kumparan
search-gray
Bisnis18 Mei 2020 19:40

Cerita Pesugihan : Menumbalkan Rambut untuk Muluskan Karier dan Asmara

Konten kiriman user
Cerita Pesugihan : Menumbalkan Rambut untuk Muluskan Karier dan Asmara (854633)
Ilustrasi dukun. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Dua tahun bekerja sebagai office boy di perkantoran pemerintah, membuat hati Supriyo semakin lelah. Jangankan menggapai cinta sang pujaan hati, pendapatan yang pas pasan hanya cukup untuk kebutuhan makan dan sewa kamar kos. Sundari gadis manis yang baru saja diterima CPNS semakin menggoda hatinya. Namun apa daya, Supriyo tak mampu mengumpulkan kekuatan untuk berani mendekatinya. Statusnya yang hanya pegawai honorer, gajinya yang tak cukup untuk mengajak kencan di kafe ternama, membuat Supriyo semakin gelisah.
ADVERTISEMENT
Setiap hari, Supriyo hanya mampu memandang dari kejauhan. Senyum Sundari merekah seperti mawar merah yang menyembul dibalik batang berduri. Sundari adalah mawar merah di taman. Segar dan indah dipandang namun diselimuti duri untuk menggapainya. Supriyo sadar, ia takkan mampu meraih.
Kagelisahan Supriyo dibaca oleh Pak Sikam penjual angkringan di sebelah gerbang kantor.
“Hidup itu kalau hanya dijalani seperti itu tidak akan ada yang berubah,” ujar Pak Sikam.
“Aku harus berbuat apa ? Aku sudah bekerja keras setiap hari. Namun tak satupun yang kudapatkan, cintaku dan juga kemapananku. Aku hanya lelaki lemah,” tukas Supriyo sembari mencecap bakwan goreng di meja angkringan.
“Bertemulah dengan orang ini. Ia teman kecilku,” Pak Sikam menyodorkan sepucuk kartu nama.
ADVERTISEMENT
Bergegas sepulang kerja Supriyo mencari alamat di kartu nama. Lumayan jauh dari kota, ada 40 kilometer jaraknya ke arah pantai selatan Yogyakarta. Menembus jalan berbatu di sela rimbunya pepohonan cemara, rumah itu cukup terpencil nyaris terletak di tepi tebing karang pantai.
Supriyo berhasil menemukan, namanya Purwanto. Kulitnya legam terbakar matahari. Badannya kekar dengan bahu lebar. Sorot mata tajam memancarkan kewibawaan. Purwanto menyambut kedatangan Supriyo dengan ramah.
Cerita Pesugihan : Menumbalkan Rambut untuk Muluskan Karier dan Asmara (854634)
Ilustrasi pesugihan. Foto : Aditia Noviansyah/ kumparan
Tergagap Supriyo menceritakan keluh kesahnya. Dengan nada gusar ia tumpahkan segala gundahnya.
“Jadi, yang kamu inginkan adalah karier gemilang. Aku paham. Kamu juga ingin wanita itu kan, hahaa… ,” dukun Purwanto terkekeh.
‘Hehe betul Mbah, eh pak.. kira-kira seperti itu’ ucap Supriyo tersipu
ADVERTISEMENT
Purwanto menjawab ia memiliki solusi atas permasalahan Supriyo sembari tertawa lebar. Seolah-olah permasalahan Supriyo sangat sepele. Purwanto menjelaskan dirinya memiliki minyak ajaib yang akan membantu Supriyo melewati masa-masa sulit.
‘Ini bisa jadi jalan keluar mu’ katanya sembari memamerkan botol bening dari sakunya.
Supriyo mengangga melihat botol itu bak melihat sebongkah berlian.
Sembari terbata ia bertanya ‘aa..aapa itu mbah, eh pak?’
“Ini adalah minyak rambut dari ekstrasi penyu tua berusia 50 tahun di laut selatan. Kalau kamu mau, kamu hanya perlu mengusapkan minyak ini ke seluruh bagian kepalamu dan permintaanmu akan terkabul, tapi ada harga yangharus kamu bayar,” Purwanto hening
“aa…apa pak? Apakah nyawaku sebagai taruhannya?” tanya Supriyo yang ketakutan
ADVERTISEMENT
“hahaha bukan itu. Kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan dengan minyak itu, tetapi tiap kali kamu mengusapkan minyak itu ke kepalamu. Kamu akan kehilangan 1000 helai rambut. Apa kamu sanggup?” tanya Purwanto sambil menatap Supriyo tajam
Supriyo tercengang mendengarnya, namun juga sekaligus lega karena tak perlu menyerahkan nyawanya. Hanya rambut, pikirnya.
“…..tapi ada lagi” ucap dukun Purwanto.
Ia menjelaskan bahwa Supriyo harus menyelesaikan pendidikan S1-nya yang sempat tertunda, kemudian mencari beasiswa untuk menempuh pendidikan S2.
“Usapkan minyak penyu itu pada kepalamu setiap malam sebelum menempuh ujian keesokan harinya” jelas Purwanto.
Supriyo menyanggupi dengan gembira. Botol pesugihan minyak penyu itu pun diberikan cuma-cuma oleh Purwanto.
****
Enam bulan kemudian Supriyo telah menyelesaikan penulisan skripsi. Kuliah yang ia tempuh sembari bekerja telah membawanya pada detik menegangkan ujian pendadaran. Pesan dukun Purwanto ia laksanakan. Dioleskannya minyak ajaib itu ke seluruh kepala. Sukses ujiannya dan hilang pula seribu helai rambutnya.
ADVERTISEMENT
Berbekal ijazah S1, Supriyo mengikuti tes CPNS. Minyak ajaib pun menjadi penolongnya. Supriyo lolos berstatus CPNS. Dua kali tes, dua ribu helai rambutnya pun menghilang.
Supriyo tak lagi menjadi office boy. Statusnya meningkat menjadi pegawai negeri golongan III. Ia pun tak melupakan pesan dukun Purwanto untuk mencoba menempuh pendidikan lanjutan melalui jalur beasiswa. Kesempatan mengikuti tes beasiswa S2 program chief information officer yang ditawarkan kementerian informatika pun tak disia-siakannya. Ia merelakan seribu helai lagi rambutnya. Dan seribu helai selanjutnya ketika menghadapi ujian tesis.
Supriyo kembali ke meja kantor usai tugas belajar selesai. Ia pun menduduki jabatan struktural penting di kantornya.
****
Sundari, si mawar merah merekah menatap Supriyo. Keduanya tak sengaja berada di lift menuju lantai 5 komplek perkantoran. Supriyo tertegun, masih ada yang belum ia wujudkan, memiliki sekuntum mawar merah yang ia impikan sejak beberapa tahun lalu.
ADVERTISEMENT
Supriyo kini telah berubah, tak lagi lelaki lemah. Pendidikan tinggi, jabatan struktural menengah telah ia genggam. Dompetnya pun tak lagi berisi receh. Rasa percaya diri menuntunnya untuk mendekati Sundari yang juga masih melajang. Merengkuh hati Sundari supaya takluk tidak dibayar gratis. Minyak ajaib telah merontokkan lagi seribu helai rambutnya.
Penampilan Supriyo kini terlihat lebih gagah dengan tubuh tinggi besar, meski tinggal beberapa helai rambut ada di kepalanya. Sundari telah disandingnya menjadi Nyonya Supriyo. Namun ambisinya tak berhenti disitu. Sisa terakhir minyak ajaibnya ia gunakan untuk mengikuti tes jabatan pimpinan pratama. Ia lolos menjadi pejabat eselon dua. Ia rela tak satu pun helai rambut ada di kepalanya.
Tamat.
Tulisan ini merupakan rekayasa dari kisah yang berkembang di masyarakat. Kesamaan nama dan tempat kejadian hanya kebetulan belaka.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white