Food & Travel
·
22 Juli 2020 20:56

Merawat Kaktus Jadi Salah Satu Hobi yang Tren Kala Pandemi

Konten ini diproduksi oleh Pandangan Jogja
Merawat Kaktus Jadi Salah Satu Hobi yang Tren Kala Pandemi (1873)
Konsumen sedang memilih kaktus di pasar bunga Tlogorejo Jogja. Foto: Widi Erha Pradana.
Saat ribuan orang lainnya lebih tertarik untuk melihat berbagai macam jenis burung yang dipamerkan ketika wagean di Pasar Tlagareja, Gamping, Sleman, Arum Puspitaningtyas justru sibuk memilah tanaman kaktus di kios tanaman hias di sudut pasar. Dia adalah penghobi tanaman hias, khususnya kaktus.
ADVERTISEMENT
“Lucu-lucu bentuknya, seneng aja lihatnya,” kata Arum di sela memilih-milih kaktus yang akan dia beli, beberapa waktu lalu.
Selain bentuknya yang unik, perawatan terhadap kaktus menurut dia juga sangat gampang. Bagi seorang mahasiswa seperti dia dengan segudang kesibukannya, Arum tak perlu khawatir jika beberapa hari lupa menyiram tanamannya. Berbeda dengan tanaman hias kebanyakan yang sangat sensitif terhadap kesalahan perawatan.
“Di rumah sudah lumayan banyak, tapi kebanyakan yang biasa, yang Rp 30 ribuan lah. Paling mahal paling Rp 150 ribu, yang (jenis) rubra,” lanjutnya.
Karena punya waktu lebih banyak saat pandemi, sebulan terakhir Arum makin intens untuk berburu kaktus untuk melengkapi koleksinya. Selain kaktus, dia juga mengoleksi berbagai jenis tanaman hias lain seperti aglonema, anthurium, juga beberapa jenis anggrek.
ADVERTISEMENT
“Mumpung ada waktu lebih,” ujarnya.
Penjualan Kaktus Meningkat Drastis
Merawat Kaktus Jadi Salah Satu Hobi yang Tren Kala Pandemi (1874)
Aneka kaktus di Pasar Tlogorejo Jogja. Foto: Widi Erha Pradana.
Di sudut kios yang lain, Dea Farida juga sedang asyik memilih dan memilah kaktus. Di tangannya sudah ada beberapa kaktus mini yang nantinya akan dia bawa pulang. Selain dikoleksi sendiri, kaktus-kaktus yang dibeli oleh Dea nantinya juga akan dijual lagi.
“Aku jualnya kebanyakan yang kisaran Rp 30 ribu gitu sih, kayak ekor tupai atau kaktus-kaktus gymno, kaktus impor yang warna-warni gitu,” kata Dea.
Menurutnya, selama pandemi ini permintaan tanaman hias khususnya kaktus meningkat cukup signifikan. Situasi ini sangat berbeda dengan sebelum corona. Dulu dalam sepekan dia paling hanya bisa menjual dua sampai lima tanaman kaktus saja, sekarang dalam sepekan dia bisa menjual 10 sampai 15 kaktus.
ADVERTISEMENT
“Selain hobi, buat ngisi waktu luang, mungkin juga karena faktor iklim juga ya. Soalnya yang aku baca tahun ini bakal lebih panas, jadi tanaman yang cocok buat ditanam itu kaktus,” ujar Dea.
Ratmi, penjual tanaman hias sekaligus pemilik kios tanaman hias di Pasar Tlagareja juga mengatakan hal serupa. Kebiasaan bercocok tanam, termasuk tanaman hias menurut dia juga mengalami peningkatan yang sangat signifikan selama pandemi ini.
“Mungkin itu lho mas, banyak orang yang stress karena corona kan enggak pada keluar, jadi larinya ke tanaman,” ujar Ratmi.
Saat ini, hampir semua jenis kaktus menurutnya selalu laku keras, dari yang harganya puluhan ribu seperti ekor tupai atau Aporocactus martianus, golden barrel atau Echinocactus grusonii, sampai yang ratusan hingga jutaan rupiah seperti kaktus-kaktus jenis Gymnocalycium.
ADVERTISEMENT
Naiknya permintaan juga membuat harga kaktus naik cukup signifikan, misalnya kaktus paling murah yang biasanya dijual Rp 10 ribu, sekarang dijual seharga Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu. Naiknya harga ini bukan semata-mata karena banyak permintaan, tetapi juga karena mulai sulit mencari persediaan.
“Saya ambil dari Bandung. Sekarang Bandung juga enggak ada, kemarin adik saya sampai lima hari cari barang juga susah,” kata Ratmi.
Naiknya tren bercocok tanam juga dikatakan oleh Yoga Kuswara, Kepala Toko Trubus Yogyakarta. Peningkatan ini ditandai dengan naiknya penjualan sarana produksi pertanian (saprotan) seperti pupuk, benih, atau obat-obatan untuk tanaman hingga sekitar 50 persen.
“Kebanyakan saprotan kami yang meningkat cukup drastis selama pandemi ini,” ujar Yoga.
ADVERTISEMENT
Memilih dan Merawat Kaktus
Merawat Kaktus Jadi Salah Satu Hobi yang Tren Kala Pandemi (1875)
Konsumen sedang memilih kaktus di pasar bunga Tlogorejo Jogja. Foto: Widi Erha Pradana.
Dalam proses perbanyakannya, kaktus yang biasa dijual bisa dibedakan menjadi dua jenis, yakni kaktus ownroot dan kaktus grafting. Kaktus ownroot adalah kaktus yang punya sistem perakaran sendiri, artinya dia tidak menumpang pada kaktus lain. Sementara kaktus grafting, kaktus yang dihasilkan dari proses penyambungan dua jenis kaktus atau lebih untuk mendapatkan tanaman baru.
Lantas, mana yang lebih bagus? Ratmi mengatakan kedua jenis kaktus tersebut punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.
“Kalau ownroot itu lebih tahan sama penyakit, sama lebih tahan busuk kalau misal kelebihan air,” ujarnya.
Selain itu, karena kaktus ownroot memiliki sistem perakaran sendiri, dia memungkinkan untuk tumbuh hingga ukuran yang maksimal dan memiliki umur yang relatif lebih panjang. Tapi kekurangannya, pertumbuhannya juga cenderung lebih lambat.
ADVERTISEMENT
“Makanya harganya jadi lebih mahal daripada yang grafting,” lanjut Ratmi.
Sementara kaktus grafting punya keunggulan memiliki masa pertumbuhan yang lebih cepat dan perbanyakan yang lebih mudah, sehingga lebih cepat juga dia bisa dipanen. Karena itu, harga kaktus grafting di pasaran relatif lebih murah ketimbang kaktus ownroot.
Sayangnya usia kaktus grafting cenderung lebih pendek ketimbang kaktus ownroot. Pertumbuhannya kata Ratmi juga tidak bisa maksimal, tidak bisa sebesar ownroot karena sangat tergantung dengan kaktus penyambung di bagian bawah atau rootstock.
“Lebih gampang kena penyakit juga, jadi harus lebih ekstra buat ngerawatnya,” lanjutnya.
Rentannya kaktus grafting terserang penyakit atau busuk disebabkan karena adanya bagian sambungan. Di bagian inilah kaktus grafting kerap diserang berbagai penyakit. Tapi di sisi lain, sebenarnya jika mulai muncul tanda-tanda pembusukan pada rootstock-nya, kita bisa segera mengganti rootstocknya atau merangsang kaktus atas supaya bisa memiliki akar sendiri.
ADVERTISEMENT
“Sama-sama punya peminatnya sendiri sih sebenernya,” ujar Ratmi. (Widi Erha Pradana / YK-1)