Bisnis
·
23 Februari 2021 13:52

Para Pejuang Kartu Prakerja, Gagal Berkali-kali Tanpa Tahu di Mana Salahnya

Konten ini diproduksi oleh Pandangan Jogja
Para Pejuang Kartu Prakerja, Gagal Berkali-kali Tanpa Tahu di Mana Salahnya (237867)
Warga mencari informasi tentang pendaftaran program Kartu Prakerja gelombang kedua di Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Ngilu. Sendi-sendinya sudah mau rontok. Pandemi menguji daya tahannya hingga limit. Tahun lalu ia tak lolos, sulit baginya membayangkan tak lolos lagi tahun ini. Ketahuilah, ia hanya ingin belajar hal yang sederhana saja: bisa mengelola keuangan dengan baik.
ADVERTISEMENT
Entah sudah berapa kali Laela Ifti Suryawati, 24 tahun, gagal dalam seleksi kartu prakerja. Padahal, besar sekali harapannya untuk bisa mengikuti program pelatihan tersebut.
“Kalau yang bisa tak hitung empat kali, bahkan mungkin lebih. Yang pasti udah lebih dari tiga kali,” kata Laela, di Jogja, Senin (22/2).
Selepas lulus dari sebuah kampus negeri di Yogyakarta sekitar setahun yang lalu, kegagalan-kegagalan seperti itu memang sudah bukan hal baru bagi Laela. Pasalnya, entah sudah berapa puluh, atau mungkin ratusan lamaran pekerjaan yang dia kirimkan ke berbagai perusahaan berakhir dengan penolakan, sisanya tak pernah ada kabar yang jelas.
Tapi kegagalan dalam seleksi program kartu prakerja ini terasa lebih berat bagi dia. Pasalnya, teman-temannya yang juga mendaftar program tersebut lebih banyak yang lolos ketimbang yang gagal.
ADVERTISEMENT
“Bahkan sampai daftarin keluarganya sekalian, lolos semua!,” kata dia.
Entah, sampai sekarang kegagalannya masih menjadi misteri. Dia merasa semua proses pendaftaran yang yang dia lalui telah sesuai dengan prosedur yang ada, dengan teman-temannya pun tak ada yang berbeda. Dia hanya bisa menerka-nerka, kenapa nasibnya tidak semulus teman-temannya yang lain.
Asumsinya, ada beberapa penyebab yang membuatnya selalu gagal dalam seleksi program kartu prakerja, karena kuota sudah penuh atau data domisili dan KTP yang tidak sama. Sebab, di KTP tertera alamatnya di Temanggung sementara dia mengisi domisili di Jogja.
“Sama tes minatnya kurang bagus, tapi kayaknya enggak pengaruh juga. Enggak tahu lah, kalau menurutku udah sesuai aturan aku daftarnya,” lanjutnya.
Tahun ini, dia sudah mepersiapkan diri untuk mengikuti seleksi kartu prakerja lagi. Dia akan mencoba mengubah domisili agar sesuai dengan data yang di KTP. Selain itu, dia juga sudah mempersiapkan mental jika nantinya gagal lagi.
ADVERTISEMENT
“Kalau enggak lolos berarti ya terpaksa buat surat pernyataan,” kata Laela.
Kendala Teknis
Para Pejuang Kartu Prakerja, Gagal Berkali-kali Tanpa Tahu di Mana Salahnya (237868)
Ilustrasi daftar Kartu Prakerja. Foto: Dicky Adam Sidiq/kumparan
Kegagalan demi kegagalan juga dialami oleh Nandana Yumnayasa, 23 tahun. Sudah dua kali dia mencoba keberuntungan mengikuti seleksi kartu prakerja, dan semuanya berakhir dengan kegagalan.
Jika Laela tak pernah berhasil karena hasil tesnya tidak lolos, Nandana gagal lebih awal. Dia tidak pernah berhasil menyelesaikan proses pengisian data. Ketika sedang mengisi data, sistem tak pernah berhasil memuatnya.
“Waktu sudah keisi terus lanjut malah mbalik lagi dan kosong, yang barusan tak isi ilang semua. Begitu terus masalahnya,” ujar Nandana Yumnayasa.
Dia mencoba proses yang sama berkali-kali, bahkan sampai pinjam ponsel ke teman yang sebelumnya sudah berhasil mengisikan data yang sama. Tapi hasilnya pun tetap sama, dia tidak pernah berhasil melanjutkan ke proses berikutnya.
ADVERTISEMENT
“Sampai punya tiga email aku,” katanya sembari terkekeh.
Padahal dia ingin sekali mengikuti pelatihan program kartu prakerja untuk mendukung usaha konveksi yang dia tekuni sekarang. Karena itu, ketika pemerintah kembali membuka program kartu prakerja awal tahun ini, Nandana menyambut baik dan akan mencobanya lagi meski sudah tidak terlalu berharap banyak seperti sebelumnya.
“Pingin ikut yang bisa dukung kerjaanku sekarang, mungkin marketing, pengelolaan media sosial, jahit, sablon, kewirausahaan, sejenis itu lah,” kata Nandana Yumnayasa.
Lolos setelah Berkali-kali Gagal tapi Malah Bingung
Para Pejuang Kartu Prakerja, Gagal Berkali-kali Tanpa Tahu di Mana Salahnya (237869)
Tangkapan layar halaman resmi kartu prakerja.
Kegagalan seleksi program kartu prakerja seperti Laela dan Nandana juga sempat dialami Isna Latif, 24 tahun, pemuda asal Kebumen, Jawa Tengah, yang kini berdomisili di Yogyakarta. Isna sudah empat kali gagal seleksi program kartu prakerja, tanpa tahu di mana kesalahannya.
ADVERTISEMENT
“Aku baru lolos gelombang enam atau tujuh, lupa,” kata Isna Latif.
Tapi setelah lolos, Isna malah bingung. Sebab, dia merasa tidak melakukan sesuatu yang berbeda dari seleksi-seleksi sebelumnya. Dia hanya mengerjakan soal ujian ketika proses seleksi yang pertama saja, sedangkan seleksi yang kedua dan seterusnya hanya menggunakan hasil tes yang pertama.
Hingga akhirnya, pada seleksi yang ke sekian kali dia dinyatakan lolos dan mendapatkan insentif sebesar Rp 2,5 juta. Padahal, hasil ujiannya tidak ada yang berbeda karena menggunakan hasil ujian yang pertama.
“Enggak tahu karena yang daftar sedikit jadi yang nilainya jelek tetap lolos, tapi setahuku peminatnya selalu penuh. Enggak tahu apanya, enggak ngerti aku,” kata dia. (Widi Erha Pradana / YK-1)
ADVERTISEMENT