Opini & Cerita
·
3 Desember 2019 13:29

Usaha Memulihkan Trauma Kekerasan Atas Nama Agama di Flores Timur

Konten ini diproduksi oleh Pandangan Jogja
Usaha Memulihkan Trauma Kekerasan Atas Nama Agama di Flores Timur (9181)
Salah satu ritual budaya masyarakat Flores Timur NTT yang ditampilkan dalam film 'Ketika Tunas-Tunas Itu Tumbuh' saat diputar di acara Pusaran Antarragam di Studio Teater Garasi Yogyakarta, Senin (2/12) malam.
Api membara, asap hitam membubung tinggi ke awan. Suasana mencekam, air mata tumpah. Para tetua masyarakat adat Lewotala Lewolema Flores Timur, NTT, hanya bisa melihat pasrah ketika Luwekluok atau Korke, rumah adat mereka dibongkar dan dibakar. Padahal, Korke adalah pusat kegiatan ritual, sosial, dan budaya bagi masyarakat adat Lewotala Lewolema. Tapi karena fungsi itulah Korke diberangus sebab dianggap sebagai simbol kekafiran.
ADVERTISEMENT
Rumah adat Korke sudah sekian lama mempersatukan masyarakat lima kampung; Lewotala, Belogili, Lamatou, Kawaliwu, serta Leworahang. Di sanalah hal-hal krusial yang menyangkut kehidupan masyarakat adat Lewolema dibahas.
Mirisnya, anak-anak muda kampung setempatlah yang memberangus rumah adat Korke yang sudah sekian lama menjadi jangkar kehidupan nenek moyangnya sejak berabad-abad silam. Tak tanggung-tanggung, anak-anak muda yang bertindak sebagai aparat kemanan desa itu menyebut para tetua adatnya sebagai setan, kafir, dan penyembah berhala.
Tak banyak yang bisa dilakukan oleh para tetua adat yang tak fasih berbahasa Indonesia itu ketika mereka dituduh mendirikan agama baru (padahal adat ada di sana ratusan tahun sebelum agama baru yang dipercaya anak-anak muda ini). Mereka bahkan disiksa berjalan kaki 17 kilometer untuk membersihkan rerumputan di halaman kantor camat selama sebulan penuh tanpa disediakan makan dan minum.
ADVERTISEMENT
Atas Nama Agama, Semua Dimusnahkan
Tak hanya rumah adat Korke yang menjadi korban keberingasan anak-anak muda itu. Ritus dan sejumlah tradisi tak luput jadi korban. Sebut saja menenun, membuat tato etnik, meratakan gigi, melubangi daun telinga, dan ritual meminta hujan turut dianggap ajaran sesat. Bahkan pohon-pohon besar yang ditanam sebagai penyimpan air, mengingat daratan Flores yang gersang, turut ditebangi karena dituduh sebagai simbol kekafiran dan pusat penyembahan berhala.
“Padahal tradisi itulah yang menjaga generasi kami dari tahun ke tahun sejak berabad-abad lampau,” kata Silvester Petara Hurit, putra asli Lewolema di acara Pusaran Antarragam di Studio Teater Garasi, Yogyakarta, setelah pemutaran film dokumenter “Ketika Tunas-Tunas Itu Tumbuh” pada Senin (2/12) malam.
ADVERTISEMENT
Kain dan peralatan tenun dimusnahkan. Akibatnya, rumah-rumah tradisional, lumbung, simbol-simbol, serta segala ekspresi budaya seperti nyanyian etnik, sastra lisan, musik, dan tarian adat perlahan-lahan hilang dari kehidupan masyarakat Lewolema. Sementara, tetua adat yang selama ini berperan sebagai penjaga tradisi tak pernah bisa mengerti tuduhan yang dilayangkan kepada mereka dan siapa aktor di balik semua itu.
Sejak peristiwa kelam yang terjadi pada 28 Agustus 1970 itu, masyarakat terbelah menjadi dua, yakni mereka yang menjalankan tradisi adat dan mereka yang meninggalkannya untuk menjalankan secara murni agama formal yang diwajibkan negara.
Beberapa yang mencoba menjalankan keduanya, tradisi adat maupun ajaran agama formal, yang mereka dapat adalah cemoohan dari pemeluk teguh agama formal karena dianggap plin-plan dan tak punya sikap. Ketegangan itu terus terjadi hingga puluhan tahun, kendati tak mencuat sampai pada konflik fisik.
ADVERTISEMENT
“Gereja sebagai institusi punya kendaraan, punya mimbar, juga pemerintah. Tetapi otoritas-otoritas adat yang menjaga tradisi nilai-nilai itu yang sudah tumbuh begitu lama tidak punya ruang,” kata Silvester.
Penyumbang Orang-orang Terbaik yang Terpinggirkan
Usaha Memulihkan Trauma Kekerasan Atas Nama Agama di Flores Timur (9182)
Silvester Petara Hurit, putra asli Lewolema, (tengah) saat memberi paparan di acara Pusaran Antarragam di Studio Teater Garasi, Yogyakarta, Senin (2/12) malam setelah pemutaran film dokumenter “Ketika Tunas-Tunas Itu Tumbuh.”
Pada 2010 Silvester pulang dari Bandung setelah menyelesaikan pendidikannya di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI). Tak lama kemudian, dia lolos sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Pariwisata Flores Timur.
“Kamu bekerja, bukan pertama karena uang, kamu bekerja karena ini kampung halaman kamu. Kamu yang harus bikin baik, bukan orang lain,” kata Silvester mengenang nasihat almarhum sang ayah di malam hari sebelum dia masuk kerja di hari pertamanya sebagai ASN.
Air matanya menetes ketika dia mengenang masa-masa delapan tahun silam. Silvester paham betul akan posisinya yang hanya sebagai staf, bukan sebagai pengambil kebijakan. Tapi karena pesan sang ayah, dia bertekad memberikan kontribusi untuk kampung halamannya dengan segala yang dia punya.
ADVERTISEMENT
“Saya tidak bisa buat banyak hal, tapi saya punya basic seni. Paling tidak melalui jalan ini saya bisa membantu mengupayakan hidup yang lebih baik untuk orang-orang saya,” ujar Silvester.
Selama ini, kata Silvester, orang-orang terbaik Flores selalu dikirim ke luar. Sebagai daerah dengan penganut Katolik hampir 95 persen, orang-orang Flores banyak yang menjadi penasihat para petinggi gereja. Orang-orang Flores juga menjadi penyumbang imam, pastor, serta biarawan dan biarawati terbesar saat ini. Tapi daerahnya justru dikenal sebagai daerah yang miskin.
Padahal, potensi alamnya terutama laut yang mereka miliki menurut Silvester sangat luar biasa. Namun, hanya karena daerahnya gersang dan sulit ditanami padi, Flores dicap sebagai daerah yang miskin. Terlebih ketika harga kopra dan kelapa jatuh, beras mahal, ladang gersang, sayur tak mau tumbuh, ditanami padi pun tak memungkinkan, lengkap sudah wajah kemiskinannya.
ADVERTISEMENT
“Orang membawa kelapa yang sudah dikupas, yang sudah dipanjat. Kerja yang begitu capek ke pasar, satu kelapa hanya Rp 1.500, Rp 1.000 satu buah, dia butuh berapa buah untuk beli beras 1 kilogram? Sementara anaknya harus sekolah,” kata Silvester masih berlinang air mata.
Menurut Silvester, hubungan harmonis masyarakat Flores harus dijaga agar mereka tetap bisa bertahan hidup. Misalnya, orang di daerah pegunungan memiliki ubi dan sayur-sayuran, mereka kemudian ke pasar dan bertamu dengan orang-orang pesisir dengan hasil tangkapan ikannya. Masyarakat harus menjaga hubungan harmonis satu sama lain, sehingga rantai tolong menolong untuk saling melengkapi bisa terjadi.
“Saya butuh ini, saya punya ini, dibawa ke pasar. Bisa ditukarkan dengan yang lain,” ujar Silvester.
ADVERTISEMENT
Ketika Tunas Itu Tumbuh
Silvester sangat miris ketika mendapati budaya dan tradisi adat yang seharusnya menjadi kekayaan yang tak ternilai justru perlahan semakin mendekati ajal. Potensi besar itu tak dikelola bahkan tak pernah mendapat perhatian yang cukup karena dinilai tak memiliki peran dalam menciptakan kesejahteraan.
Dengan segala keterbatasan dan sedikit akses di pemerintahan, Silvester mulai menggunakan posisinya itu untuk menghidupkan lagi budaya dan tradisi yang sempat mati karena traumatik masa lampau.
“Awalnya mulai bikin lomba-lomba dan event,” lanjut Silvester.
Tetapi dia khawatir ketika tradisi itu hanya sebatas lomba saja. Sebab, jika nantinya tidak ada dukungan anggaran dari pemerintah maka tradisi itu tidak akan berlanjut. Dia kemudian mulai bergerak untuk membentuk komunitas, mendampingi sekolah, serta kelompok-kelompok yang potensial untuk menghidupkan lagi budaya dan tradisi masyarakat adat Lewolema.
ADVERTISEMENT
Sebagai pemuda yang memiliki latar belakang pendidikan seni, Silvester sangat miris ketika melihat budaya dan tradisi adat kampung halamannya semakin hilang. Karena itu, pada 2018, dia dan beberapa orang memberanikan diri untuk melaksanakan lomba antarkecamatan itu di kampung.
“Dasar pemikirnnya sebenarnya sederhana, bagaimana mengembalikan kesenian, kebudayaan berbasis komunitasnya. Dan bagaimana kami yang tumbuh hari ini, yang tradisi kami dipotong seperti pohon, dan bagaimana tunasnya harus tumbuh,” ujar Silvester.
Acara itu dilaksanakan pada 5 sampai 7 Oktober 2018 dan menjadi hari bersejarah bagi masyarkat adat Lewolema. Mereka boleh merayakan lagi seni, ritus, dan atraksi budaya secara kolektif dalam Festival Nubun Tawa, yang bermakna, Tunas yang Tumbuh.
“Itu mewakili generasi kami, kami harus tumbuh memiliki tradisi kami dan bicara tentang diri kami dan merayakan keberadaan diri kami dalam konteks ruang dan waktu kami,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Dia mencontohkan, zaman dulu pohon beringin ditanam hampir di seluruh penjuru kampung karena daerahnya kering dan curah hujan yang pendek. Beringin itu diharapkan dapat menjadi penyimpan air, sehingga di musim kemarau mereka tidak mengalami kekeringan dan cuaca tidak terlalu panas. Namun masuknya agama formal, dalam hal ini katolik, justru menganggap beringin sebagai salah satu pusat kekafiran.
Dulu orang meminum arak dari buah lontar dilakukan dalam kesadaran untuk keperluan upacara. Ketika masih dalam konteks aslinya, mereka meminum arak untuk menari, berkebun, ritual, dan sebagainya.
“Kepada bumi, kepada tanah, itu kesadaran bisa lahir. Tetapi ketika konteksnya itu diputus, (dengan) hadirnya agama, konteksnya jadi hilang. Jadi orang minum tidak dalam kesadaran itu lagi. Itu contoh kecil bagaimana pergeseran itu terjadi,” tambah dia.
ADVERTISEMENT
Melalui Festival Nubun Tawa, ritual-ritual dan tradisi tumbuh lagi. Atraksi panahan massal atau leon tenada yang merupakan bagian dari ritus membangun rumah adat misalnya. Ada juga tinju tradisional atau sadok nonga sebagai ekspresi suka cita panen, ritus afiliasi anak ke dalam suku atau marga yang dalam bahasa setempat bernama lodo ana dengan tari dan nyanyian sepanjang malam. Tradisi-tradisi dan ritus adat itu digelar lagi di Lewolema berkat Festival Nubun Tawa.
Mereka menari di bawah teriknya matahari, memikul berbagai perlengkapan, membawa senter mendaki bukit demi menyaksikan pertunjukan di malam hari. Festival itu menurut Silvester menjadi sebuah ruang pengakuan dan pemulihan hak ekspresi kultural masyarakat. Mereka merayakan dengan suka cita, tanpa beban terintimidasi luka masa lampau.
ADVERTISEMENT
Festival itu telah membangkitkan lagi gairah kreativitas masyarakat dan memberi mereka ruang bagi keleluasaan berpikir dan bergerak dalam mewujudkan jati diri kolektif-kulturalnya.
“Kegembiraan dan keleluasaan menjadi angin segar yang memungkinkan masyarakat dapat kembali melihat modal sosial dan budaya, memungut kembali potongan-potongan sejarah serta pengalaman sosialnya termasuk menyembuhkan diri dari trauma sejarah kultural masa lalunya,” kata Silvester. (Widi Erha Pradana / YK-1)