Tekno & Sains
·
24 September 2020 13:26

Soal Demam Berdarah Bikin Kebal Corona, Epidemiolog UGM: Hati-hati Bias

Konten ini diproduksi oleh Pandangan Jogja
Soal Demam Berdarah Bikin Kebal Corona, Epidemiolog UGM: Hati-hati Bias (124)
Ilustrasi nyamuk Aedes aegypti, vektor demam berdarah dengue. Foto: Pixabay
Riset sejumlah peneliti dari Universitas Duke, Brasil yang mengarah pada kesimpulan bahwa orang yang pernah terkena demam berdarah dengeu (DBD) lebih kebal pada virus corona menurut epidemolog Universitas Gadjah Mada, Riries Andono Ahmad, adalah riset yang bias dan kurang berguna bagi kebutuhan masyarakat dunia melawan COVID-19 pada bulan-bulan mendesak ini.
ADVERTISEMENT
“Riset tersebut menggunakan desain penelitian yang memberikan bukti kausalitas yang sangat lemah. Desain yang digunakan mempunyai bias yang cukup mendasar dan bisa menyebabkan kesalahan pengambilan kesimpulan,” kata epidemolog yang akrab dipanggil Doni ini saat dihubungi Kamis, (24/9).
Doni menyebut desain riset yang membandingkan distribusi geografis kasus COVID-19 dengan penyebaran demam berdarah memang dikenal dalam desain riset epidemologi. Tetapi, apa yang sekarang sudah disiarkan ke media yang telah mengarah pada sebuah kesimpulan bahwa pasien DBD kebal corona adalah sebuah ecological fallacy karena sangat mungkin terjadi individu yang kena demam berdarah yang kena COVID-19 itu beda orang.
“Desain riset itu baru desain hipotesa dan masih sangat jauh sekali dari kemungkinan untuk mengambil kesimpulan, karena risetnya akan sangat kompleks, butuh waktu lama, sehingga dalam situasi sekarang riset itu hanya seperti mengatakan kalau mau bau mulut karena pete hilang makanlah jengkol, buat apa? Terutama untuk konteks sekarang yang butuh kecepatan dalam menghadapi situasi pandemi yang makin berat,” papar Doni.
Soal Demam Berdarah Bikin Kebal Corona, Epidemiolog UGM: Hati-hati Bias (125)
Riries Andono Ahmad. Foto: Dok. BPBD DIY
Doni menjelaskan untuk melakukan riset relasi DBD dan COVID memerlukan desain yang khusus dan diukur pada level individu. Riset harus menemukan orang yang kena DBD dan tidak, dan kedua-duanya pernah terpapar COVID atau tidak. Seberapa banyak yang kena DBD juga kena COVID dan seberapa yang tidak. Itu sangat kompleks karena sangat sulit untuk mendapatkan individu yang terpapar DBD sekaligus terpapar COVID.
ADVERTISEMENT
“Karena apa? Karena 70 persen yang kena Dengue itu 70 persen asimtomatik, persentase yang hampir persis dengan COVID. Lalu bagaimana memastikan dan mengontrol bias, dan kemudian bisa memastikan sebuah kesimpulan di akhir riset? Akan sangat sulit, maka riset itu ya kalaupun terbukti ya cuma menarik sebagai olahraga intelektual tapi tidak terlalu bermanfaat untuk epidomologi, karena jengkol dan pete sama-sama bau, dengue dan COVID sama-sama mematikan,” jelas Doni.
Soal Demam Berdarah Bikin Kebal Corona, Epidemiolog UGM: Hati-hati Bias (126)
Miguel Nicolelis. Foto: apbspeakers.com
Riset relasi DBD dan COVID oleh para peneliti dari Universitas Duke, Brasil menjadi berita di banyak media setelah salah profesor pemimpin riset, Miguel Nicolelis, berbicara kepada wartawan Reuters yang kemudian dimuat dengan tajuk sebagai laporan eksklusif.
Laman resmi Universitas Duke, Brasil, menjelaskan bahwa Miguel Nicolelis, adalah Profesor Ilmu Saraf dari Fakultas Kedokteran Duke, Profesor Neurobiologi Universitas Duke, Teknik Biomedis dan Psikologi dan Ilmu Saraf, dan pendiri Duke's Center for Neuroengineering. Halaman Wikipedia menyebutkan Nicolelis adalah seorang ilmuwan dan dokter Brasil, yang terkenal karena karya perintisnya seputar teknologi antarmuka mesin-otak. Dia banyak berbicara di forum dunia, salah satunya untuk TED, untuk topik terkait Neuroengineering.
ADVERTISEMENT
Sementara Riries Andono Ahmad saat ini menjabat sebagai Direktur Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada. Doni juga menjadi peneliti di Word Mosquite Program (WMP) yang sedang melakukan riset penting dan salah satu yang paling maju di dunia yakni bagaimana menekan laju demam berdarah dengue dengan melepas nyamuk yang mengandung bakteri Wolbachia. Karena riset tersebut, WMP juga menjadi salah satu destinasi Bill Gates saat berkunjung ke Indonesia. Doni memperoleh gelar master of public health pada Umeå International School of Public Health, Epidemiology and Public Health Sciences, Umeå University, Umeå, Swedia. Gelar doktornya diperoleh dari Department of Public Health, Erasmus MC, Rotterdam, Belanda. (ES Putra / YK-1)
ADVERTISEMENT