Tekno & Sains
·
18 Oktober 2020 12:53

Jebakan Setrum Jadi Senjata Makan Tuan, Simbol Putus Asa Petani Lawan Tikus

Konten ini diproduksi oleh Pandangan Jogja
Jebakan Setrum Jadi Senjata Makan Tuan, Simbol Putus Asa Petani Lawan Tikus (1959)
Petani di Blora tewas akibat tersengat jebakan tikus. Foto: Dok: istimewa
Jebakan tikus yang terbuat dari alat setrum justru kerap mencelakai petani itu sendiri. Tidak jarang, Jebakan tikus setrum ini yang dipasang untuk mengendalikan hama tikus justru memakan korban jiwa. Kemarin, Mbah Jamal dan istrinya menjadi korban jiwa setelah terkena alat setrum yang dipasang di sebuah desa di Blora. Padahal, jebakan dari setrum itu dinilai tidak efektif untuk mengendalikan hama tikus.
ADVERTISEMENT
Hal itu diungkapkan oleh Witjaksono, Kepala Laboratorium Entomologi Terapan, Fakultas Pertanian UGM. Menurutnya, alat setrum ini tidak efektif karena tikus tidak selalu bersinggungan dengan kabel berlistrik yang dipasang di sawah tersebut.
“Kapaupun ada yang kena, sedikit lagi,” kata Witjaksana ketika dihubungi, Sabtu (17/10).
Masih banyaknya petani yang menggunakan alat setrum untuk mengendalikan hama tikus ini disinyalir karena petani mengira itu adalah senjata pamungkas untuk menghadapi tikus.
“Padahal sebetulnya tidak efektif,” ujarnya.
Tikus menurutnya memang menjadi salah satu hama yang paling membuat pusing para petani. Bahkan di Sleman barat menurutnya banyak lahan yang dibiarkan tidak diolah karena petani sudah putus asa menghadapi serangan tikus meski ketersediaan air mencukupi. Bisa dikatakan jebakan setrum listrik adalah simbol keputusasaan petani perang melawan tikus.
ADVERTISEMENT
“Itu karena judeg, dan hampir putus asa. Macam-macam cara sudah dicoba, tetapi tidak mempan,” lanjutnya.
Gropyokan dan Penanaman Serempak Efektif Sampai 80 Persen
Menurut Witjaksono, masalah sebenarnya sebenarnya bukan pada teknik pengendalian hama yang salah. Tetapi, pada cara pelaksanaan teknik pengendalian yang kurang pas. Menurut dia, pengendalian hama tikus yang paling efektif justru dilakukan sebelum musim panen dan pada pola tanamnya.
Karena tikus itu menyukai padi yang bunting, maka dengan pola tanam petani yang tidak serempak pada satu hamparan membuat tikus tidak pernah habis. Pasalnya, mereka akan selalu mendapatkan suplai makanan dari padi yang ditanam petani.
“Karena akan ada berkali-kali pada fase bunting di suatu hamparan, pada petak-petak yang berlainan. Jadi tikus akan selalu mendapat suplai makanan,” ujar Witjaksono.
ADVERTISEMENT
Karena itu, pola tanam padi yang paling tepat menurutnya dilakukan secara serempak dalam skala luas. Pola tanam seperti itu menurutnya sangat berperan dalam pengendalian hama dan penyakit, bukan hanya tikus saja.
Cara pengendalian hama tikus yang paling efektif adalah dengan metode gropyokan. Gropyokan merupakan pengendalian hama tikus sebelum musim tanam dengan cara membongkar lubang-lubang yang diduga menjadi sarang tikus lalu membunuhnya langsung.
Tujuannya adalah untuk meminimalkan jumlah indukan tikus di lahan petani. Pasalnya, dari hasil penelitian, dari sepasang tikus saja dapat menghasilkan 80 ekor tikus selama satu musim tanam padi.
“Kalau induknya bisa diminimalkan, maka potensi populasi tikus berkembang juga akan berkurang,” ujarnya.
Jika pengendalian hama tikus dilakukan secara dini dan dalam skala hamparan, menurut Witjaksono sekitar 80 persen masalah tikus sudah teratasi. Sehingga kemungkinan besar sudah tidak ada serangan yang merugikan secara signifikan. Pengendalian selanjutnya pun akan lebih ringan.
ADVERTISEMENT
Namun kendalanya, bukan perkara gampang untuk menggerakan petani skala hamparan mulai 50 sampai 100 hektar untuk melakukan gropyokan bersama-sama. Belum lagi petak sawah yang digarap atau disewa orang dusun, banyak yang tidak diketahui pasti pemiliknya dan di mana tempat tinggalnya.
“Jadi susah untuk diajak gropyokan,” lanjutnya.
Saat ini, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian UGM menurutnya sedang bekerja sama dengan Dinas Pertanian DIY dan Sleman, BPTP, dan Kecamatan Minggir untuk mengadakan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) secara terpadu dan berjangka waktu lama.
Program itu akan dimulai dari Kecamatan Minggir, dan jika berhasil akan meluas ke kecamatan lain di sekitarnya bahkan mungkin sampai seluruh wilayah DIY.
“Saat ini sedang dalam tahap persiapan. Direncanakan akan dilaksanakan di Mbulak seluas 100 hektar,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Pengendalian OPT terpadu itu akan dilakukan dengan cara mengaplikasikan cara pengendalian yang sesuai dengan waktu dan kondisi. Misalnya untuk mengendalikan tikus, maka akan dimulai dengan gropyokan sebelum musim tanam.
Selanjutnya akan dilakukan pemasangan Trap Barrier System (TBS) yang juga dilakukan sebelum musim tanam. Selain itu juga akan diberdayakan potensi serak atau burung hantu yang sudah ada di tempat tersebut serta beberapa komponen pengendalian lain.
“Jadi sama sekali sudah tidak menggunakan setrum dalam perencanaan kami,” ujar Witjaksono.
Bersahabat dengan Burung Hantu
Petani di Dusun Cancangan, Wukirsari, Cangkringan, Sleman, sudah beberapa tahun ini menerapkan pengendalian hama tikus menggunakan burung hantu atau Tyto alba. Ketua Kelompok Tani Dusun Cancangan, Bafit, mengatakan pemanfaatan burung hantu sangat efektif untuk mengendalikan hama tikus.
ADVERTISEMENT
Syaratnya, petani tidak boleh lagi menggunakan bahan-bahan kimia dalam kegiatan pertaniannya. Pola tanam seperti ini menurutnya sangat berpengaruh berhasil atau tidaknya pemanfaatan burung hantu untuk pengendalian hama tikus. Sebab, bahan-bahan kimia yang dipakai justru bisa meracuni hewan-hewan yang justru menguntungkan petani, termasuk burung hantu.
“Jadi bukan hanya bikin rumah burung hantu, tapi semua komponen pendukung juga harus ada. Mulai dari tenggeran, pola pertanian tanpa pestisida, dan lain-lain,” ujar Bafit.
Lim Wen Sim, seorang inisiator konservasi burung hantu dan yang mendorong masyarakat untuk menjadikan burung hantu sebagai sahabat petani di Cancangan mengatakan cara ini memang sangat efektif dan efisien untuk mengendalikan hama tikus.
Salah seorang pendiri Raptor Club Indonesia (RCI) ini pernah mengamati berapa kekuatan burung hantu dalam memangsa tikus. Hasilnya, sangat menakjubkan.
ADVERTISEMENT
“Dalam dua setengah bulan, sepasang burung hantu dan anaknya bisa memangsa hingga 1.080 ekor tikus,” ujar alumni Biologi Universitas Atma Jaya itu.
Saat ini, di Dusun Cancangan ada sekitar sembilan pasang burung hantu dan anaknya. Itu artinya, dalam setengah bulan saja, ada sekitar 9.720 ekor tikus yang dimangsa oleh burung hantu. (Widi Erha Pradana / YK-1)