh sebelum kopi diseduh.
