Tekno & Sains
·
10 Oktober 2020 13:12

Menyambut Kedatangan Raptor Migran di Hari Migrasi Burung Sedunia 10 Oktober

Konten ini diproduksi oleh Pandangan Jogja
Menyambut Kedatangan Raptor Migran di Hari Migrasi Burung Sedunia 10 Oktober (82538)
Sikep madu asia salah satu dari 3 burung raptor migran yang sering singgah di Indonesia. Foto: istimewa.
Oktober menjadi bulan penting bagi para pecinta dan pengamat burung di Indonesia. Mulai bulan ini, ribuan burung migrasi dari belahan bumi utara akan melewati langit Indonesia, dan banyak di antaranya akan singgah sementara waktu.
ADVERTISEMENT
Karena itu, bulan ini, tepatnya pada 10 Oktober hari ini, kita memperingati hari migrasi burung sedunia. Sebelumnya, hari migrasi burung sedunia diperingati pada 10 Mei. Namun karena pada bulan itu negara-negara di belahan selatan seperti di Asia Tenggara dan Australia sudah tidak dilewati oleh burung migrasi, maka kemudian disepakati hari migrasi burung sedunia diperingati dua kali dalam setahun.
Salah satu jenis burung migrasi yang akan melewati kawasan Indonesia adalah burung pemangsa atau raptor. Ada tiga spesies raptor yang rutin melewati kawasan Indonesia sejak Oktober sampai Desember, di antaranya adalah sikep madu asia (Pernis ptilorhynchus), elang-alap nipon (Accipiter gularis), dan elang-alap china (Accipiter soloensis).
“Meskipun banyak juga jenis yang secara ekologi mereka bermigrasi lumayan banyak sekitar 42 spesies. Tapi yang cukup umum dan bisa dijumpai pada bulan Oktober sampai Desember itu tiga spesies tadi,” ujar Asman Adi Purwanto, Koordinator Raptor Migran, Raptor Indonesia dalam diskusi daring bersama Biodiversity Warriors, Kamis (1/10).
ADVERTISEMENT
Burung-burung ini bermigrasi dari kawasan Asia Timur menuju selatan, khususnya Asia Tenggara. Sejauh ini, raptor migran dari Asia Timur itu yang tercatat baru sampai Indonesia, belum ada catatan mereka bermigrasi sampai Australia.
Peringatan hari migrasi burung ini menurut Asman sangat penting. Awalnya, momentum ini dijadikan sebagai wadah menjaring simpatisan untuk berkampanye tentang perlindungan dan upaya konservasi burung-burung migran.
“Kemudian berkembang sampai saat ini lebih banyak juga ke kegiatan pengamatan burung dan habitatnya,” lanjutnya.
Dari sisi ekologi, keberadaan burung migran sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem di kawasan yang dia lewati. Mereka juga menjadi indikator alami kualitas sebuah ekosistem. Jika masih banyak burung migran yang melintas, artinya ekosistem di kawasan tersebut cenderung masih baik. Sebaliknya, jika jumlah mereka terus menurun, bahkan hilang sama sekali, maka ekosistem di kawasan tersebut sudah mengkhawatirkan.
ADVERTISEMENT
Selain dari sisi ekologi, burung migran ini sebenarnya bisa menjadi potensi ekonomi. Menurut Asman, keberadaan burung migran bisa menjadi atraksi menarik yang berpotensi sebagai tujuan wisata. Misalnya dengan membuat festival pengamatan burung migran di sebuah lokasi yang menjadi perlintasan migrasi.
“Itu sudah dilakukan di beberapa negara tetangga, seperti Malaysia, Thailand. Kalau saat migrasi mereka mengadakan festival migrasi raptor, dan pengunjungnya cukup banyak sehingga aktivitas warung-warung dadakan juga banyak,” ujar Asman.
Berbagi dengan Spesies Asli
Meski bukan merupakan spesies asli, selama ini belum pernah ada konflik yang berarti antara para pemangsa migran dengan pemangsa penetap atau asli di kawasan tertentu. Salah satu faktor yang membuat tidak adanya konflik adalah karena adanya perbedaan jenis makanan antara raptor migran dengan penetap. Dengan adanya perbedaan sumber makanan, membuat mereka bisa berbagi dan tidak saling mengganggu satu sama lain.
ADVERTISEMENT
“Misalkan sikep madu asia dia cenderung lebih banyak memakan sarang-sarang lebah, sarang tawon, meskipun mereka juga memangsa hewan lain seperti reptil, tapi itu tidak banyak,” ujar Asman.
Selain itu, jalur perlintasan dan persinggahan raptor migran kebanyakan juga tidak berada di kawasan habitat raptor-raptor penetap. Sehingga semakin memperkecil potensi konflik di antara mereka.
Dari pengamatan yang dilakukan, hanya ada sedikit spesies asli yang kerap bersinggungan dengan raptor migran karena teritori. Misalnya elang-alap jambul (Assipiter trivirgatus) dan elang tikus (Elanus caeruleus). Kedua spesies penetap itu beberapa kali terpantau mencoba menghalau raptor-raptor migran yang melintasi kawasannya.
“Mungkin karena mereka menang lebih lincah karena ukurannya yang kecil, jadi iseng saja mungkin mengganggu elang yang lewat. Tapi kalau elang-elang yang besar seperti elang jawa sejauh ini belum pernah terlibat konflik,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Tempat Terbaik Mengamati Raptor Migran
Ada beberapa tempat terbaik yang biasa dijadikan tempat pengamatan raptor migran menurut Asman. Para pengamat yang ada di kawasan Jabodetabek, biasanya melakukan pengamatan di kawasan bukit paralayang di Puncak, Bogor. Untuk yang di Bandung, pengamatan biasanya dilakukan di Tebing Keraton di kawasan Taman Hutan Rakyat Ir. H. Djuanda dan di Bukit Batu di daerah Lembang.
Tempat lain yang biasa dijadikan tempat pengamatan raptor migran di Jawa Barat adalah kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai. Istimewanya di Ciremai, ketika para raptor migran ini menempuh perjalanan pulang, mereka juga akan melintasi kawasan ini sekitar bulan Maret sampai April.
Asman pernah melakukan pengamatan di tempat ini pada 2014 selama dua pekan. Pada pengamatan itu, Asman berhasil mencatat ada sekitar 6.000 individu raptor migran yang melintas di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai.
ADVERTISEMENT
“Kalau temen-temen Bali ya bagusnya di Gunung Sega, Karangasem. Itu udah the best lah pokoknya untuk pengamatan raptor migran,” ujar Asman.
Untuk melakukan pengamatan, supaya raptor migran bisa terlihat jelas dibutuhkan beberapa peralatan. Peralatan utama yang dibutuhkan adalah teropong, bisa jenis binokuler maupun monokuler.
Di tempat-tempat tertentu, seperti di puncak bukit, pengamatan cukup dilakukan menggunakan binokuler karena ketinggian terbang burung juga tidak terlalu tinggi. Baru ketika ketinggian terbang burung sangat tinggi, diperlukan monokuler supaya bisa terlihat jelas.
Bagaimana Metode Menghitung Burung Migran
Sayangnya jumlah individu raptor migran yang tercatat dari tahun ke tahun cenderung menurun. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan itu, terutama adalah perubahan dan kerusakan habitat yang menjadi jalur perlintasan migrasi.
ADVERTISEMENT
Rusaknya habitat ini membuat para musafir ini kehilangan tempat peristirahatan sebelum melanjutkan perjalanan yang panjang. Akibatnya, di tengah jalan, mereka bisa saja jatuh ke laut karena kelelahan dan akhirnya mati. Selain itu, perburuan juga turut menyebabkan menurunnya jumlah individu yang bermigrasi.
Untuk mengetahui jenis burung tertentu merupakan burung migran atau bukan, biasanya dilihat mereka sering terlihat atau terlihat di waktu-waktu tertentu saja. Selain itu, kecenderungan perilaku mereka juga berbeda dengan raptor penetap, yakni terbang dengan cara berkelompok.
“Itu kan perilaku yang jarang kita temukan, dan hanya ada di waktu-waktu tertentu,” ujarnya.
Secara morfologi, memang cukup susah membedakan perbedaan burung migran atau bukan, terlebih dalam kondisi mereka sedang terbang. Kecuali bagi orang-orang yang memang sudah khatam dan paham betul morfologi tiap spesies.
ADVERTISEMENT
Pertanyaannya, bagaimana caranya menghitung jumlah raptor migrasi yang melintas?
Untuk kepentingan penelitian, supaya bisa mengetahui pola migrasi dan jumlah individu yang bermigrasi, sebaiknya pengamatan dilakukan setiap hari. Sebab, burung migrasi akan terus bergerak, sehingga perlu dipantau setiap saat. Berbeda dengan jenis burung pantai yang bermigrasi, dimana mereka bisa menetap di sebuah tempat selama satu sampai dua pekan.
Cara menghitungnya, bisa dilakukan dengan membuat kesepakatan dengan tim, jika burung masih terbang memutar jangan dihitung dulu. Penghitungan baru dilakukan ketika mereka selesai berputar dan mulai meluncur untuk melanjutkan perjalanan.
“Jadi ketika mereka mulai keluar, itu baru dihitung satu satu, atau lima, atau sepuluh, dengan membuat garis imajiner, yang sudah melewati garis itu berarti sudah terhitung,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Cara lain bisa juga dengan membuat lingkaran-lingkaran imajiner, misalkan dalam satu lingkaran ada 50 burung. Nantinya, tinggal dikalikan saja ada berapa lingkaran yang ada di tempat tersebut.
Bisa juga menggunakan kamera dengan jangkauan yang panjang. Dengan catatan, tidak ada burung yang sama di foto yang berbeda. Sehingga nantinya tinggal dihitung saja setiap foto ada berapa individu di dalamnya.
“Itu bisa membantu juga dalam penghitungan, merupakan metode yang bisa dikembangkan,” ujar Asman. (Widi Erha Pradana / YK-1)