kumparan
search-gray
Bisnis7 Januari 2020 20:09

Saat Ekonomi DIY Rentan oleh Tekanan Global

Konten kiriman user
jogja-3430579_960_720.jpg
Wisata Hutan Pinus Imogiri Jogja. Foto : Pixabay
Prospek bisnis dan pertumbuhan ekonomi di Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun ini masih akan dibayangi oleh perekonomian global yang belum membaik yang ditandai dengan belum jelasnya skenario akhir perang dagang antara Amerika Serikat dan China.
ADVERTISEMENT
Demikian dikemukakan oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY yang juga pengarah Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Himan Tisnawan, dalam jajak pendapat ISEI Cabang Yogyakarta, Selasa (7/1).
Himan juga menggarisbawahi pesatnya perkembangan teknologi digital yang mengubah secara eksponensial berbagai sendi kehidupan, sebagai variabel yang mengubah landscape bisnis di DIY.
“Tahun 2020 adalah tahun tantangan sekaligus peluang bagi DIY,” katanya.
Pengurus ISEI Jogja yang juga pengusaha muda di bidang kertas, Soeharto, mengatakan bahwa kondisi bisnis di luar sektor pariwisata di DIY dalam waktu terakhir sedang mengalami penurunan (slowdown). Omzet bisnis semakin menurun, meskipun sampai saat ini masih bisa bertahan.
Sama seperti Himan, Soeharto memandang bahwa salah satu faktor penyebab kondisi tersebut adalah kondisi perekonomian dunia yang sedang lesu. Perang dagang AS-China menjadikan perekonomian dunia belum bisa bangkit. Kondisi terakhir memanasnya hubungan AS-Iran diprediksi akan menjadikan harga minyak dunia meningkat.
ADVERTISEMENT
“Pada akhirnya perekonomian dunia dalam kondisi tetap stagnan yang berakibat kondisi bisnis di Indonesia dan DIY sebagian tetap lesu,” jelasnya.
Sementara di sektor properti, Pengurus ISEI Jogja yang juga Direktur Utama PT. SID Property, Bogat Agus Riyono, mengatakan bahwa keberhasilan pemerintahan Jokowi dalam menjaga tingkat bunga perbankan dan menguatnya nilai tukar rupiah hingga akhir 2019 sebenarnya merupakan angin segar bagi bisnis properti.
“Namun prospek tersebut akan dipengaruhi juga oleh kinerja para pengembang selama periode yang lalu. Konsumen juga makin cerdas dan teliti memantau data dan realisasi di lapangan,” jelasnya.
Di sektor keuangan, pengarah ISEI Jogja dan Kepala OJK DIY, Untung Nugroho menyatakan meski persaingan semakin ketat namun secara umum industri keuangan di DIY terus meningkat.
ADVERTISEMENT
“Khusus bagi BPR dan BPRS perlu meningkatkan kualitas layanan dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan teknologi informasi yang itu semua perlu dibangun dengan permodalan yang cukup,” jelasnya.
Perlunya Sumber Pertumbuhan Baru
cd2ee9sg3fiylwnw82m4.jpg
Bandar Udara Internasional Yogyakarta. Foto: Resya Firmansyah/kumparan
Pada 2019 pertumbuhan ekonomi DIY tahun 2019 mencapai angka 6 persen lebih, lebih tinggi dari rerata pertumbuhan nasional yang sebesar 5 persen. Pertumbuhan ekonomi tersebut salah satunya dipengaruhi pembangunan infrastruktur, khususnya pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta (BIY).
Sekretaris ISEI Jogja dan Dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomi (FBE) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y. Sri Susilo, mengatakan bahwa pada 2020 Jogja tidak bisa lagi mengandalkan proyek infrastruktur sebagai penunjang pertumbuhan. Sebab, pembangunan BIY hampir selesai, sehingga kontribusi di tahun 2020 tidak akan sebesar tahun sebelumnya.
ADVERTISEMENT
“Ke depan harus dicari sumber-sumber baru pertumbuhan ekonomi bagi DIY. Ekonomi kreatif, termasuk ekonomi digital, perlu didorong dan dikembangkan secara signifikan agar dapat menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi di DIY. Kontribusi sektor pariwisata dan turunannya dan sektor pendidikan dan turunannya, masih bisa ditingkatkan lagi,” paparnya.
Sri Susilo menyayangkan perizinan di DIY yang masih banyak mengganggu investasi. Padahal di pusat sudah memberlakukan Online Single Submision (OSS) namun begitu sampai ke daerah masih banyak hambatan yang sampai sekarang relatif belum banyak berubah.
“Banyak rasan-rasan pengusaha mau invest, di pusat beres, begitu sampai daerah, Sleman terutama ya, dapat banyak kesulitan,” katanya.
Susahnya perizinan di level daerah, sering justru terhambat di izin teknis yang tidak terkait langsung dengan investasi, misalnya Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Perda Rencana Tata Ruang Tata Wilayah (RTRW) yang belum terbit.
ADVERTISEMENT
“Di DIY pada umumnya harga tanah mahal maka harusnya tidak hanya ada kemudahan namun justru ditambahi insentif seperti pengurangan pajak. Kalau tidak ada investasi baru susah bagi DIY untuk tumbuh tinggi,” jelasnya.
Kepala Perwakilan BI DIY, Himan Tisnawan, mengatakan DIY memiliki kekuatan pada keunggulan SDM, pelaku UMKM, destinasi wisata yang semakin atraktif, bandara baru di Kulonprogo dengan segala peluangnya, serta warisan budaya yang sangat kaya luar biasa.
“Nah, itu semua harus mampu dioptimalkan untuk menjadi sebuah kekuatan pertumbuhan ekonomi DIY yang semakin inklusif untuk tumbuh lebih baik lagi,” jelasnya. (Eko SP/YK-1)
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white