kumparan
Tekno & Sains15 Mei 2020 4:58

Melatih Anjing Mendeteksi COVID-19 seperti Mendeteksi Bom dan Narkoba

Konten kiriman user
animal-4150107_1920.jpg
Ilustrasi anjing pelacak. Foto : Pixabay
Kemampuan indera penciuman anjing sudah tidak perlu diragukan. Memiliki 300 juta reseptor bau, anjing sudah digunakan untuk berbagai keperluan manusia; menemukan bom, ranjau, narkoba, manusia yang tertimbun reruntuhan dan sebagainya. Namun, bagaimana jika kemampuan ini dilatih untuk mendeteksi keberadaan COVID-19? Beberapa ilmuwan di Inggris dan Amerika Serikat sedang mengujinya.
ADVERTISEMENT
Hewan yang lebih besar dari kucing dan dikenal dengan kesetiaannya ini juga sejak 1980-an diketahui mampu mengenali kanker.
"Anjing pendeteksi bau dapat secara akurat mendeteksi konsentrasi rendah senyawa organik yang mudah menguap atau volatile organic compounds (VOC), yang terkait dengan berbagai penyakit seperti kanker ovarium, infeksi bakteri, dan tumor hidung," kata Cynthia Otto, seorang dokter hewan dan direktur Pusat Kerja Anjing Penn Vet. VOC memiliki bau yang khas yang muncul pada darah, air liur, urin atau napas manusia seperti dimuat oleh Decan Chronicle.
Penelitian telah menunjukkan bahwa bau VOC yang dikeluarkan oleh sel kanker cukup unik sehingga hidung anjing yang sensitif dapat menemukan keberadaan sel kanker di tengah sel yang sehat. Kemampuan yang sama dapat memungkinkan anjing untuk mengidentifikasi penyakit yang disebabkan oleh coronavirus baru.
ADVERTISEMENT
Studi yang dilakukan Sekolah Kedokteran Hewan (Penn Vet) di University of Pennsylvania di AS dan Medical Detection Dogs di Inggris ini bertujuan untuk memanfaatkan kemampuan anjing untuk melakukan deteksi dini Covid-19, terutama pada orang tanpa gejala, rumah sakit dan tempat publik lainnya.
Bagaimana Pelatihannya
Menurut para peneliti Penn Vet, program pelatihan akan memanfaatkan kemampuan indera penciuman super milik anjing untuk membedakan antara sampel dari pasien yang positif COVID-19 dan negatif COVID-19.
Selama tiga minggu, anjing-anjing ini akan menjalani proses yang disebut pencetakan bau melalui sampel air liur dan urin positif COVID-19 dalam pengaturan laboratorium. Anjing-anjing itu kemudian akan ditugaskan untuk membedakan antara sampel-sampel itu dan sampel yang dikumpulkan dari orang-orang yang tidak menderita penyakit tersebut.
ADVERTISEMENT
Medical Detection Dogs, yang didirikan pada 2008 untuk memanfaatkan indra penciuman anjing yang tajam untuk mendeteksi penyakit manusia, mulai mengerjakan proyek ini sejak akhir bulan Februari.
Di ruang pelatihannya di Milton Keynes, di Inggris tengah, anjing-anjing tersebut dilatih secara intensif untuk mengendus sampel virus.
"Kami percaya anjing dapat mendeteksi COVID-19 dan akan dapat menyaring ratusan orang dengan sangat, sangat cepat sehingga kami tahu siapa yang perlu diuji dan diisolasi," kata Claire Guest, pendiri dan kepala eksekutif Anjing Deteksi Medis, kepada AFP seperti dikutip Jakarta Post.
Selain itu, hewan yang sering disebut sebagai teman terbaik manusia ini juga dapat mendeteksi perubahan suhu yang halus kulit. Kemampuan ini bisa membuatnya bermanfaat untuk menentukan apakah seseorang mengalami demam.
ADVERTISEMENT
Anjing yang dapat menentukan bau COVID-19 dapat mengidentifikasi infeksi pada orang yang tidak menunjukkan gejala dan dapat memainkan peran yang penting saat pembatasan sosial dilonggarkan dan orang-orang kembali keluar beraktifitas, kata perwakilan Penn Vet dalam sebuah pernyataan.
Kapan Siap?
Menurut peneliti, pengujian penggunaan anjing untuk mendeteksi keberadaan penyakit pada manusia bisa dilakukan pada awal Juli nanti.
Namun pada kenyataannya, kebanyakan anjing membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk bisa mengidentifikasi bau kanker tertentu.
Faktor Risiko
Namun bagaimana dengan keselamatan anjing itu sendiri jika ditempatkan sebagai pasukan garda depan pelacak penderita COVID-19?
Pada bulan Maret, seekor anjing peliharaan di Hong Kong dinyatakan positif COVID-19, dan para ahli menduga anjing ini mendapatkan virus ini dari pemiliknya yang terinfeksi. Ini dianggap sebagai contoh pertama penularan COVID-19 dari manusia ke hewan.
ADVERTISEMENT
Namun, beberapa ahli ragu dengan diagnosis anjing tersebut. Awalnya, hewan itu tidak menerima tes darah yang akan mengkonfirmasi keberadaan antibodi coronavirus yang dibuat untuk melawan infeksi, dan tes darah yang dilakukan kemudian tidak menemukan antibodi coronavirus, seperti yang dilaporkan Live Science.
Namun, anjing mungkin mengalami respons imun ringan terhadap COVID-19 yang tidak memerlukan produksi antibodi spesifik. Kasus lain, seekor anjing di North Carolina, juga dinyatakan positif COVID-19 yang mungkin tertular dari pemiliknya, Time melaporkan pada 28 April. (Anasiyah Kiblatovski / YK-1)
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan