Pencarian populer
PUBLISHER STORY

Jejak Pecinan dan Sejarah Telur Asin di Brebes

Klenteng Hok Tek Bio di Gamprit, Brebes. (Foto: Yunar Rahmawan/Panturapost.id)

BREBES - Kebinekaan yang terus menerus harus kita jaga, merupakan suatu keharusan yang hakiki. Dengan adanya segala perbedaan tersebut, dibutuhkan berbagai macam cara untuk menyatukannya. Termasuk kebudayaan yang sejak dulu ada. Begitu pun dengan etnis Tionghoa yang menetap dan membentuk Kampung Pecinan.

Mengiringi hari raya Imlek, agaknya pernak pernik seputar etnis Tionghoa sangat menarik untuk diulik. Kali ini Panturapost.id berusaha untuk menelusuri sekelumit sejarah hadirnya etnis tersebut di wilayah Kabupaten Brebes. Untuk mendapatkan informasi itu, sejarawan muda Brebes, Wijanarto, bersedia berbagi cerita tentang asal muasal kedatangan etnis Tionghoa.

Dikatakan oleh Wijanarto, etnis Tionghoa mulai memasuki wilayah Brebes pada abad 18 yang dilatarbelakangi oleh peristiwa huru hara yang ditandai dengan pembantaian orang-orang Tionghoa oleh VOC. Dampaknya, banyak dari mereka yang melarikan diri ke pesisir timur pulau Jawa, termasuk ke Brebes.

Di Brebes, mereka mendirikan kampung Pecinan. Fakta tersebut diperkuat dengan berdirinya dua klenteng di Losari (Hok Tek Tjeng Sin) dan Klenteng (Hok Tek Bio) di Gamprit, Brebes yang sudah ada sejak abad 19. Kedua tempat peribadatan tersebut berada di tepi Sungai Cisanggarung dan Pemali. "Jajaknya masih terasa di Brebes yang kebetulan berada di tepi Jalan Groote Postweg (Deandels) berupa toko, klenteng, dan bong Cina (makam)," terang Wijan.

Mereka orang Tionghoa memilih tepian sungai, karena sungai merupakan ibu peradaban. Cina mengandalkan perdagangan dari Brebes. "Oleh karenanya, ketika kita lihat, dewa utama Klenteng di Brebes adalah Dewa Bumi, sementara di Tegal lebih menghormati Dewa Laut," tutur Wijan.

Dalam perkembangannya, sempat terjadi peristiwa intoleransi terhadap peranakan Cina tersebut, akan tetapi cukup kondusif ketika menilik Brebes. Namun, terlepas dari itu Wijan menegaskan, etnis Tionghoa di Brebes telah memberikan kontribusi di bidang kuliner yakni pengolahan telur asin, tahu, dan makanan dengan rasa tauco yang hingga kini diramu dalam hidangan soto.

Serma Saryo, Prajurit TNI Brebes yang nyambi bisnis telur asin. (Foto: Irsyam Faiz/Panturapost.com)

Ketika kita melihat kebelakang, yang mana telur asin ternyata merupakan salah satu produk kebanggaan tersendiri bagi Brebes adalah merupakan salah satu komponen kuliner yang disuguhkan dalam sesaji peribadatan warga Tionghoa. "Dulu telur asin juga buat sesaji, bahkan wajib ada. Dengan maksud sebagai simbol kesuburan yang dipersembahkan untuk Dewa Bumi," kata Wijanarto.

Selain menjadi sesaji wajib, dalam perayaan Imlek, keturunan Cina juga menyantap telur asin. "Hingga kini bisa kita lihat, bagaimana telur asin sampai menjadi ikon Brebes selain bawang merah, itu kontribusi yang perlu kita lestarikan bersama," Wijan mengakhiri.

Penulis: Yunar Rahmawan Editor: Muhammad Irsyam Faiz

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: