News
·
8 Mei 2020 19:01

Pandemi Virus Corona Sukses Bikin Anak-anak STM Rindu Sekolah

Konten ini diproduksi oleh Pandangan Jogja
Pandemi Virus Corona Sukses Bikin Anak-anak STM Rindu Sekolah (28996)
Pelajaran mengelas di STM. Foto : Agung Widi
Libur biasanya menjadi sesuatu yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu oleh setiap pelajar, termasuk bagi anak STM. Di antara kelompok-kelompok pelajar, anak STM sudah sejak lama mendapat stereotip ugal-ugalan, nekat, suka bolos, dan paling hobi libur.
ADVERTISEMENT
Tapi siapa sangka, anak-anak sekolah, termasuk pelajar STM yang biasanya senang setengah mati ketika libur, kini justru mulai merasa muak dan ingin berangkat sekolah.
“Sudah sangat bosan menjalani hari-hari hanya seperti ini terus, sudah bingung bagaimana cara menghibur diri sendiri agar tidak malas menjalani hari-hari,” kata Azzahra Salsabila, salah seorang siswi kelas XI jurusan Konstruksi Gedung Sanitasi dan Perawatan di SMKN 2 Depok, Yogyakarta, pekan ini.
Seperti pelajar lainnya, Zahra sudah sekitar sebulan ini belajar di rumah gegara pandemi. Dia mengaku sudah kehabisan cara untuk membunuh kebosanan yang melanda dirinya di tengah libur panjang yang entah sampai kapan ini. Dia sudah sangat merindukan bertemu dengan teman-temannya, bercanda dan mengerjakan tugas bersama, serta praktik di bengkel sekolah dengan teman-temannya.
ADVERTISEMENT
“Sekarang setiap hari cuman sekolah online, pesantren online, sama COD barang dagangan saya,” lanjut Zahra.
Untuk menghabiskan waktu luangnya supaya tak semakin suntuk dan stres, Zahra kini berjualan sempol dan tahu walik secara online. Setiap hari, dia keluar rumah hanya untuk belanja kebutuhan usahanya dan bertemu pembeli.
Teman Jadi Alasan Rindu Sekolah
Pandemi Virus Corona Sukses Bikin Anak-anak STM Rindu Sekolah (28997)
Praktikum di STM. Foto : Agung WIdi
Kebosanan serupa dialami oleh Nita Fitriani, siswi kelas XI jurusan Teknik Instalasi Tenaga Listrik di SMK Piri 1 Yogyakarta. Selama sekolah diliburkan, dia juga nyaris tak keluar rumah sama sekali jika memang tidak ada kepentingan yang memaksa.
Rasa muaknya semakin menjadi ketika sedang proses belajar online selalu saja ada siswa yang terlambat masuk bahkan menurutnya ada yang menyepelekan. Tidak semua guru menurutnya juga bisa memahami keadaan siswa dalam mengikuti belajar online.
ADVERTISEMENT
“Selain belajar online, biasanya mengerjakan laporan PKL (Praktik Kerja Lapangan) buat mengisi waktu luang,” kata Nita.
Awal-awal belajar di rumah dia merasa nyaman-nyaman saja, terlebih dia jadi punya lebih banyak waktu luang untuk berkumpul dengan keluarga. Namun lama kelamaan, belajar di rumah di tengah pandemi menjadi sesuatu yang sangat memuakkan. Kini Nita sudah sangat ingin berangkat sekolah seperti dulu dan bertemu dengan teman-temannya lagi.
“Biasanya kita belajar bareng-bareng, ini hanya sendiri dan tidak ada yang saling bercanda satu sama salin. Paling kangen saat di sekolah itu waktu berkumpul saat jam kosong di kantin sama teman-teman,” lanjutnya.
Kini, untuk membunuh rasa bosannya, Nita biasanya membantu-bantu mengerjakan pekerjaan rumah atau mengerjakan projek praktikum dengan alat dan bahan yang ada di sekitarnya sebagai pengganti praktikum di sekolah. “Kalau saya biasanya membenarkan lampu yang rusak, sebagai pengganti praktik di sekolah,” kata Nita Fitriani.
ADVERTISEMENT
Membunuh Sepi dengan Hobi
Bagi pelajar yang tinggal di pusat kota mungkin tidak jadi kendala jika harus melakukan pembelajaran secara daring. Tapi tidak dengan Maulana Akbar Hartono dan mungkin ribuan atau jutaan pelajar lain yang masih harus bergelut dengan susahnya sinyal. Belum lagi masalah penggunaan kuota yang semakin boros sehingga menimbulkan permasalahan lain. “Enggak tahu berapa lama lagi masih kuat dengan kondisi kayak gini, rasanya sudah muak sekali,” kata Akbar.
Akbar adalah salah seorang siswa kelas XI jurusan Teknik Audio Video di SMK Muhammadiyah 1 Playen, Gunungkidul. Dia juga sudah sekitar sebulan ini harus belajar di rumah. Dan kini, dia sudah merasa sangat bosan dengan situasi seperti ini. “Ya seneng sih libur. Tapi kalau kayak gini, enggak bisa main juga, ya malah stres di rumah terus mas,” keluhnya.
ADVERTISEMENT
Meski tak pernah bertemu dengan tema-temannya, namun Akbar sesekali masih keluar rumah untuk mencari takjil dan angin segar di hutan Mboro dekat rumahnya. Di rumah, dia biasanya ikut membantu mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyapu rumah dan halaman, ngepel, mencuci, atau memberi pakan ayam. “Udah pengin banget ketemu teman-teman, tapi kan masih kayak gini. Lagian akses jalan masuk ke rumah teman-teman juga pada dilockdown,”lanjut Akbar.
Beruntung, Akbar punya hobi mengotak-atik sepeda motor untuk membunuh sepi dan bosannya. Meski sebenarnya tak banyak juga yang bisa dilakukan dengan sepeda motornya, namun memandang dan mengelapnya cukup membuat dia terhibur. “Ya gak aneh-aneh paling cuman bersihin motor sama variasi ringan aja,” kata dia (Widi Erha Pradana / YK-1)
ADVERTISEMENT