Kisah Wasdi yang Selamat Jadi Tumbal Praktik Pesugihan

Tulisan dari Pesugihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Semalaman aku terus menahan sakit di sekujur tubuh. Rasanya, tubuhku seperti sedang terkena aliran listrik yang amat besar. Untuk berteriak saja, aku tak bisa. Aku merasa ada yang sedang menyumbat kerongkonganku.
Di sekelilingku, istri, anak-anakku, ibu, dan juga ayahku duduk melingkar sembari membacakan ayat suci Al-Quran. Di antara keluargaku, duduk seorang berpakaian serba putih yang biasa kami panggil Kiai Ja'far.
Kiai Ja'far sudah sangat sepuh. Usianya sekitar 70 hingga 80 tahun. Beliau dipanggil jauh-jauh dari luar kota untuk membantu penyembuhan penyakitku. Sebenarnya, beliau masihlah kerabat dekat kami. Ia adalah adik dari kakekku.
Kiai Ja'far memang dikenal sebagai sosok pemuka agama yang pandai menyembuhkan orang dari berbagai penyakit, baik medis maupun non medis. Orang-orang biasa menyebutnya "Kiai Sembur".
Kiai Ja'far menyarankan kami untuk membaca surat Yasin sebanyak 70 kali dan ditambah bacaan-bacaan lainnya yang diberikan oleh Kiai Ja'far. Butuh waktu dua hari tanpa henti untuk kami menyelesaikannya.
Meski tak bisa bersuara dan sekujur tubuh terasa kaku, aku tetap mengikuti bacaan Yasin dari dalam hati. Anakku yang paling tua, berusia 13 tahun, membantuku dengan memegangi kitab suci di depanku agar aku dapat membacanya.
Hari ini adalah hari di mana amalan yang disarankan Kiai Ja'far selesai. Kami semua sedang membaca Yasin yang ke-70. Kiai Ja'far pun sudah mulai mengusap-usap kepalaku sembari merapalkan doa-doa khusus.
Belum sampai surat Yasin terakhir itu berakhir, aku sudah mulai merasakan sakit yang teramat menyiksa. Perutku mual, kaki dan tanganku tak terasa sama sekali, dan kepalaku terasa seperti sudah diinjak seekor gajah raksasa. Aku hampir tak bisa melihat dengan jelas saking sakitnya.
Saat ayat terakhir dari Yasin terakhir dibacakan, tubuhku tiba-tiba kejang-kejang. Aku memuntahkan cairan merah berkali-kali. Kiai Ja'far melakukan gerakan seperti sedang berkelahi, tetapi entah dengan siapa.
Tubuhnya sudah dibanjiri keringat. Wajahnya memerah, matanya pun memerah. Namun, meski demikian, ia terap terus melakukan gerakan tersebut. Hingga akhirnya, aku merasa tubuhku berangsur membaik dan tak lagi merasakan apapun.
Seketika aku berusaha bangkit dari tempat tidurku saking merasa senang. Aku sangat ingin memeluk istri dan anak-anakku saat itu juga. Namun, tubuhku masih lemah dan meski harus menjalani terapi lanjutan. Akhirnya, karena tak kuat, aku pingsan.
***
Selama sebulan sebelum malam pengajian itu, aku merasakan banyak hal aneh terjadi dalam hidupku. Semua kejadian aneh itu benar-benar datang dengan bersamaan dan tanpa sebab.
Awalnya, aku selalu mencium wangi bunga dan dupa di manapun aku berada. Meskipun kala itu aku sedang di samping tempat sampah sekalipun, yang tercium bukanlah bau sampah, melainkan wangi bunga dan dupa.
Sering aku bertanya kepada istriku apakah ia juga mencium wangi yang sama. Namun, istriku menjawab tak mencium bau apapun. Bahkan, istriku sempat memarahiku karena curiga aku bermain serong dengan wanita lain akibat aku sering bicara soal wangi bunga.
Saat aku tanya kepada Kiai Ja'far terkait hal ini, ia menjawab singkat: "Perbanyaklah berdoa, Nak. Wewangian itu datang dari makhluk halus yang akhir-akhir ini terus mengikutimu. Ia bisa saja berbuat baik, tetapi juga bisa berbuat jahat. Mendekatlah kepada Allah, Nak."
Kedua, aku juga kerap mendengar suara-suara aneh di sekitar telingaku. Biasanya suara tersebut terdengar seperti suara lelaki tua yang sedang bersenandung.
Suara itu sering terdengar tanpa tahu tempat di manapun aku berada. Di tempat paling berisik sekalipun, seperti pasar atau mall, suara itu terus ku dengar dengan senandung yang sama.
Semua kejadian aneh itu akhirnya memuncak saat aku mulai merasakan kakiku lumpuh seakan tercabut dari tubuhku. Saat itu aku tiba-tiba terjatuh di kamar mandi dan kakiku mati rasa.
Sejak kejadian kaki lumpuh itu, berhari-hari berikutnya aku berangsur-angsur merasa nyawaku akan melayang. Mulai dari kepala yang sangat sakit, dada yang sesak, tubuh yang terus gemetar, hingga suara yang tiba-tiba menghilang.
Keluargaku membawaku ke berbagai rumah sakit, dari yang sederhana hingga yang paling elit. Namun, tak ada satupun rumah sakit yang dapat mengetahui jenis penyakitku.
***
"Ini adalah perbuatan ilmu hitam. Wasdi telah menjadi incaran seseorang yang sedang mengamalkan pesugihan untuk dijadikan tumbal. Aku tak mengerti mengapa ia mengincar Wasdi. Namun, jika saat itu kita tak menuntunnya membaca Yasin, malam itu juga Wasdi akan tewas karena menjadi tumbal," kata Kiai Ja'far.
"Subhanallah! Lalu, bagaimana sekarang, Paman? Apa yang mesti kita lakukan?Apakah Wasdi akan tetap baik-baik saja setelah tersadar nanti?" kata Ayahku menjawab.
"Tenang saja. Dengan Ridha Allah, Wasdi pasti akan membaik seperti semula. Sementara ini, jauhkanlah Wasdi dari wewangian, baik itu bunga maupun parfum. Ini untuk keselamatannya."
Selang seminggu setelah kejadian hari itu, keadaan sudah berangsur membaik. Aku sudah bisa tertawa, berbicara, bahkan menangis. Namun, kedua kakiku masih terasa nyeri sehingga harus dituntun dengan kursi roda.
Cerita ini hanya fiktif belaka. Kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah kebetulan.
