kumparan
KONTEN PUBLISHER

‘Mentertawai’ Pemilu Lewat Film Komedi

Untitled Image
Cuplikan adegan The Election (Foto: IMDb)
Play Stop Rewatch, Inggris – Tahun politik atau masa masa Pemilu bisa menjadi masa yang menegangkan bagi banyak orang. Pertama, gara-gara sibuk berdebat dengan teman, keluarga, atau bahkan pacar hanya gara-gara berbeda pilihan pasangan calon. Dalam banyak kasus, memilih pasangan calon sudah sama sensitifnya dengan menanyakan umur dan berat badan kepada pasangan.
ADVERTISEMENT
Kedua, gara-gara sibuk memastikan jagoan yang dipilih bisa menang. Biasanya, di masa-masa pemilu, para pendukung pasangan calon yang ada akan sibuk berkampanye ria baik di media sosial, di jalanan, ataupun di panggung-panggung acara. Hal itu, sedikit banyak, pasti menguras tenaga juga.
Sebenarnya, pemilu pun bisa dibikin asyik dan menghibur. Misalnya, dengan mentertawai ketegangan pemilu itu sendiri lewat film-film komedi. Hollywood, sebagai industri film terbesar di dunia, sudah berkali-kali melakukannya untuk menunjukkan bahwa momen seperti pemilu tetap bisa dinikmati dan ditertawai tanpa mengurangi nilai-nilainya.
Tidak sedikit contoh-contohnya. Salah satu yang terkenal adalah Election (1999) yang membuat Reese Witherspoon menjadi sorotan berbagai studio-studio besar di Hollywood. Election, yang bercerita tentang pemilihan kepala badan ekesekutif siswa, memparodikan intrik, tipu muslihat, dan konspirasi yang kerap adalam dalam proses pemilihan umum. Bedanya, Election tidak memakai setting pemerintahan sebuah negara, tetapi sekolah menengah atas.
Untitled Image
Poster The Election (Foto: Rotten Tomatoes)
Di film tersebut, unsur konspirasi diwakili oleh tokoh Jim McAllister (Matthew Broderick) yang tidak menyukai tokoh Witherspoon, Tracy Flick. Tak ingin Flick menang, yang menurut McAllister adalah siswi cerdas dengan karakter sok, McAllister mensabotase jalannya penghitungan suara dengan membuang sebagian kertas suara yang sudah terkumpul. Bagi McAllister, siapapun boleh menang asal jangan Flick.
ADVERTISEMENT
Tentu saja peran McAllister perlahan-lahan terbongkar. Merasa dirinya mulai diujung tanduk, McAllister mulai menghalalkan segala cara untuk menutupi jejaknya. Tapi, apa daya, murid-muridnya beramai-ramai mulai menggali fakta bagaimana pak guru tersebut memanipulasi perolehan suara.
Di Amerika, praktik serupa bukanlah asing. Sabotase, upaya memanipulasi proses pemilu akan memenangkan sosok tertentu sudah beberapa kali terjadi. Di tahun 1970an, misalnya, mantan Presiden Nixon menjadi sorotan karena mengkomandoi upaya penyadapan di kantor Komite Nasional Demokrat menjelang masa pemilihan umum. Belakangan, upaya penyadapan itu melengserkan Nixon dari kursi Presiden Amerika Serikat.
Dugaan serupa juga terjadi pada pemilu Amerika Serikat sebelumnya. Sejumlah bukti mengarah bahwa ada upaya dari luar Amerika Serikat untuk mempengaruhi hasil pemilu yang memenangkan Donald Trump. Meski begitu, Trump bersikeras bahwa dirinya menang secara jujur dan adil.
ADVERTISEMENT
Selain Election, contoh yang terkenal adalah The Campaign (2012) yang dibintangi oleh Zach Galifianakis dan Will Ferrell. Adapun the Campaign bercerita tentang pertarungan antara seorang politisi senior, Cam Brady (Will Ferrell), dengan underdog bernama Marty Huggins (Zach Galifianakis) untuk memperebutkan kursi di konggres Amerka Serikat.
Apabila Election mamparodikan dan mentertawai praktik sabotase, the Campaign memparodikan praktik pencitraan, hiperbola, serta pernyataan tak akurat selama kampanye. Karakter Cam Brady, misalnya, memiliki penasihat kampanye yang mengatur segalanya mulai dari desain interior ruang kerja Brady, penampilannya, hingga janji-janji yang Brady harus berikan ke publik. Dengan gaya nyeleneh, Brady menjanjikan mimpi-mimpi surga ke semua kelompok masyarakat yang ada di Amerika, tak peduli apakah akan benar diwujudkan atau tidak. Karakter Brady seolah-olah merupakan perwujudan perkataan Ross Perot, mantan calon presiden, yang berbunyi, “perang memiliki aturan, gulat memiliki aturan, tapi tidak di politik”.
Untitled Image
Foto kemesraan Jokowi (kiri) dan Prabowo (kanan) (Foto: kumparan)
Praktik serupa sudah bisa kita lihat selama masa-masa kampanye pemilu Indonesia tahun ini. Kedua calon, baik Joko Widodo maupun Prabowo, beberapa kali memberikan pernyataan yang akurasinya dipertanyakan. Selain itu, kadang, keduanya juga memberi janji yang tampak tidak niat akan dipenuhi seperti penyelesaian perkara HAM di masa lalu. Contoh lain, di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump terkenal akan janjinya membangun tembok raksasa yang memisahkan Amerika dan Mexico yang membuat banyak orang mengernyitkan dahi.
ADVERTISEMENT
Di Indonesia, upaya mentertawai ketegangan pemilu belum umum terjadi. Jumlahnya bisa dihitung jari. Kebanyakan sineas Indonesia lebih memilih untuk menonjolkan drama atau ketegangan itu sendiri dibanding mencari cara untuk membuatnya menjadi asyik. Nyatanya, ketika KPU membuat film tentang pemilu berjudul Suara April, nuansanya lebih bersifat drama.
Pada pemilu berikutnya, film-film komedi bernuansa pemilu mungkin bisa menjadi selingan di tengah ketengan pemilu di Indonesia. Setidaknya, penonton bisa melihat bahwa mengkritisi pemilu atau calon-calon yang bersaing di dalamnya tidak harus selalu dengan saling serang di media sosial, tetapi juga bisa lewat film selama tidak menyerang personal figure tertentu.
pemilu 2019 kumparan.jpg
Liputan Pemilu 2019 kumparan
Nantikan juga liputan khusus dari kumparan secara akurat di 34 provinsi di Indonesia.
ADVERTISEMENT
ISTMAN
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan