kumparan
20 Sep 2019 9:02 WIB

Emak-emak pun Ikut Padamkan Api di Lereng Gunung Slamet

TEGAL – Ratusan relawan naik turun untuk memadamkan kebakaran hutan di lereng Gunung Slamet, tepatnya di atas Dusun Sawangan Desa Sigedong Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal. Warga Sawangan, bapak-bapak dan emak-emak ikut terjun membantu memadamkan api yang membakar hutan sejak Selasa (17/9/2019) lalu.
ADVERTISEMENT
Sudah tiga hari mereka bahu membahu dengan tim relawan di antaranya dari TNI, Polri, Perhutani, Pencinta alam, PMI, BPBD, RAPI, dan Tagana.
Salah satu ibu rumah tangga yang ikut dalam upaya memadamkan kebakaran hutan, Tamirah mengaku ikut bergerak karena melihat orang naik turun gunung hanya untuk memadamkan api. Tapi apinya belum padam juga.
“Maka saya dan yang lain ikut membantu memadamkan api, yah dengan alat seadanya. Ternyata berat dan cape. Apalagi saat dekat api dan asap itu susah buat nafas. Biar pun sudah pake masker,” kata dia kepada panturapost, Jumat (20/19).
Hal yang sama diucapkan Wartisi. “Api yang besar dan jalurnya susah itu bagian laki laki. Untuk ibu - ibu bagian yang datar saja. Cape dan berat dilakukan agar api cepat padam,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
“Para relawan sudah tiga hari naik turun gunung dari titik satu ke titik yang lain, titik satu padam, titik lain muncul. Upaya pemadaman berhari-hari. Api cepat meluas karena kondisi kemarau dan angin kecang,” tutur koordinator relawan Lukman.
Sampai Jumat (20/19) hari ini, kata dia, titik api sudah meluas. Api sudah melebar di jalur Permadi (Guci), Kaliwadas, Sawangan dan sudah mulai masuk kawasan Banyumas.
Lukman yang sekaligus anggota Bosapala (jalur pendakian lewat Sawangan) mengungkapkan, untuk hari ini pemadaman dibuka di tiga jalur, di antaranya dari jalur kali Wadas, jalur Sawangan dan jalur Permadi Guci.
“Ini karena titik api sudah sangat luas. Sudah sampe di jalur Permadi Guci, Kali Wadas, Sawangan dan sudah mulai masuk kawasan Banyumas,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Dia mengungkapkan, kebakaran yang terus meluas mengakibatkan hewan yang ada di hutan sudah mulai turun gunung. “Pas kami 10 personil mendistribusikan logistik ke temen-temen yang di lokasi itu melihat 2 ekor rusa lari ketakutan dan banyak monyet yang sudah sampai ke sawah terdekat,” ungkap Lukman.
“Sementara asap sudah menyebar ke desa. Jadi kesehatan warga bisa terganggu," tambahnya.
Lukman menyatakan, pemadaman api di lereng gunung itu berat dan tidak mudah. Perlu perjuangan. Selain berhadapan dengan asap dan api, harus melewati bukit terjal, naik turun gunung. “Semua itu ga mudah. Tapi kami dan relawan lainnya akan tetep berjuang semaksimal mungkin sampai kami bisa memadamkan, Kalau memang tidak bisa, intinya kami semua relawan sudah membuktikan bahwa kami peduli.” (*)
ADVERTISEMENT
Reporter : Bentar
Editor : Muhammad Abduh
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan