Bola & Sports
·
10 Juni 2021 12:42
·
waktu baca 5 menit

Fisioterapi, Dunia Sunyi para Juara (1): Cedera Boaz Salossa

Konten ini diproduksi oleh Pandangan Jogja
Fisioterapi, Dunia Sunyi para Juara (1): Cedera Boaz Salossa (40992)
Boaz Salossa saat membeli Timnas Indonesia. Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Pertandingan baru berjalan 2 menit ketika Boaz Solossa hanya bisa terkapar lemah di tengah lapangan Stadion Mandala. Di hadapan ribuan penonton, sang kapten hanya bisa meringis menahan sakit di lutut kirinya. Untuk kesekian kalinya, Boaz harus menanggung cedera berat setelah dijegal keras oleh gelandang Sriwijaya FC, Lim Joo Sik pada ajang Liga Indonesia 28 Januari 2012 silam.
ADVERTISEMENT
Boaz tak bisa melanjutkan permainan yang baru saja dimulai. Dia mesti ditandu keluar lapangan, dan merelakan pertandingan penting melawan Sriwijaya FC itu.
Meski pertandingan berakhir dengan kemenangan untuk Persipura dengan skor 2-1, tapi Boaz dan juga pendukung Persipura tak sepenuhnya senang. Boaz mesti menjalani perawatan yang cukup lama dan melewatkan banyak laga penting berikutnya.
Lagi-lagi, Boaz harus masuk ke ruang operasi. Memang bukan yang pertama kali, karena sebelumnya Boaz pernah mengalami cedera yang bahkan lebih parah ketika membela timnas Indonesia pada 2004 melawan Singapura dan pada 2007 melawan Hong Kong, tapi tetap saja hal itu menjadi sesuatu yang mendebarkan untuk dia. Sukses tidaknya operasi, sangat menentukan kariernya ke depan.
Karena cedera yang dialami, Boaz mesti menjalani operasi anterior cruciate ligament (ACL) untuk memperbaiki sendi di dalam lututnya. Bobby Nelwan, dokter bedah tulang di RS Omni Medical Jakarta adalah dokter yang menangani operasi Boaz. Dan seperti yang diharapkan, operasi Boaz yang memakan waktu enam jam berakhir sesuai dengan yang diharapkan.
ADVERTISEMENT
Tapi meski operasi berjalan lancar, bukan berarti Boaz bisa langsung bermain dalam waktu dekat. Dia masih harus menjalani masa penyembuhan dan pemulihan setidaknya enam hingga tujuh bulan. Untuk mempercepat proses penyembuhan, Boaz mesti menjalani proses fisioterapi.
Dalam tim medis fisioterapi itu, ada sosok Mohammad Ali Imron, seorang fisioterapis yang kini menjadi ketua Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI). Ali Imron dan timnya, bertugas untuk mempercepat proses penyembuhan dan pemulihan Boaz supaya bisa segera merumput lagi.
“Saat itu kondisi Boaz memang cukup parah, karena sampai harus menjalani operasi ligamen,” kata Ali Imron ketika ditemui di Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, tempatnya kini mengajar, Rabu (2/6).
Beberapa pekan pascaoperasi, sebenarnya kondisi lutut Boaz sudah membaik, bahkan Boaz sudah merasakan sakit. Tapi dia belum diizinkan untuk bermain karena kondisinya sebenarnya belum sembuh total. Jika dipaksakan bermain, dia akan sangat rentan untuk cedera lagi, bahkan bukan tidak mungkin lebih parah dari sebelumnya.
ADVERTISEMENT
Saat itu, rumah sakit tempat Ali Imron bekerja, yakni RS Omni Medical Jakarta memang bekerja sama dengan Persipura, sehingga Imron dan timnya kerap menangani atlet-atlet sepak bola nasional. Selain Boaz, Ali Imron dan timnya juga pernah menangani beberapa pemain bintang lain seperti Ricardo Salampessy, Victor Igbonefo, hingga Imanuel Wanggai.
“Dalam dunia olahraga fisioterapi itu sangat vital, tapi di Indonesia belum terlalu populer,” ujarnya.
Fisioterapi dan Olahraga
Fisioterapi, Dunia Sunyi para Juara (1): Cedera Boaz Salossa (40993)
Ilustrasi salah satu metode fisioterapi. Foto: Pixabay
Dalam dunia olahraga, posisi fisioterapis sangat penting terutama untuk mempercepat proses penyembuhan para atlet yang cedera. Sebagaimana yang jamak diketahui, atlet dan cedera merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Fisioterapis akan membuat program-program latihan bagi para atlet yang mengalami cedera, sehingga bisa mengembalikan lagi gerak dan fungsi tubuhnya secepat mungkin. Mereka juga yang memberikan penilaian terhadap cedera-cedera yang dialami atlet. Bahkan, fisioterapis berperan sebagai konsultan untuk para atlet tentang asupan nutrisi yang mereka butuhkan.
ADVERTISEMENT
“Fisioterapis juga yang menganalisis situasi dan kondisi seorang pemain, mereka sedang dalam kondisi fit, bisa bermain atau tidak dan berapa batas waktu yang mampu dilewati mereka dalam permainan,” kata Ali Imron.
Fisioterapi bukan hanya dibutuhkan untuk mempercepat proses penyembuhan atlet-atlet yang mengalami cedera. Fisioterapi juga digunakan untuk mengefisienkan gerakan tubuh sang atlet, bagaimana dengan energi seminimal mungkin bisa menghasilkan gerakan yang paling optimal.
Karena itu, Ali Imron mengatakan fisioterapi juga menjadi bagian yang sangat penting di dalam dunia olahraga, terutama untuk meningkatkan endurance atau daya tahan atlet. Dalam konteks sepak bola, hal ini berguna untuk membuat pemain bisa tetap bugar dan tampil maksimal selama 90 menit penuh.
“Untuk jenis olahraga lain juga sama, karena fisioterapi bukan hanya digunakan untuk mengatasi atlet yang cedera saja,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Di luar negeri, negara-negara yang dunia olahraganya maju, menurut Ali Imron selalu memiliki fasilitas fisioterapi yang mumpuni. Di Asia Tenggara, Ali Imron mencontohkan Thailand. Thailand menurutnya memiliki fasilitas fisioterapi yang sudah jauh lebih maju yang didukung dengan teknologi-teknologi terbaru. Hasilnya dapat dilihat dari hasil SEA Games, dimana Thailand menjadi salah satu negara yang paling kuat dengan peringkat yang nyaris selalu lebih baik dari Indonesia.
Namun pelibatan fisioterapi dalam dunia olahraga di Indonesia menurutnya kini perlahan sudah menuju ke arah yang lebih baik. Misalnya dalam dunia sepak bola, dimana setiap klub saat ini wajib memiliki fisioterapis.
“Bahkan sampai tim liga 2, jadi saya kira sudah semakin sadar kalau fisioterapi ini sesuatu yang penting,” kata Ali Imron.
ADVERTISEMENT
Fisioterapi Bukan Sekadar Pijat
Fisioterapi, Dunia Sunyi para Juara (1): Cedera Boaz Salossa (40994)
Sosok Mohammad Ali Imron, ketua Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI) saat menangani pasien fisioterapi. Foto: Dokumen Ali Imron
Fisioterapi kerap disamakan dengan pijat. Padahal, keduanya merupakan sesuatu yang berbeda. Memang, pijat menjadi salah satu metode yang digunakan dalam fisioterapi, tapi itu bukan satu-satunya.
Memijat atau mengurut lebih sering dilakukan oleh masseur yang telah bersertifikat. Biasanya, atlet yang dipijat juga bukan atlet yang sedang cedera. Pijat atau urut ini dilakukan kepada atlet untuk melemaskan dan merilekskan kembali otot-otot yang pegal dan lelah setelah bertanding sehingga dia bisa bugar lagi.
“Memang salah satu keterampilan pada awal fisioterapi di Indonesia adalah menggunakan pijat sebagai metode, tapi itu bukan satu-satunya yang digunakan,” kata Ali Imron.
Tugas seorang fisioterapis sebenarnya justru lebih banyak untuk menganalisis sebuah cedera dan melakukan sejumlah tes atau pemeriksaan. Setelah berhasil menarik kesimpulan terkait cedera yang dialami atlet, seorang fisioterapis kemudian memberikan program latihan yang telah dia susun berdasarkan hasil analisisnya.
ADVERTISEMENT
“Fisioterapis justru hampir tidak pernah memijat, karena pemijatan pada bagian tubuh yang cedera justru dapat menghambat kesembuhan pasien, bahkan bisa membuatnya makin parah,” ujarnya.
*Ini adalah seri pertama dari 3 serial yang memotret dunia fisioterapi di Indonesia.