Food & Travel
·
4 Desember 2019 11:54

Menelisik Perubahan Jadwal Kereta Api di Mata 'Railfans'

Konten ini diproduksi oleh Pandangan Jogja
Menelisik Perubahan Jadwal Kereta Api di Mata 'Railfans'  (87700)
KA Dwipangga meliuk sexy sekali di tikungan Kalimenur Kulon Progo. Foto dan teks : Agam Shani Rasyid
Tanggal 1 Desember ini jadwal perjalanan kereta api mengalami perubahan yang tercantum dalam GAPEKA 2019. Perubahan itu membawa banyak dampak khususnya bagi para pelanggan kereta api. Para penumpang yang sering menggunakan kereta api harus lebih teliti lagi terhadap jadwal keberangkatannya. Mereka yang sudah hafal jadwal kereta api yang lama harus memperbaharui lagi hafalan jadwal kereta api mereka.
ADVERTISEMENT
Perubahan juga tak hanya terjadi pada jadwal perjalanan kereta api. Beberapa stasiun juga mengalami pembaharuan nama karena alasan tertentu. Tercatat ada empat nama stasiun yang berubah. Stasiun Paron berubah nama menjadi Stasiun Ngawi, Stasiun Barat berubah menjadi Stasiun Magetan, Stasiun Karangasem berubah menjadi Stasiun Banyuwangi Kota, dan stasiun paling ujung di Pulau Jawa, Stasiun Banyuwangi Baru, berubah nama menjadi Stasiun Ketapang.
Perubahan Jadwal ini terjadi bukan tanpa sebab. Bukan karena gaya-gayaan atau sekedar pembaharuan agar tidak bosan dengan jadwal yang lama ataupun ingin membuat viral. Tidak, ketiga alasan tersebut sama sekali tidak tepat untuk menjawab kenapa jadwal kereta api mengalami perubahan. Untuk bisa memahami perubahan jadwal ini alangkah lebih baik untuk kita mengenal apa itu GAPEKA terlebih dahulu
ADVERTISEMENT
Tentang GAPEKA
Menelisik Perubahan Jadwal Kereta Api di Mata 'Railfans'  (87701)
Selamat datang KA Sancaka Utara !. Foto dan teks : Agam Shani Rasyid
GAPEKA merupakan akronim dari Grafik Perjalanan Kereta Api. GAPEKA mengatur semua perjalanan kereta api mulai dari pukul berapa kereta api itu berangkat, berhenti di stasiun mana saja, dan pukul berapa kereta api itu tiba di tujuan. Selain itu, GAPEKA juga mengatur persilangan dan persusulan kereta api. Kereta api yang kelasnya lebih rendah harus mengalah untuk memberikan jalan pada kereta api yang kelasnya lebih tinggi dalam persilangan maupun persusulan. Intinya, segala hal yang menyangkut perjalanan kereta api, baik itu jarak jauh, jarak dekat, atau cuma pergerakan langsir, semuanya telah diatur dalam GAPEKA.
GAPEKA biasanya mengalami perubahan secara periodik. Perubahan ini lebih disebabkan pada faktor-faktor yang mempengaruhi perjalanan kereta api. Pada tahun ini, perubahan GAPEKA disebabkan oleh beroperasinya jalur ganda Solo-Madiun dan juga jalur ganda Purwokerto-Kroya. Adanya jalur ganda ini membuat waktu tempuh perjalanan kereta api semakin singkat karena tidak butuh berhenti bersilang dengan kereta api lain di sebuah stasiun terutama stasiun kecil. Selain itu, jalur ganda juga membuat meningkatnya kapasitas lintas jalur kereta api.
ADVERTISEMENT
Salah satu implikasi dari kapasitas lintas yang makin besar itu adalah dengan diluncurkannya beberapa kereta api baru. Pengadaan kereta api baru ini dilakukan guna memberikan pelayanan maksimal pada masyarakat pengguna jasa layanan kereta api. Beberapa kereta api baru yang diluncurkan bertepatan dengan pergantian jadwal kereta api ini antara lain;
  1. KA Anjasmoro Ekspress kelas campuran eksekutif bisnis relasi Jombang-Pasarsenen PP
  2. KA Dharmawangsa kelas ekonomi AC relasi Surabaya Pasarturi-Pasarsenen PP
  3. KA Argo Chirebon kelas campuran eksekutif dan ekonomi AC relasi Pemalang-Gambir PP
  4. KA Sancaka Utara kelas eksekutif bisnis relasi Surabaya Pasarturi-Kutoarjo PP.
Implikasi sosial dengan perubahan GAPEKA
Menelisik Perubahan Jadwal Kereta Api di Mata 'Railfans'  (87702)
KA Progo nan Gagah di Tikungan Kalimenur Kulon Progo. Foto dan teks : Agam Shani Rasyid
Masyarakat yang tinggal di sekitar jalur kereta api tentu sudah akrab dengan kereta api. Sehari-hari mereka mendengar suara klakson kereta yang dikenal dengan nama “Semboyan 35” dan juga suara deru mesin sampai gerbong-gerbongnya. Tiap lokomotif kereta punya ciri khasnya sendiri pada suara klaksonnya.
ADVERTISEMENT
Perubahan GAPEKA memberi implikasi sosial bagi masyarakat sekitar jalur kereta api. Sebagai contoh, kini dengan adanya KA Sancaka Utara, masyarakat di daerah pantura yang berada di provinsi Jawa Timur seperti Lamongan, Babat, Bojonegoro, Cepu, dan Blora bisa berpergian langsung dengan kereta api menuju Yogyakarta dan Solo maupun sebaliknya.
GAPEKA baru juga membuat beberapa kereta api mengalami perpanjangan relasi. Salah satu kereta api yang mengalami perpanjangan relasi itu adalah KA Argo Wilis. Kereta api relasi Bandung-Surabaya Gubeng PP yang mendapat julukan “Si Raja Selatan” itu diperpanjang relasinya hingga Stasiun Jakarta Gambir dan menggantikan KA Argo Bromo Anggrek sebagai kereta api nomor satu se-Pulau Jawa. Kereta api lain yang mengalami perpanjangan relasi adalah KA Malabar dan KA Mutiara Selatan yang sebelumnya melayani rute Malang-Bandung PP kini menjadi Malang-Bandung-Jakarta Gambir/Pasarsenen PP.
ADVERTISEMENT
Perpanjangan rute KA Argo Wilis, KA Malabar, dan KA Malabar membuat jalur kereta api Bandung-Jakarta yang eksotis itu kembali ramai setelah sebelumnya menjadi sepi karena penumpang beralih ke moda transportasi jalan raya seiring diresmikannya Tol Cipularang. Namun seiring waktu padatnya kendaraan dan waktu tempuh yang terbuang karena terjebak kemacetan membuat orang-orang yang sering bolak balik Jakarta-Bandung kembali beralih ke moda transportasi kereta api.
Observasi Lapangan
Menelisik Perubahan Jadwal Kereta Api di Mata 'Railfans'  (87703)
KA Prameks melintas di daerah Brambanan, Klaten. Foto : Agam Shani Rasyid
Bertepatan dengan tanggal 1 Desember 2019, saya langsung meluncur dari rumah saya di Godean Sleman menuju daerah Brambanan, Klaten. Di sana saya ingin meninjau langsung lalu lalang kereta api pada hari pertama pengoperasian GAPEKA 2019. Saya meninjaunya di sebuah perlintasan tanpa palang pintu yang letaknya sekitar 1 km di sebelah timur Stasiun Brambanan.
ADVERTISEMENT
Aktivitas lalu lalang kereta api berjalan normal di Stasiun Brambanan. Waktu terakhir kali saya ke sana, persinyalan di stasiun itu masih mekanik. Namun sekarang persinyalannya telah diganti menjadi elektrik sehingga dapat menambah kapasitas lintas di jalur itu.
Beranjak dari Stasiun Brambanan, saya berinisiatif menjadi petugas inspeksi gadungan dengan meninjau lalu lintas kereta api di Stasiun Srowot, Stasiun Klaten, dan kemudian Eks Stasiun Kalasan. Selepas siang hari saya langsung pergi jauh ke arah barat menuju Tikungan Kalimenur, Kulonprogo. Di sana saya bertemu dengan kelompok railfans yang sedang hunting foto kereta api.
Hari pertama perubahan GAPEKA merupakan hari yang istimewa bagi para railfans (pecinta kereta api) termasuk saya. Pada hari itu biasanya para railfans berhamburan ke pinggir rel guna mengabadikan momen kereta api yang melintas di hari pertama penetapan GAPEKA.
ADVERTISEMENT
Pada momen pergantian GAPEKA kali ini, mereka juga mengincar momen perjalanan perdana dua kereta api baru, KA Sancaka Utara dan KA Anjasmoro. Para railfans mengabadikan momen kedatangan dua kereta api itu dari berbagai titik. Di Jogja, titik yang biasanya banyak diserbu para railfans adalah di bawah jembatan layang Lempuyangan dan di PJL geser utara Malioboro. Selain itu ada pula titik-titik yang letaknya jauh dari pusat kota seperti Jembatan Mbeling dan Tikungan Kalimenur, yang dua-duanya terletak di Kulonprogo.
Naufal, salah satu railfans yang ikut hunting di Kalimenur siang itu, sengaja datang untuk mengincar KA Sancaka Utara dan KA Anjasmoro. Untuk memantau perjalanan kedua kereta api baru itu, dia telah menyiapkan handie talkie guna mengetahui komunikasi antar petugas di tiap stasiun. Dari komunikasi tersebut dapat diketahui posisi kereta api yang akan melintas di Kalimenur.
ADVERTISEMENT
Karena waktu itu bertepatan dengan Hari Minggu, lebih banyak lagi railfans yang menyambut perjalanan dua kereta api baru itu. Dua railfans bergelar master di kalangan para railfans, Risang Anggara dan Irja Naila Ula, bahkan berbarengan naik perjalanan perdana KA Anjasmoro dari Stasiun Pasarsenen. Sementara railfans master asal Jogja, Dhannie Setyawan, naik perjalanan perdana KA Sancaka Utara dari Stasiun Gambringan.
Kedua kereta api itu menurut jadwal akan melewati Kalimenur pada siang itu. Buat saya pribadi, Tikungan Kalimenur merupakan titik paling eksotis untuk memotret kereta api. Ketika melewati tikungan itu, kereta api akan meliuk membentuk huruf “S”. Saya bersama empat kawan railfans lainnya menunggu kedatangan kedua kereta itu. Setelah sebelumnya didahului oleh KA Solo Ekspress dari arah barat, pada akhirnya KA Sancaka Utara melintas dari arah timur.
ADVERTISEMENT
KA Sancaka Utara melewati tikungan kalimenur dengan indahnya tepat pukul 13.29. Waktu itu rangkaiannya terdiri dari 9 gerbong dengan rincian 4 kereta eksekutif, 4 kereta bisnis, dan satu kereta makan. Saat kereta api melintas di hadapan kami, sang masinis membunyikan klakson panjang dan kemudian melambaikan tangan ke arah kami.
Selesai KA Sancaka Utara lewat, gantian KA Bandara melintas dari arah yang sama. Tak lama berselang, giliran kereta api baru lainnya, KA Anjasmoro yang membawa Master Risang Anggara dan Master Irja Naila Ula, melintas Kalimenur pukul 13.40 WIB. Kereta api itu membawa 11 gerbong dengan rangkaian stainless steel.
Momen kedatangan dua newcomers telah lewat. Tapi kami tak beranjak dari sana. Biasanya waktu menjelang sore hari, akan banyak kereta api yang datang dari Bandung dan Jakarta melintasi Kalimenur. Selain itu beberapa kereta api melintas dari arah barat seperti KA Progo yang memulai perjalanan dari Lempuyangan, dan ada pula KA Ranggajati dan KA Logawa dari Jember.
ADVERTISEMENT
Jadwal kereta api yang melintas sore hari tidak mengalami perubahan yang signifikan untuk kereta api jarak jauh. Hanya saja hampir semuanya tiba lebih sore dibandingkan jadwal yang sebelumnya. Sebagai contoh, KA Argo Dwipangga yang pada GAPEKA 2017 tiba di Jogja pukul 15.07 WIB, pada GAPEKA baru ini baru tiba pukul 15.44 WIB. KA Argo Wilis yang sebelumnya tiba pukul 16.02 WIB, kini baru tiba di Jogja pukul 16.30 WIB. sementara KA Taksaka yang sebelumnya tiba di Jogja pukul 16.22 WIB, kini baru tiba pukul 17.10 WIB.
Tapi satu hal yang paling istimewa pada sore itu bukanlah perubahan jadwal kereta api, melainkan mulai bertambahnya perjalanan untuk KA Bandara relasi Stasiun Yogyakarta-Stasiun Wojo. Sebelumnya, jumlah perjalanan KA Bandara ke Stasiun Wojo adalah sebanyak 2 perjalanan pulang-pergi.
ADVERTISEMENT
Pada GAPEKA 2019 ini jumlahnya meningkat hingga 10 kali lipat menjadi 20 kali perjalanan pulang pergi. Maka tak heran sewaktu kami hunting dari pukul 13.15 sampai pukul 15.41 di Kalimenur, KA Bandara melintas sebanyak 4 kali, dua kali dari arah timur dan dua kali dari arah barat. ini belum termasuk KA Solo Ekspress yang rangkaiannya sama persis dengan KA Bandara.
Hari makin beranjak sore. Keempat railfans yang hunting bersama saya, pamit pulang duluan. Sementara saya masih duduk di salah satu ujung jembatan sambil menikmati angin sore. Sebelum beranjak pergi, saya sempat meminta nomor hp pada Naufal dan Steven. Namun mereka menolak dan sebagai gantinya memberikan alamat instagram mereka. Naufal memiliki 5.252 followers dan 752 foto. Hampir semua foto-fotonya adalah foto kereta api. Steven memiliki 4.899 followers dengan 608 postingan foto yang hampir semuanya juga berisi foto kereta api. Sementara saya, yang juga mengaku sebagai seorang railfans, hanya memiliki 426 followers dengan 49 foto yang tak sampai seperempatnya berupa foto kereta api. Sebagai seorang railfans, saya merasa bukan apa-apa dibanding mereka berdua.
ADVERTISEMENT
Kamu Harus Peka dengan Perubahan
Menelisik Perubahan Jadwal Kereta Api di Mata 'Railfans'  (87704)
Jumlah perjalanan KA Bandara yang kini meningkat dari 2 perjalanan pulang pergi menjadi 20 kali perjalanan pulang pergi di GAPEKA 2019. Foto : Agam Shani Rasyid
Perubahan jadwal kereta api merupakan sesuatu yang harus terus menerus dilakukan. Hal ini akan berjalan seiring dengan kebutuhan masyarakat terhadap kereta api serta kemajuan pembangunan di sektor perkeretaapian. Memang, banyak orang yang tak ambil pusing dengan perubahan GAPEKA ini, khususnya bagi mereka yang kehidupannya tidak pernah bersinggungan dengan kereta api sama sekali.
Namun perlu diingat, perubahan GAPEKA ini merupakan salah satu contoh bahwa di dunia ini tidak ada yang stagnan. Banyak hal yang harus terus diperbaharui agar tetap bisa menyesuaikan diri dengan zaman yang terus berubah, bahkan pada jadwal perjalanan kereta api sekalipun. Seperti halnya PT Kereta Api Indonesia melalui media sosial memasang tagline untuk menyambut GAPEKA 2019 ini,
ADVERTISEMENT
“Dia emang berubah, tapi kamu harus peka #gapeka2019.” (Agam Shani Rasyid, Railfans, tinggal di Sleman DIY)