Kisah Tofani, Mewakafkan Hidup Menjadi Relawan setelah Hampir Mati karena Covid

Konten Media Partner
3 Agustus 2021 19:32
·
waktu baca 6 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Kisah Tofani, Mewakafkan Hidup Menjadi Relawan setelah Hampir Mati karena Covid (370628)
zoom-in-whitePerbesar
Tofani Pane bersama rekan-rekan relawan MCCC Sewon, Bantul, DIY. Foto: Widi Erha Pradana
Mengidap komorbid kanker, selama tujuh hari Tofani Pane, 44 tahun, harus dirawat di bangsal mina RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, bangsal khusus untuk pasien COVID-19 dengan gejala berat. Sebelumnya, selama 10 hari dia hanya menjalani isolasi mandiri di rumahnya di Karangkajen, Mergangsan, Jogja karena merasa gejala yang dia alami tidak terlalu berat. Bahkan dia mengira gejala yang dia alami hanya gejala setelah vaksin, karena sebelumnya dia memang baru saja mendapatkan vaksin.
ADVERTISEMENT
Tapi 10 hari berlalu, gejala yang dia alami justru makin berat. Yang semula hanya demam biasa, dia mulai merasa napasnya menjadi sesak. Mengalami gejala mirip COVID-19, dia melakukan tes swab mandiri dan hasilnya ternyata positif.
Karena kondisinya yang semakin memburuk, demamnya makin tinggi, kepalanya makin sakit, makan apapun tak enak, diare, badan makin lemas, serta napasnya makin pendek dan tersengal, Fani dibawa ke IGD RS PKU Muhammadiyah oleh para relawan MCCC Sewon Utara. Beruntung Fani bisa langsung mendapatkan penanganan medis, meski harus dirawat di IGD dulu beberapa saat.
“Saya dikasih infus, oksigen,” kata Fani menceritakan ulang kisahnya di Posko MCCC Sewon Utara, Kamis (30/7).
Tak sampai sehari, akhirnya ada tempat tidur kosong di bangsal mina yang khusus disiapkan untuk merawat pasien COVID-19 dengan gejala berat. Dari IGD, Fani dipindahkan ke bangsal mina.
ADVERTISEMENT
Tiga hari pertama dirawat merupakan masa paling berat untuk Fani. Kondisinya makin memburuk karena selama sakit sedikit sekali makanan yang masuk ke tubuhnya. Tiap mencoba memasukkan makanan ke mulutnya, tubuhnya seperti menolak, nafsu makannya benar-benar hilang.
Apalagi Fani harus menjalani hari-harinya seorang diri, rasa sepi yang dialami memberikan tekanan tersendiri. Beruntung selalu ada teman atau keluarga yang setiap saat menghubunginya untuk menghibur dan memberi dukungan moral meski sekadar lewat panggilan video.
“Tapi hari keempat sudah mulai membaik, obat-obatan sudah masuk semua, pelan-pelan juga mulai saya paksa buat makan,” lanjutnya.
Sudah Ikhlas Jika Harus Mati
Kisah Tofani, Mewakafkan Hidup Menjadi Relawan setelah Hampir Mati karena Covid (370629)
zoom-in-whitePerbesar
Tofani bersama sesama relawan MCCC, Sewon, Bantul, DIY. Foto: Widi Erha Pradana
Fani menganggap setiap rasa sakit yang dia alami, termasuk ketika dia terinfeksi COVID-19, merupakan hadiah dari Tuhan, bukan musibah maupun ujian. Sebab, rasa sakit membuatnya berlatih untuk lebih ikhlas dengan semua hal yang bersifat duniawi, termasuk ikhlas jika harus mati.
ADVERTISEMENT
Apalagi sebelumnya pada 2018 Fani juga pernah terkena kanker getah bening dan mesti menjalani pengobatan selama setahun lebih. Rasa sakit yang pernah dia alami sebelumnya, membuatnya lebih santai ketika menanggung rasa sakit karena COVID-19.
Pada Desember 2018, dia menjalani operasi kanker, dan sepanjang 2019 dia menjalani 35 kali radioterapi dan 6 kali kemoterapi.
“Dan itu sakit dan berat sekali, sampai saat ini juga masih rutin kontrol di Sardjito. Jadi kemarin saya merasa kalau memang ini jadi akhir hidup saya, enggak masalah, saya ikhlas-ikhlas saja,” kata Fani.
Tapi rasa ikhlas meninggalkan kehidupan bukan berarti putus asa. Dalam keterpurukannya itu, dia berusaha sekuat tenaga untuk bisa pulih dan mengalahkan virus-virus yang menggerogoti tubuhnya. Sebab dia mengingat ada keluarga yang begitu menyayanginya, dan berharap supaya dia bisa hidup lebih lama lagi.
ADVERTISEMENT
Memang bukan perkara mudah untuk memenangkan pertarungan itu. Apalagi di sisi lain Fani juga masih berduka karena sebelumnya, pada 7 Juni ibunya telah meninggal dunia karena COVID-19. Kepergian sang ibu membuatnya sangat terpukul, sebab ayahnya sudah meninggal lebih dulu ketika dia masih sangat belia.
“Jadi saya hanya dibesarkan oleh ibu saya sejak kecil, sehingga ketika ibu meninggal saya sangat terpukul,” lanjutnya.
Usaha untuk pulih tak sia-sia, perlahan kesehatan Fani mulai membaik. Demamnya mulai turun, pusingnya perlahan hilang, dan napasnya semakin lancar. Hingga pada hari ketujuh, dokter mengatakan Fani sudah boleh pulang. Sebuah kabar yang sangat dia tunggu ketika kerinduan dengan anak dan istri di rumah sudah tak terbendung.
Kendati sudah dibolehkan untuk pulang, tapi Fani masih harus menjalani isolasi mandiri lagi di rumah selama 10 hari. Sehingga total dia harus menjalani masa isolasi selama 27 hari sejak pertama merasakan gejala hingga isolasi mandiri setelah keluar dari rumah sakit.
ADVERTISEMENT
Mewakafkan Hidup untuk Jadi Relawan
Kisah Tofani, Mewakafkan Hidup Menjadi Relawan setelah Hampir Mati karena Covid (370630)
zoom-in-whitePerbesar
Relawan MCCC, Sewon, Bantul, DIY. Foto: Istimewa
Setelah berhasil pulih total dari COVID-19, Fani memantapkan diri untuk menjadi relawan COVID-19, bergabung dengan rekan-rekannya di MCCC Sewon Utara. Sebenarnya itu bukan keinginan yang sekonyong-konyong, karena sebenarnya sudah sejak lama Fani punya keinginan untuk menjadi relawan COVID-19.
Sejak awal dibuka posko MCCC Sewon Utara, dia juga sering datang ke posko tersebut. Karena sebagai Komandan Kokam Kecamatan Mergangsan, Fani juga sangat akrab dengan orang-orang di posko MCCC tersebut. Melihat bagaimana teman-temannya berjuang membantu banyak orang di tengah pandemi ini, membuat hatinya tergerak untuk ikut bergabung juga dalam aksi relawan tersebut.
“Tapi karena riwayat sakit saya, keluarga terutama ibu saya tidak membolehkan karena takut drop lagi. Bagaimanapun mereka yang selalu memberikan dukungan ketika saya sakit, jadi saya tidak mungkin memaksakan kehendak saya,” kata Fani.
ADVERTISEMENT
Fani menyaksikan keikhlasan para relawan sangat luar biasa, mengorbankan waktu dan tenaga yang mereka punya secara gratis di tengah zaman yang semuanya serba diukur dengan materi. Dia sendiri merasakan bagaimana teman-temannya sangat peduli dan perhatian selama dia sakit COVID-19.
Para relawan itulah yang mencarikan dan mengantarkan Fani ke RS ketika saat itu situasinya sedang sulit-sulitnya mendapatkan kamar isolasi. Ketika ibunya meninggal, hampir semua relawan juga ikut datang untuk memakamkan, sehingga dia benar-benar terharu karena merasa teman-temannya begitu peduli dengan dirinya.
“Di saat semua orang menjauh karena takut, mereka (relawan) datang menemani, bagi saya itu luar biasa,” lanjutnya.
Karena itu, setelah diberikan kesempatan hidup lebih lama, dia dengan mantap ingin mendedikasikan hidupnya dalam penanganan pandemi ini. Dia ingin terjun langsung menjadi relawan seperti yang dilakukan teman-temannya. Fani ingin kesempatan hidup yang tersisa dia digunakan untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya.
ADVERTISEMENT
“Saya bujuk keluarga lagi, dan Alhamdulillah keluarga paham dan mengizinkan. Karena sebelumnya yang paling khawatir kan ibu, sedangkan ibu sudah tidak ada,” ujarnya.
Tugas Pertama Memakamkan Jenazah Seorang Kawan
Kisah Tofani, Mewakafkan Hidup Menjadi Relawan setelah Hampir Mati karena Covid (370631)
zoom-in-whitePerbesar
Tofani bersama Tim MCCC Sewon, Bantul, saat memakamkan jenazah Covid-19. Foto: Istimewa
Setelah masa isolasi mandirinya selesai dan mendapatkan restu dari keluarga, Fani langsung aktif sebagai relawan di MCCC Sewon Utara. Dua hari setelah masa karantinanya, dia langsung mendapatkan tugas pertama, yakni memakamkan jenazah seorang kawan dekat yang sangat dikenal baik. Kepergian seorang kawan itu lagi-lagi membuatnya kembali merasakan duka yang sangat dalam.
“Tapi di sisi lain saya juga lega karena masih bisa melakukan sesuatu untuk yang terakhir kali buat dia,” ujarnya.
Hanya berselang beberapa hari, Fani harus kembali ke bangsal mina, tempat dia pernah dirawat selama sepekan untuk melawan sakitnya. Tapi kali ini bukan sebagai pasien, dia datang untuk menjemput jenazah pasien COVID-19 yang akan dimakamkan. Dia tak tahu siapa jenazah yang akan dia makamkan, hingga akhirnya ketika sampai pemakaman dia bertemu dengan seorang teman dekatnya.
ADVERTISEMENT
“Dan ternyata jenazah yang kami makamkan adalah kakak teman saya itu,” lanjutnya.
Dia, dan relawan lainnya bukan berarti tak punya rasa takut. Bagaimanapun mereka adalah manusia biasa. Tapi rasa takut itu bukan berarti menjadi alasan untuk tidak melakukan apapun. Bagi Fani, rasa takut itu justru yang membuat para relawan lebih berhati-hati dan waspada sehingga melakukan semuanya secara terukur.
Tapi bagaimanapun, manusia hanya bisa berdoa dan berusaha, penentu segalanya tetap Tuhan. Jika dalam tugas ini nantinya harus gugur, Fani juga mengaku siap dan ikhlas. Dia hanya berharap, apa yang dia kerjakan dapat menggugurkan dosa-dosanya yang selama ini sudah menumpuk.
“Ketika harus gugur dalam tugas, saya percaya itu syahid, ini bagian dari jihad kami,” kata Tofani Pane.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020