Konten Media Partner

Review 'Bloodshot': Ketika Vin Diesel Menjadi Sekuat Wolverine

Play Stop Rewatchverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bloodshot (Foto: Sony)
zoom-in-whitePerbesar
Bloodshot (Foto: Sony)

Play Stop Rewatch, Jakarta - Sony semakin berani bereksperimen dengan franchise superhero di luar Marvel. Setelah berhasil dengan serial The Boys yang tayang di Amazon Prime, sekarang Sony mencoba bereksperimen dengan Bloodshot, franchise dari Valiant Comic.

Hasilnya? Tidak mengecewakan dan semakin menunjukkan bahwa Sony banyak belajar dari kesalahan-kesalahan mereka di masa lalu (masih ingat betapa hancurnya Ghost Rider?).

Bloodshot sendiri berkisah tentang seorang marinir bernama Ray Garrison (Vin Diesel). Tewas dalam tugas, Ray dihidupkan kembali oleh seorang ilmuwan bernama Harting (Guy Pearce). Namun, Ray tidak sekadar hanya dihidupkan kembali, tetapi "dipercanggih" oleh Harting.

Untuk menghidupkan kembali Ray, Harting mencuci darahnya dan menggantikannya dengan nanobot yang bisa memperbaiki sel-selnya dengan cepat. Efeknya, Ray menjadi puluhan kali lebih kuat dan bisa beregenerasi apabila dilukai. Sederhananya, Ray menjadi Wolverine, namun dengan sentuhan teknologi.

Ray (Foto: Sony)

Bermodal kekebalan yang sekarang ia punya, Ray memburu orang-orang yang membunuhnya. Namun, tanpa ia sadari, di balik kekuatan barunya, ada sekian banyak konspirasi yang akan menghantuinya di kemudian hari.

Patut diakui bahwa cerita Bloodshot memang sudah basi. Seorang prajurit melakukan balas dendam terhadap orang-orang yang pernah menyakitinya atau orang yang disayanginya adalah kisah yang sudah terlalu sering digunakan. Ibarat kaset rusak, premis itu terus dan terus dipakai oleh film-film aksi. Salah satu bagian film Bloodshot bahkan sangat meta, menyindir masalah premisnya sendiri yang sudah usang.

Premis yang sudah basi itu diperparah dengan pengembangan karakter yang serba ngebut. Hanya dalam beberapa menit, kita sudah tahu apa yang terjadi dengan Ray, apa yang akan ia lakukan, dan siapa yang bertanggung jawab atas penderitaannya.

Entah disengaja atau tidak, sutradara Dave Wilson (Love, Death & Robots) memilih untuk membuat pengembangan karakter Ray menjadi sangat ringkas dan mudah ditebak.

video youtube embed

Sesungguhnya, karakter Ray bisa dieksplorasi lebih jauh agar tidak berakhir menjadi mesin balas dendam saja. Misalnya, dengan mengeksplor gejolak ketika Ray mendapati dirinya bukan lagi manusia atau bagaimana ia mencoba kembali ke kehidupan lamanya. Beberapa bagian di film sempat mengacu ke sana, namun kemudian dibiarkan begitu saja tanpa disentuh kembali di lain waktu.

Beruntungnya, di luar pengembangan karakter dan cerita yang B aja, Bloodshot memiliki action choreography, property, dan set piece yang patut diberi nilai A. Adegan-adegan action-nya sungguh brutal, bermain di batas rating dewasa dan hardcore, mulai dari tubuh diledakkan, diremukkan, hingga dihancurkan. Beberapa bagian bahkan sangat kreatif, terutama setelah Ray tahu bahwa ada banyak hal yang bisa ia lakukan dengan nanobot di dalam tubuhnya.

instagram embed

Action scene-nya pun tidak dominan di Ray. Karakter-karakter lain seperti Jimmy (Sam Heughan), KT (Eiza Gonzalez), serta Tibbs (Alex Harnandez) juga memiliki adegan aksi yang tidak kalah keren. Apalagi, masing-masing dari mereka juga sudah diperkuat oleh Harting dengan teknologi augmented yang berbeda-beda. Alhasil, mereka bisa memberikan aksi yang berbeda dan terkadang lebih galak dibanding Ray dengan nanobotnya.

Sementara itu, dalam hal property dan set piece, sangat cyberpunk. Teknologi augmented dan nanobot yang bertebaran sepanjang film membuat Bloodshot memiliki vibe yang menyerupai Ghost In The Shell, Akira, atau bahkan film-film Neil Blomkamp seperti District 9, Chappie, serta Elysium. Sangat keren dan memanjakan mata. Desainer-desainer dengan aliran futuris atau cyberpunk akan sangat menyukai direksi visual dari Bloodshot.

Jika kalian pernah menonton serial Love, Death & Robots yang diproduksi oleh David Fincher, sutradara Dave Wilson adalah kreator salah satu episode terkeren, Sonnie's Edge. Kalian akan menemukan banyak kesamaan, terutama dalam hal direksi aksi dan visual, antara Bloodshot dengan episode Sonnie's Edge tersebut.

Akhir kata, Bloodshot bukanlah film yang spesial dalam hal cerita, melainkan dalam hal visual. Kisahnya sangat to the point, ringkas, namun kaya akan adegan aksi dengan oktan tinggi.

Seperti yang dikatakan di awal, Bloodshot tidak mengecewakan. Sony, selaku rumah produksi, banyak melakukan hal yang tepat. Tetapi, jangan coba-coba membandingkannya dengan film-film Marvel Cinematic Universe beberapa tahun terakhir. Bloodshot belum berada di kelas yang sama.