kumparan
20 Juli 2019 14:08

Siswa SD di Brebes Belajar di Teras karena Atap Kelasnya Nyaris Ambruk

IMG-20190720-WA0032.jpg
Siswa di SD N 3 Purwodadi, Tonjong, Brebes terpaksa velajar di teras karena bangunan sekolah yang rusak. (Foto: Reza Abineri)
BREBES - Sebuah potret buram dunia pendidikan terlihat di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 03 Purwodadi, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes. Kondisi atap kelasnya nyaris ambruk. Akibatnya, para siswa terpaksa belajar di teras.
ADVERTISEMENT
Ada lima siswa yang tampak belajar di teras sekolah tersebut. Mereka adalah siswa kelas II. 
Salah seorang siswa, Alfian (8), mengaku kerap merasakan bising saat sedang belajar. Belum lagi jika musim hujan, air mengalir ke arah meja di kelas, dan juga membuat bukunya basah.
"Tidak nyaman kalau lagi belajar. Kalau hujan air kena buku dan dingin," keluhnya.
Perasaan yang sama juga dialami oleh Akila (7). Ia mengaku konsentrasinya terganggu jika ada kendaraan yang masuk.
"Ada suara kendaraan sama orang lewat. Tidak nyaman. Penginnya segera diperbaiki," pintanya.
Kepala SD N 03 Purwodadi, Suyadi, mengatakan para siswa tersebut belajar di teras sudah setahun yang lalu. "Kita khawatir kalau kegiatan belajar mengajar masih dilakukan di dalam kelas. Kita menghindari kejadian yang tidak diinginkan," katanya saat ditemui PanturaPost, Sabtu pagi (20/7).
ADVERTISEMENT
Dia mengungkapkan, ada dua ruang kelas yang mengalami rusak parah, yakni kelas II dan kelas VI. Kedua ruang kelas tersebut bolong, sehingga ketika hujan turun atap pun bocor.
IMG-20190720-WA0030.jpg
Ruang kelas VI di SD N 3 Purwodadi yang juga rusak. (Foto: Reza Abineri)
Sementara di ruang kelas VI, ada bambu yang menyangga atas tersebut agar tak roboh. Para siswa pun masih bisa menggunakan ruangan tersebut untuk belajar, kendati atapnya terlihat sudah bolong di beberapa titik.
"Kuda-kuda (penyangga) atapnya itu yang melengkung. Sudah enam tahunan, sehingga disangga. Namun masih bisa ditempati," katanya.
Sedangkan penyangga atap di ruang kelas II juga kondisinya sudah melengkung. Kerusakan di kelas tersebut lebih parah dibandingkan kelas VI.
"Yang ini justru lebih parah. Atap sudah melengkung, bocor kalau hujan sehingga berbahaya. Makanya kami terpaksa memindahkan proses belajar mengajar di teras," ungkap dia.
ADVERTISEMENT
Suyadi menuturkan, pada 2015, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Brebes pernah datang ke sekolah untuk mengecek kondisi bangunan. Namun, hingga kini, belum ada kejelasan kapan akan diperbaiki.
"Sebelum saya jadi Kepala Sekolah, pada 2015 dari dinas dan pihak terkait sudah ada yang mengeceknya. Namun katanya kami diminta bersabar menunggu jika ada anggarannya (perbaikan)," tambahnya.
Ia pun meminta pihak terkait agar segera memperbaikinya, mengingat proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) harus tetap berlangsung.
Selain permasalahan tersebut, di sekolah tersebut juga hanya ada lima guru. Sehingga, meskipun menjabat sebagai kepala sekolah, Suyadi terpaksa masih mengajar untuk kelas VI.
"Total guru di sini hanya ada lima, padahal kelasnya ada enam. Makanya saya masih mengajar. Ditambah guru yang PNS di sini hanya saya saja, lainnya masih honorer," katanya.
ADVERTISEMENT
Sementara tahun ajaran baru ini, hanya ada satu siswa yang mendaftarkan diri di kelas I. Hal tersebut lantaran letak sekolah yang lumayan jauh sehingga para siswa yang mendaftar dari satu dukuh saja.
Selain SD N 3 Purwodadi, di SD N 3 Kutayu siswa kelas I hanya ada satu orang. Hal tersebut menambah deretan SD yang hanya memiliki satu siswa di Kecamatan Tonjong.
Reporter: Reza Abineri
Editor: Irsyam Faiz
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan