Tekno & Sains
·
19 November 2020 12:57

InnoXJogja: Pameran Inovasi Teknologi Virtual Terbesar Pertama di Jogja

Konten ini diproduksi oleh Pandangan Jogja
InnoXJogja: Pameran Inovasi Teknologi Virtual Terbesar Pertama di Jogja  (257494)
Foto: Istimewa
Block71 Yogyakarta, sebuah ecosystem builder dan global connector, bekerja sama dengan enam inkubator startup lain di Jogja menggelar pameran inovasi teknologi secara virtual terbesar pertama di Jogja: InnoXJogja 2020.
ADVERTISEMENT
Enam inkubator startup lain yang tergabung dalam kolaborasi tersebut di antaranya Jogja Digital Valley (JDV), Amikom Business Park, Centrino UKDW, Creative-HUB FISIPOL UGM, Innovative Academy UGM, serta IBISMA UII. Acara ini digelar selama empat hari, sejak 17 November sampai 20 November 2020.
“Ini pertama kali digelar oleh Block71, dan menjadi yang pertama di Yogyakarta,” ujar Manajer Program Block71, Reni Wahyuni Ike Lestari, Selasa (17/11).
Ada beberapa agenda utama selama empat hari gelaran InnoXJogja 2020, di antaranya adalah main talkshow yang menghadirkan sekitar 50 pembicara yang dibagi dalam 15 panel diskusi.
“Itu dilakukan selama empat hari full,” lanjutnya.
Ada juga pitching competition yang diikuti oleh sekitar 15 peserta Jogja dari enam inkubator Jogja. Nantinya, startup-startup yang ada di Jogja juga akan ditemukan dengan calon investor yang harapannya akan ada startup yang mendapatkan pendanaan.
ADVERTISEMENT
Melalui platform InnoXJogja, peserta juga bisa terhubung dengan dengan pegiat teknologi dari tempat lain, seluruh Asia. Platform yang bisa diakses di https://innoxjogja.block71.co/ tersebut, menurut Reni didesain sangat ringan sehingga mudah digunakan.
“Dan mereka bisa menggunakan fitur sepert add friends, jadi bayangannya itu kayak gabungan LinkedIn dan Facebook,” ujarnya.
Reni berharap, dengan adanya InnoXJogja ini bisa membuat ekosistem startup di Jogja yang saling terkait atau terkoneksi satu sama lain. Itu kenapa, event ini juga digelar secara kolaboratif yang merangkul sejumlah pihak dari perusahaan, kampus, pemerintah, serta inkubator.
“Jadi harapannya ke depan kita sudah punya semacam benchmark, gimana caranya kita membuat ekosistem startup yang bisa saling mendukung satu sama lain,” ujar Reni.
ADVERTISEMENT
Harapan setelah event InnoXJogja 2020 selesai adalah dapat menghasilkan semacam laporan yang berisi tentang situasi ekosistem startup di Jogja. Seperti visi pendanaan dan sektor apa saja yang paling banyak startup-nya. Laporan acara, selain menjadi pedoman pengembangan startup juga bisa menghadirkan investor lebih banyak ke Jogja untuk memberikan pendanaan kepada para startup.
Startup Jogja di Tengah Pandemi
Reni berharap setelah adanya InnoXJogja, akan lebih banyak lagi talent dan investor yang masuk ke Jogja, sehingga Yogya bisa menjadi baromater startup di Indonesia yang sekarang, bisa dibilang, masih dipegang oleh Jakarta dan Bandung.
Kendati masih banyak yang perlu ditingkatkan, namun menurut Reni ekosistem startup Jogja menunjukkan tren yang positif, bahkan di tengah pandemi seperti sekarang. Beberapa startup, terutama yang berkecimpung di dunia pariwisata memang dibuat pontang-panting oleh pandemi, tapi karena pandemi juga semakin banyak startup-startup baru bermunculan. Ada yang di bidang pendidikan, makanan, pertanian, kesehatan, dan sebagainya.
ADVERTISEMENT
“Semakin banyak justru setelah pandemi, dan bermacam-macam dari berbagai bidang. Ada yang dari edutech, agritech, jadi hampir semuanya itu ada,” lanjutnya.
Perkembangan menggembirakan juga dialami oleh startup-startup lama. Banyak startup yang semakin besar, jangkauannya semakin luas, dan produknya semakin banyak digunakan.
“Jadi, would say, Jogja is a very unique city. Meski tidak dipungkiri, tetap ada beberapa startup yang juga kesulitan seperti yang bergerak di pariwisata,” ujarnya.
Melihat perkembangan yang ada, Reni optimis dengan perkembangan startup di Jogja meski situasi perekonomian sedang pelik. Di situasi pandemi atau tidak, investor menurutnya akan terus mencari startup-startup yang potensial, tinggal bagaimana startup melihat peluang yang ada dengan setiap situasi yang selalu dinamis.
“Misalnya yang paling dekat, Kopi Kenangan di saat pandemi begini dia malah dapat funding. Kemudian Tani Hub juga baru saja dapat funding,” ujar Reni.
ADVERTISEMENT
Belum Ada Visi Pendanaan yang Jelas
Kendala utama dalam mengembangkan ekosistem startup di Jogja menurut Reni adalah belum adanya representasi visi pendanaan atau venture capitals yang jelas. Hal ini kemungkinan juga disebabkan karena belum semua pasar familiar dengan penggunaan teknologi, berbeda dengan di Jakarta dan Bandung yang tingkat literasi digital masyarakatnya menurut dia sudah sangat tinggi.
“Di Jogja mestinya berangsur-angsur membaik ya, dengan adanya support dari pemerintah, kampus, dan pihak-pihak lain,” ujarnya.
Selain membuat benchmark pendanaan, dia juga berharap pemerintah turut mendukung perkembangan ekosistem startup di Jogja salah satunya dengan mempermudah regulasi perizinan. Atau akan lebih baik lagi jika pemerintah juga membuka kesempatan bekerja sama dengan startup untuk menggunakan produk-produk mereka.
ADVERTISEMENT
Jika pemerintah membuka kesempatan untuk bekerja sama, menurutnya akan lebih banyak lagi startup yang lahir dan berkembang di Jogja.
“Apalagi kemarin saat beraudiensi dengan Sri Sultan HB X, beliau itu sudah paham betul kalau Jogja itu butuh digitalisasi dalam berbagai hal,” ujar Reni. (Widi Erha Pradana / YK-1)