News
·
4 Oktober 2019 6:32

Pasar Malam Sekaten Ditiadakan, Pedagang Minta Kebijaksanaan Keraton

Konten ini diproduksi oleh Pandangan Jogja
Pasar Malam Sekaten Ditiadakan, Pedagang Minta Kebijaksanaan Keraton (8871)
ilustrasi pasar malam. sumber foto : pixabay
YOGYAKARTA – Pembatalan pasar malam Sekaten oleh Keraton Yogyakarta membuat shock para pedagang pasar malam Sekaten. Mereka meminta Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat lebih bijaksana dan mempedulikan nasib para pedagang yang sebagian besar adalah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah).
ADVERTISEMENT
“Tentu saja kami kaget dengan berita ini. Karena pasar malam Sekaten ini kan harapan besar 800 pedagang, apalagi kondisi penjualan di pasar kan juga sedang drop. Rasanya putus asa, kok bisa begini mudahnya ditiadakan,” kata Sekretaris Komunitas Pedagang Pasar Malam Sekaten, Alia Rachman Isnandi, Kamis (3/10) malam di Yogyakarta.
Alia mengatakan dari 800 pedagang itu dengan penjualan sehari di Sekaten rata-rata Rp. 1,5 juta maka sudah ada putaran uang Rp. 1,2 milyar yang yang hilang jika pasar malam ditiadakan dari perayaan Sekaten. Perayaan Sekaten biasanya diselenggarakan rata-rata 25 hari maka sudah ada Rp. 30-an milyar yang seharusnya dinikmati UMKM hilang begitu saja. Ini belum menghitung pemasukan di wahana permainan.
Padahal, sudah banyak pedagang yang menyiapkan dagangannya jauh-jauh hari bahkan hingga mengutang. Sebab Sekaten adalah even jualan yang sangat diharapkan untuk menutup kerugian sehari-hari jualan di pasar yang beberapa tahun terakhir mengalami penurunan omset signifikan.
ADVERTISEMENT
“Banyak pedagang sudah stocking sampai ngutang-ngutang, tiba-tiba ditiadakan trus kami sekarang ditanya sama mereka harus jawab bagaimana?,” kata Alia yang sehari-hari berjualan di Pasar Klitikkan Pakuncen Yogyakarta.
Alia berharap Keraton bisa menjadi pengayom bagi pedagang kecil dan semua rakyat kecil yang terlibat dalam perayaan pasar malam Sekaten. Alia mengatakan ribuan orang terlibat sebagai pedagang dan karyawan untuk jualan di stand Sekaten. Belum lagi para pekerja di wahana permainan, pedagang musiman yang jualan di luar zona Sekaten, dan pertokoan dan warung di sekitar alun-alun utara yang juga mendapat berkah dari ramainya pasar malam.
“Sekaten ini sudah banyak dijagakke (diandalkan-red) sebagai sumber pemasukan pedagang. Seperti lebaran, uang hasil jualan sudah dipersiapkan untuk bayar kontrakan kios di pasar, untuk sekolah anak,” jelas Alia.
ADVERTISEMENT
Alia sangat menyayangkan even terbesar di Yogya untuk UMKM ini harus hilang padahal pedagang pasar makin tersisih oleh keberadaan toko online dan juga mall yang terus bertambah di Yogyakarta.
"Uang milyaran yang harusnya bisa dinikmati oleh ribuan rakyat kecil akhirnya pergi ke mall kalau yang diharapkan dari pasar adalah rapi, bersih, tidak berdesakan, berpendingin udara. Masak orang-orang besar, pemerintah, tidak memikirkan rakyat kecil dan berpihak pada mall?," kata Alia menyayangkan.
Alia juga mengatakan, menurut pengetahuannya, pasar malam sebenarnya tidak bisa dipisah dari tradisi Sekaten. Syiar Islam di era Demak yang kemudian dilanjutkan oleh Mataram Islam menggunakan pasar malam untuk menarik perhatian sebanyak mungkin penduduk dari segala penjuru negeri. Baru setelah datang, berkumpul, mereka mendapat pemahaman agama dari para pemimpin agama.
ADVERTISEMENT
“Para ahli sejarah dan budayawan tentu bisa diajak berembug dulu sehingga jangan tiba-tiba seperti ini. Karena bahkan ada yang mengatakan bahwa pasar malam sekaten selama 20-30 hari adalah perayaan maulid nabi terbesar di dunia,” kata Alia. (DD-1)