kumparan
25 Nov 2018 12:29 WIB

Ambisi Gelap Agrippina Demi Mencapai Puncak Kekuasaan Romawi

Agrippina, kaisar perempuan Roma, dilahirkan pada 15 M, merupakan cucu buyut dari Kaisar Augustus dan saudara dari Kaisar Caligula. Agrippina mendapat pendidikan yang sangat baik dari para filsuf Romawi dan Yunani.
ADVERTISEMENT
Walau pada masa itu mendapat pendidikan merupakan hal yang tabu bagi perempuan, tetapi karena statusnya sebagai keluarga kerajaan, Agrippina dapat merasakan pendidikan yang sama dengan para pria. Agrippina hidup dalam kemewahan istana, dengan berbagai fasilitasnya sangat lengkap.
Pada 39 M, penguasa Romawi saat itu, Caligula, mengasingkan Agrippina keluar dari wilayah istana, karena ia dituduh berkomplot dengan beberapa pegawai istana untuk menjatuhkannya. Tetapi pada 41 M, Agrippina diperbolehkan kembali ke Romawi, setelah 2 tahun berada di pengasingan.
Agrippina bukan tidak memiliki keinginan untuk merebut takhta kerajaan, ia hanya tidak memiliki waktu yang tepat untuk melakukannya. Sehingga tindakan Caligula saat itu mungkin adalah keputusan yang tepat untuk mengeluarkan Agrippina dari Roma.
ADVERTISEMENT
Pada 49 M, kesempatan yang dinanti oleh Agrippina untuk menguasai Romawi datang ketika pemerintahan Caligula mulai mengalami keruntuhan. Ia pun dengan segera merebut pengaruh untuk menguasai pemerintahan.
Hal pertama yang dilakukan oleh Agrippina untuk menuntaskan ambisinya itu adalah meracuni suami keduanya, Passienus Crispus, dan kemudian menikahi pamannya, Kaisar Claudius, yang sudah sangat tua dan lemah. Pernikahan itu membuat pengaruh Agrippina semakin besar di istana, dan dengan mudah menjalankan kekuasaannya.
Ilustrasi bangunan dari zaman Romawi (Foto: Ángel M. Felicísimo/Wikimedia Commons)
Agrippin lalu mendesak Claudius untuk mengadopsi anaknya, Nero, dan selanjutnya memperkuat posisi Nero dengan menihkahkannya dengan anak Claudius, Octavia. Ia mencoba membuat status Nero lebih tinggi dari kandidat kaisar lainnya, sehingga Nero dapat dengan mudah menjadi putra mahkota Romawi.
Sementara itu, Agrippin semakin gencar bergerak di balik layar untuk anak kesayangannya itu. Ia meracuni semua musuh-musuhnya, dan sangat mungkin ia juga yang membunuh Claudius bersama dengan anak dan pewaris takhta, Britannicus pada 54 M. Diketahui bahwa keluarga Claudius meninggal setelah memakan sebuah jamur beracun.
ADVERTISEMENT
Dengan hilangnya kompetitor terberatnya, Britannicus, Nero pun dapat dengan mudah menduduki takhta kerajaan. Agrippina mendapat kekuasaan yang sangat besar sebagai wali Kaisar Nero, dan menjuluki dirinya sebagai Avgvsta, yang berarti “Kaisar Perempuan”.
Lambat laun, Nero semakin sadar bahwa dirinya masih belum dapat terlepas dari ambisi ibunya. Nero merasa dirinya belum aman dari hasrat ibunya akan kekuasaan. Sang kaisar pun akhirnya berusaha membunuh ibunya.
Nero pernah merencanakan pembunuhan sebanyak tiga kali kepada Agrippina. Namun tidak ada yang berhasil. Kemudian ia berusaha menenggelamkan ibunya di Teluk Naples. Saat itu perahu yang ditumpangi Agrippina dirancang sedemikian rupa agar mudah tenggelam, tetapi ternyata Agrippina berhasil selamat setelah berenang ke tepian.
Nero pun akhirnya melakukan cara yang terang-terangan, yaitu dengan mengirimkan tentara kerajaan ke vila ibunya, lalu membunuh Agrippina.
ADVERTISEMENT
Sumber: Luka, Monsanto. 2008. Tangan Besi : 100 Tiran Penguasa Dunia. Yogyakarta: Galangpress
Foto: commons.wikimedia.org
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan