kumparan
KONTEN PENGGUNA
29 Desember 2019 11:48

Mengenang Kelahiran, Kematian, dan Kebangkitan Yesus di Perjamuan Suci

IMG_20191228_120100.jpg
Suasana Perjamuan Suci di Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) Timoho, Yogyakarta. Foto : WIdi Erha
Meski akhir pekan dia libur kuliah, Marjonel sudah bangun sebelum pukul lima pagi. Baginya, tak ada waktu bermalas-malasan di Sabtu pagi. Sebelum matahari terbit, Marjonel sudah melakukan renungan pagi. Bersama beberapa temannya, Marjonel duduk melingkar, masing-masing memegang Alkitab.
ADVERTISEMENT
Mereka membaca dan merenungi ayat-ayat dalam Alkitab secara khusyuk. Dalam renungan pagi itu, mereka juga saling mendoakan keselamatan masing-masing. “Kalau ada keluarga yang sakit, kita juga doakan untuk kesembuhannya,” kata Marjonel, Sabtu (28/12).
Matahari sudah mulai tinggi. Marjonel dan teman-temannya harus segera bersiap-siap untuk berangkat ke Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) Timoho, Yogyakarta. Marjonel dan beberapa temannya adalah jamaah Advent, salah satu denominasi (mazhab atau aliran) di agama Kristen.
Bagi penanut ajaran Advent, Sabtu merupakan hari kudus untuk melaksanakan ibadah Sabat. Sabtu kemarin ini terasa lebih istimewa, bukan hanya karena Sabat terakhir di tahun ini, tapi Sabat kali ini bertepatan dengan perjamuan suci. Perjamuan suci atau perjamuan kudus adalah salah satu ritual besar bagi umat Advent yang diadakan setahun 4 kali saja atau setiap 3 bulan sekali. Ini adalah ibadah Kristen Advent yang setara kesakralannya dengan ibadah natal yang tiap 25 Desember dirayakan mayoritas umat Kristen di seluruh dunia.
ADVERTISEMENT
Maka, seperti halnya Marjonel, Glarius juga tak mau kehilangan momen berharga ini Mengendarai sepeda motor, sebelum pukul sembilan dia sudah sampai di GMAHK Timoho untuk menjalankan ibadah Sabat dan perjamuan suci.
Khusyuknya Ibadah Sabat
2018-04-13.jpg
Suasana jelang ibadah Sabat di Gereja Advent Timoho. Foto : dilokasi.com
Seorang gadis menjabat tangan saya dengan saya ramah ketika saya memasuki pintu gereja.
“Selamat Sabat,” kata gadis itu sembari mengulurkan tangannya, manis sekali.
Saya agak terkejut dengan sambutan yang begitu ramah karena baru kali ini saya tahu ada yang namanya ibadah Sabat, apalagi menghadirinya. Apalagi saya adalah orang yang sangat asing di sana. Saya Muslim, yang hadir di sana karena dikejar rasa ingin tahu. Sebagai Muslim, terkait dengan kehadiran dalam ibadah agama lain, tentu saja saya tahu mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak. Namun sambutan ini benar-benar terasa begitu akrab, saya merasa mereka menganggap saya bagian dari mereka.
ADVERTISEMENT
“Selamat Sabat,” jawab saya sekenanya sembari membalas uluran tangan gadis tadi.
Di dalam gereja, Glarius dan Marjonel bersama sekitar seratus lebih jemaat lain sudah duduk rapi di kursi panjang yang sudah disediakan. Agenda pertama pagi itu adalah diskusi sekolah Sabat.
“Jadi berbagi pengalaman selama satu minggu itu dapat apa saja, sakit atau bagaimana, itu bisa diceritakan,” kata Marjonel.
Marjonel mengaku, dalam sekolah Sabat, mereka juga kerap berdiskusi lintas iman dengan penganut agama lain seperti Islam.
Pengurus Departemen Sekolah Sabat GMAHK Timoho, Nelson Yonatan, mengatakan, di dalam sekolah Sabat, umat Advent akan belajar tentang isi Alkitab. Materi dalam sekolah Sabat sudah dibagi masing-masing tiap triwulan yang kemudian didiskusikan setiap ibadah Sabat.
ADVERTISEMENT
“Itu juga kita gunakan sebagai renungan malam, jadi setiap kita mengakhiri hari, materi itu yang kita jadikan tuntutan pelajaran setiap hari. Nah setiap Sabtu pagi dari jam 9 sampai jam 10, itu yang kita diskusikan,” jelas Nelson Yonatan masih melanjutkan,“tujuannya, bagaimana isi Alkitab bisa menjadi pedoman jemaat dalam menjalani kehidupan sehari-hari.”
Dalam diskusi sekolah Sabat, jemaat akan dibagi menjadi dua kelompok, anak-anak dan dewasa. Materi yang diberikan kepada anak-anak sifatnya lebih ringan. Selain itu, metode yang lebih banyak digunakan oleh pemateri adalah dengan bercerita atau mendongeng. Buku yang digunakan juga disertai dengan berbagai gambar dan ilustrasi supaya bisa lebih menarik untuk anak-anak.
“Kalau yang dewasa kan tinggal baca saja, Alkitabnya sudah ada,” lanjut Nelson.
ADVERTISEMENT
Sekolah Sabat selesai, agenda ibadah pagi itu dilanjutkan dengan kebaktian seperti biasa. Jemaat dipimpin seorang dirijen menyanyikan lagu-lagu pujian dengan khusyuk, kadang salah seorang pendeta atau petugas misa yang berada di depan menyelinginya dengan doa-doa dan pembacaan ayat-ayat dari Alkitab.
Selesai menyanyikan beberapa lagu pujian, pendeta berdiri di balik mimbar untuk berkhotbah. Di pagi yang sudah mendekati siang itu, khotbah lebih lama dari biasanya. Tak banyak yang saya pahami dari isi khotbah itu, hanya beberapa yang dapat saya tangkap seperti besarnya kasih Tuhan yang telah diberikan kepada umat manusia.
Paket Lengkap Perjamuan Suci
IMG_20191228_113227.jpg
Ritual pembasuhan kaki. Foto : Widi Erha
Seusai kebaktian, biasanya jemaat langsung pulang ke rumah masing-masing. Tapi Sabtu itu, ibadah dilanjutkan dengan perjamuan suci yang dimulai dengan ritual pembasuhan kaki.
ADVERTISEMENT
Setiap jemaat berpasang-pasangan, saling membantu membasuh kaki pasangan masing-masing. Mereka percaya, ketika melaksanakan perjamuan terakhir, Yesus melakukan ritual ini bersama para muridnya, yakni saling membasuh kaki satu sama lain. Hal itu dimaknai sebagai sebuah teladan tentang kerendahan hati dan pelayanan.
Selain itu, Nelson juga menjelaskan kalau pembasuhan kaki juga merupakan bentuk pembaptisan kecil. “Ini memperingati pertama kali seorang umat menyerahkan diri kepada Yesus,” tegas Nelson.
Pembasuhan kaki usai, jemaat kembali masuk ke gereja untuk melaksanakan ibadah perjamuan suci. Ibadah berlangsung khidmat. Setelah pendeta membacakan doa-doa, kain putih yang sejak awal menutupi hidangan perjamuan suci dibuka oleh panitia. Hidangan dalam perjamuan kudus itu adalah roti dan minuman anggur segar.
“Roti ini melambangkan tubuh Yesus, anggur melambangkan darah Yesus,” lanjut Nelson.
ADVERTISEMENT
Perjamuan suci dimaknai sebagai penyatuan pribadi seseorang dengan Kristus. Nelson juga memaparkan, perjamuan suci atau perjamuan kudus merupakan bentuk memperingati kelahiran, kematian, serta kebangkitan Yesus Kristus sekaligus.
“Kelahiran Yesus kita peringati, kematiannya disalib juga kita peringati, kebangkitannya juga diperingati. Jadi lebih dari sekadar Natal, kalau Natal kan cuman memperingati kelahiran, kalau ini (perjamuan suci) sudah komplet,” ujarnya.
Libur Bekerja
IMG_20191228_114031.jpg
Marjonel dan kawan-kawan seusai Perjamuan Suci. Foto : Widi Erha
Hari Sabat adalah hari yang dikuduskan oleh umat Advent. Untuk mengkuduskan atau mensucikan hari itu, umat Advent tidak bekerja seperti hari biasa. Marjonel misalnya, ketika hari Sabat dia akan menghabiskan waktunya di dalam kos. Sebagai mahasiswa, dia memilih izin dari berbagai kegiatan kampus agar bisa menjalankan Sabat dengan kusyuk.
“Pulang ibadah biasanya duduk di rumah, bisa ngobrol lagi tentang hari Sabat. Atau berbincang satu sama lain tentang kenikmatan berkat Sabat yang didapat di dalam (gereja) tadi, dikaji lagi untuk belajar kembali,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Glasarus, jemaat Advent lain juga tak melakukan aktivitas seperti biasanya. Saat menjalani Sabat, sepulang beribadah di gereja, dia akan menghabiskan waktunya di dalam rumah.
“Biasanya mengulangi baca firman-firman Tuhan, sampai tutup Sabat jam 6 sore,” kata Glasarus.
Nelson menjelaskan, maksud tidak boleh bekerja ketika Sabat bukan berarti tidak boleh beraktivitas sama sekali. Masa Sabat adalah masa agar seseorang bisa meluangkan waktu untuk keluarganya setelah sepekan penuh bekerja mencari nafkah.
“Itulah waktu untuk kita berhubungan dengan Tuhan dan keluarga. Ketika semakin dekat dengan Tuhan, dia seharusnya semakin dekat juga dengan keluarga dan sesama,” ujarnya.
Konteks larangan melakukan pekerjaan di masa Sabat adalah pekerjaan yang tujuannya untuk mencari nafkah. Tapi ketika pekerjaan itu dilakukan dengan motif bukan mencari nafkah, alih-alih membantu dan mengasihi sesama, pekerjaan itu justru sangat dianjurkan untuk dilakukan di masa Sabat.
ADVERTISEMENT
“Pekerjaan yang dimaksud di situ adalah pekerjaan yang mencari makan, mencari nafkah, materi. Tetapi kalau pekerjaan yang menjadi saluran berkat, itu malah dianjurkan. Misalnya dokter-dokter yang niatnya membantu orang lain, lalu libur ketika Sabat, gimana dong? Enggak bisa kan,” tegas Nelson. (Widi Erha Pradana / YK-1)
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan