kumparan
1 Apr 2019 11:04 WIB

Ratu Boadicea dan Pemberontakan Besar Inggris atas Kekaisaran Roma

Ratu suku Iceni, Boadicea, mulai menaiki takhta pada tahun 60 M, setelah kematian suaminya, Raja Prasutagus. Ia memimpin di tempat yang sekarang merupakan daerah Norfolk dan Sussex di Inggris sebagai “client king” –raja yang memerintah atas bantuan Roma–, di bawah kuasa Kaisar Nero.
ADVERTISEMENT
Raja Prasutagus mencoba melindungi kerajaan serta keluarganya dari tangan Kekaisaran Roma jika sewaktu-waktu ia meninggal dunia, dengan cara membagi rata tanah miliknya di antara kedua putrinya dan Nero.
Namun setelah kematiannya, Nero melanggar perjanjiannya dan langsung merebut semua tanah peninggalan Prasutagus. Para tentara Roma menyiksa Boadicea dan kedua putrinya, serta menjadikan suku Iceni sebagai budak kekasiaran.
Setelah cukup lama berada di bawah kendali Roma, akhirnya Boadicea memutuskan untuk melakukan serangan balik. Ia mengumpulkan pasukan di wilayahnya, berjumlah sekitar 100.000 orang, untuk mengusir para tentara Romawi yang telah menghancurkan suku Iceni.
Perlawanan itu pun dimulai sesaat setelah kekuatan pasukan Romawi di Norfolk berkurang karena sebagian besar dari mereka sedang ditugaskan ke Wales untuk memerangi kaum Druid.
ADVERTISEMENT
Pasukan Boadicea berhasil menghancurkan koloni Roma di Camulodunum, merampas seluruh harta benda di Londinium, membakar ibukota suku Veralamium, dan meratakan beberapa pos militer Romawi.
Menurut sejarah Corenelius Tacitus, yang hidup antara tahun 55-120 M, pasukan Iceni membunuh lebih dari 70.000 tentara Romawi dan para pengkhianat, serta membantai habis Legiun Romawi Kesembilan, yang datang untuk memberikan bantuan kekuatan di Norfolk dan Sussex.
Pasukan Romawi yang sebelumnya berperang di Wales telah kembali dan mendapati wilayah kekuasaannya hancur akibat pemberontakan. Gubernur Jenderal Romawi Suetonius Paulinus, yang bertugas di Norfolk, kemudian melakukan pertemuan dengan Boadicea di dekat Fenny di Startford.
Tidak adanya kesepakatan damai di antara keduanya, akhirnya memicu peperangan yang sangat besar. Boadicea dan kedua putrinya terjun langsung dalam peperangan menemani pasukannya.
ADVERTISEMENT
Pertempuran itu berlangsung selama beberapa hari, melibatkan 10.000 pasukan Romawi dan 100.000 pasukan Boadicea. Namun pertempuran yang semulanya seimbang, berubah menjadi pembantaian kejam pasukan Romawi, yang tercatat sebagai pembantaian terburuk dalam sejarah Inggris, di mana 80.000 kaum Briton tewas.
Guna menghindari penangkapan dan penyiksaan yang kejam dari Romawi, Boadicea pun memilih mengakhiri hidupnya dengan cara meminum racun.
Sebagai akibat dari pemberontakan Boadicea, pemerintah Romawi memberlakukan kebijakan yang lebih adil untuk rakyat Inggris. Mereka pun mengganti gubernur jenderal yang bertugas di sana dengan yang lebih bijak.
Sementara itu, kaisar Nero yang telah memberlakukan pajak besar terhadap Inggris untuk membangun kembali Roma dan pembantaian besar yang dilakukannya, dihukum mati oleh Senat Romawi. Tetapi sebelum hari eksekusi, Nero melakukan bunuh diri.
ADVERTISEMENT
Sumber : Rolka, Gail Meyer. 2005. 100 Wanita yang Berpengaruh di Dalam Sejarah Dunia. Tanggerang : Karisma
Foto : commons.wikimedia.org
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan