Food & Travel
·
27 Oktober 2020 9:53

Melihat Sistem Pendidikan di Era Majapahit dari Situs Kuno di Gunung Semeru

Konten ini diproduksi oleh Pandangan Jogja
Melihat Sistem Pendidikan di Era Majapahit dari Situs Kuno di Gunung Semeru (394085)
Situs Candi Jawar. Foto: verzamalang
Ketika melakukan ekspedisi di Lereng Gunung Semeru sebelah barat pada 2013, A’ang Pambudi Nugroho, seorang arkeolog yang sekarang juga menjadi peneliti sejarah Indonesia masa Hindu-Buddha, menemukan sebuah situs berupa candi berbentuk pendopo teras.
ADVERTISEMENT
Situs itu menarik bagi dia dan menimbulkan tanya, apakah situs itu tunggal atau masih ada situs-situs lain yang masih merupakan suatu asosiasi yang dapat dipecahkan baik dengan pendekatan arkeologi, filologi, maupun filo-arkeologi.
Setelah ditelusuri lebih lanjut, di bagian barat daya gunung Semeru ternyata terdapat sangat banyak situs. Mulai dari situs Umpak Sanga, situs Jawar, ada juga temuan keramik kuno, prasasti Garba I dan II, Jaladwara motif pengadukan samudera mantana, serta lumpang di punden Mbah Proyo.
Dalam seminar daring yang diadakan oleh Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Yogyakarta Oktober pekan kemarin, A’ang menjelaskan bahwa situs Jawar di lereng Semeru sebelah barat merupakan pajaran atau tempat belajar pada masa Majapahit. Situs Jawar bisa disebut sebagai kompleks sekolah keagamaan di masa itu.
ADVERTISEMENT
“Kalau saya menyebutnya sebagai salah satu sekolah keagamaan masa Majapahit yang paling otentik sesuai dengan analisis berdasarkan yang disebutkan dalam naskah kuno,” ujar A’ang Pambudi.
Ada beberapa komponen utama yang ditemukan di situs Jawer, di antaranya umpak, arca dwarapala, pedestal, pendopo teras, serta candi pemujaan. Pendopo teras tersebut menurut A’ang disebutkan dalam naskah Kakawin Negarakertagama, salah satu naskah yang dianggap otentik sebagai sumber data sejarah masa klasik.
Sistem Penjenjangan Guru
Ditemukannya situs-situs di bagian barat daya Semeru, menurut A’ang menunjukkan bahwa pada masa Majapahit, sudah ada sistem pendidikan yang diterapkan. Dari temuan situs-situs itu kemudian, dapat diidentifikasikan adanya penjenjangan guru pada masa itu.
Temuan itu sesuai dengan apa yang terdapat pada naskah Tantu Panggelaran, naskah yang menggambarkan adanya sebuah tata ruang mandala. Tempat paling tinggi adalah Katiyagan, yaitu tempat untuk bertapa di situs Umpak Sanga. Kemudian di bawahnya ada Pangajaran sebagai tempat mengajar dan bermukimnya dewaguru yang kini dikenal dengan situs Jawer.
ADVERTISEMENT
Di bawahnya terdapat Pangubwanan sebagai tempat bermukim ubwan atau pendeta perempuan. Kemudian selanjutnya ada Pamanguywan yang merupakan tempat bermukim manguyu atau pendeta laki-laki.
“Kemudian paling bawah sendiri di wilayah Gurudesa itu hidup juga pangabtan, yaitu agamawan yang masih rendah pengetahuan agamanya, masih terikat nafsu,” lanjutnya.
Syarat Menjadi Dewaguru
Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang yang ingin menjadi dewaguru. Pertama dia harus seorang Siddhapandita atau pendeta yang sempurna ilmu keagamaannya. Kemudian dia tidak cacat tubuh dan terkena dasamala, yakni 10 perbuatan tercela.
Dewaguru juga tidak boleh berasal dari seorang rsi, serta bukan berasal dari golongan empat kasta atau caturjanma, seorang anak murid, hulu kembang, serta kabayan.
“Ketentuan lainnya, dia tidak tergesa-gesa memakai baju penanda status guru,” ujar A’ang Pambudi.
ADVERTISEMENT
Hal ini dimungkinkan karena saat itu status dewaguru dipandang sebagai status yang tinggi, maka banyak sekali yang ingin menjadi dewaguru. Sehingga terdapat pesan khusus supaya mereka tidak tergesa-gesa mengenakannya.
Sebab dalam kitab Sutasoma terdapat kisah seorang wiku atau dewaguru gadungan. Alih-alih mengajak para janda dan murid untuk mendalami ilmu pengetahuan, dewaguru tersebut justru mengajak mereka bersenggama.
Selain itu, untuk menjadi dewaguru juga harus tinggal di kaki gunung selama tujuh hari tujuh malam dan menunggu hasil seleksi dari Sang Yogiswara.
Pesan Prasasti Gerba I dan II
Situs penting lain yang ditemukan di lereng sebelah barat daya Semeru adalah Prasasti Gerba I dan II yang ditemukan di daerah pemukiman Gurudesa. Isi prasasti ini berkaitan dengan tugas seorang gurudesa dalam mendidik siswa-siswa di tingkat bawah.
ADVERTISEMENT
Inti ajaran gurudesa di antaranya mengajari berbicara hingga mengetahui tentang bahasa, memberi pelajaran tentang nasihat kebaikan, serta memberikan ajaran tentang dasa sila atau 10 perilaku yang baik.
“Juga mengajari tentang pancasiksa, yaitu lima macam keterampilan. Ini adalah materi-materi awal atau paling dasar yang diajarkan kepada siswa,” ujar A’ang Pambudi.
Dalam naskah Kunjarakarna, ajaran tersebut direpresentasikan dalam kisah Kunjarakarna dan Purnawijaya dalam memperoleh jalan kesempurnaan menuju surga. Mereka harus melakukan perbuatan yang baik dan menjauhi perbuatan jahat, serta membersihkan dosa-dosa mereka.
“Pada intinya, Prasasti Gerba I dan II memuat ajaran suci, yaitu nasihat kebaikan atau sabda rahayu yang diberikan oleh gurudesa kepada siswa,” lanjutnya.
Dari peninggalan-peninggalan yang ditemukan juga terdapat nilai-nilai sosial untuk berbakti kepada guru yang berlaku di tengah masyarakat Jawa kuno. Nilai itu tercantum dalam Prasasti Mantyasih dan dikenal sebagai Panca Mahapataka atau lima dosa besar.
ADVERTISEMENT
Dari lima dosa besar tersebut, salah satunya tertulis durhaka pada guru. Sementara empat dosa besar lain di antaranya membunuh seorang brahmana, melakukan pembunuhan dan pemerkosaan, membunuh janin, serta berhubungan dengan orang dari kelompok musuh raja atau pihak-pihak tertentu yang tidak mengakui kedaulatan seorang raja. (Widi Erha Pradana / YK-1)