kumparan
29 Mar 2019 14:41 WIB

Arc-et-Senans, Pabrik Garam Tertua di Prancis

Salah satu pabrik garam terbesar dan tertua di Eropa, Arc-et-Senans, menjadi bukti kehebatan konstruksi industri Prancis era Renaisans semasa pemerintahan Louis XV dan Louis XVI.
ADVERTISEMENT
Bangunan luas berbentuk setengah lingkaran itu mulai dikerjakan sekitar tahun 1771, oleh seorang arsitektur bernama Claude-Nicholas Ledoux atas perintah langsung Raja Louis.
Pengolahan garam di wilayah Prancis, tepatnya di pegunungan Jura, diketahui telah dilakukan sejak zaman besi. Saat itu, masyarakat yang tinggal di sana berhasil memanfaatkan air asin yang keluar dari dalam tanah, hingga menghasilkan kristal-kristal garam dengan kualitas yang cukup baik.
Selama berabad-abad pabrik sederhana yang ada di kota Salins, salah satu kota di kaki perbukitan Jura itu menjadi andalan Prancis untuk pasokan garam di negerinya. Masyarakat Salins mengolah garam dengan cara menguapkan air asin di dalam periuk raksasa, yang dipanaskan menggunakan kayu dari hutan di sekitar kota.
Namun pada pertengahan abad ke-18, persediaan air asin di kota Salins semakin berkurang kadar garamnya, dan kayu bakar di hutan pun sudah mulai menipis. Mengingat pentingnya pengolahan garam di Prancis, akhirnya Raja Louis XV memutuskan untuk membangun pabrik pengolahan garam kerajaan pada 1771, yang diharapkan dapat meningkatkan produksi garam dalam negeri.
ADVERTISEMENT
Arsitek yang menangani pembangunan pabrik tersebut, Claude-Nicholas Ledoux, memilih sebuah tempat lapang di tengah Hutan Chaux, di antara Desa Arc dan Senans.
Tempat itu dipilih karena hutan di sekitarnya dapat menyediakan kebutuhan kayu bakar yang sangat banyak, setiap kali produksi garam dilakukan. Sementara, air garam akan disalurkan melalui pipa sejauh 20 kilometer dari Salins.
Pipa penyaluran air garam itu dibuat dari 15.000 batang kayu pohon cemara yang bagian tengahnya dilubangi. Untuk menjaga keamanan pipa tersebut, pemerintah menunjuk tentara khusus yang seharian penuh berjaga di sekitarnya.
Keberadaan pipa itulah yang membuat kerajaan Prancis, khususnya era Louis XVI, menjadi kiblat bagi perkembangan industri yang sangat maju di Eropa. Arsitek Ledoux pun berperan sangat besar dalam merancang kompleks bangunan berfasilitas sangat lengkap, serta unik untuk para pekerja dan anggota komunitas yang tinggal di sekitar pabrik tersebut.
ADVERTISEMENT
Pengerjaan kompleks pabrik itu berhasil terselesaikan pada tahun 1775, sedangkan proses produksi baru mulai dilakukan empat tahun kemudian, karena berbagai kendala tak terduga di sekitar pengerjaannya.
Namun belum lama proses produksi berjalan, banyak masalah yang mulai bermunculan. Keberadaan air garam di Salins ternyata tidak bertahan lama, dan banyak cairan garam yang merembes keluar dari retakan pipa-pipa penyaluran. Selain itu juga, kualitas garam yang diproduksi tidak mencapai target yang diharapkan.
Pemerintah Prancis yang semakin mengalami kerugian akhirnya memutuskan menjual pabrik garam tersebut ke sebuah perusahaan swasta pada 1789. Perusahaan itu lalu mengganti pipa-pipa kayu dengan pipa-pipa logam, dan menggunakan batu bara sebagai bahan pembakaran.
Sayangnya, pabrik yang dijalankan oleh swasta itu juga tetap tidak mengalami peningkatan. Pada 1895, produksi garam di Arc-et-Senans pun secara total dihentikan oleh pemerintah setempat.
ADVERTISEMENT
Kompleks megah dan unik itu dibiarkan terlantar selama lebih dari 30 tahun, hingga akhirnya dibeli, dan diselamatkan dari keruntuhan oleh Distrik Administratif Doubs, bagian dari wilayah Franche-Cornte tempat pabrik itu berada, pada 1927.
Dalam proses restorasi yang dilakukan dalam tiga tahap pembangunan, Distrik Administratif Doubs seperti membuat bangunan pabrik terlahir kembali, lengkap dengan gedung, halaman, serta kebun-kebun yang persis seperti masa kejayaan pabrik tersebut.
Sebagai penghargaan atas berdirinya kembali kompleks bangunan pabrik tersebut, pemerintah Prancis memasukannya ke dalam monumen bersejarah yang dilindungi, dan menjadi museum yang berisi peninggalan masa pabrik garam, serta museum Ledoux yang menampilkan karya-karya sang arsitek.
Sumber : Perwito Mulyono, dkk. 2009. World Heritage Nature & Culture Volume 5. Surakarta : Batara Publishing.
ADVERTISEMENT
Foto : commons.wikimedia.org
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan