kumplus- Opini Prabu- Miras dan Jogja

Jogja dalam Seteguk Miras Oplosan

Naracela di Tanah Monarki
23 September 2022 15:41
·
waktu baca 5 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Apa yang getir, manis, namun memabukkan? Jika Anda menjawab janji calon presiden, ya nggak salah sih. Tetapi, yang saya maksud adalah minuman keras (miras). Minuman yang dibilang “nektar iblis” ini menjadi fondasi peradaban. Diciptakan di masa berburu dan meramu, dikembangkan pada era kerajaan klasik, ia jadi mesin kapitalis di dunia modern.
Jogja yang romantis juga dibangun di atas fondasi miras. Terlepas dari moralitas, miras ikut menumbuhkan kultur nyeni dan romantis Jogja. Satu fragmen pada sejarah panjangnya bisa dibilang lebih penting dari yang lain: kelahiran miras oplosan.
Sebelum era pemberantasan premanisme pada 1983, kedai miras di Jogja seperti warmindo. Setiap sudut kampung ada penjaja “wedang galak” ini. Warung terang-terangan memajang botol-botol pipih khas miras. Ada Mansion, Topi Miring, Drum, dan merk lainnya. Anda akan mudah melihat orang terkapar di pinggir jalan sambil menunjuk-nunjuk tak karuan.
Lanjut membaca konten eksklusif ini dengan berlangganan
Keuntungan berlangganan kumparanPLUS
check
Ribuan konten eksklusif dari kreator terbaik
check
Bebas iklan mengganggu
check
Berlangganan ke newsletters kumparanPLUS
check
Gratis akses ke event spesial kumparan
check
Bebas akses di web dan aplikasi
Kendala berlangganan hubungi [email protected] atau whatsapp +6281295655814
Mau dipandang seperti apa pun, suporter olahraga adalah kekuatan massa yang diperhitungkan. Maka lumrah jika gesekan antarsuporter "dipelihara" oleh otoritas. Baca opini Prabu Yudianto di kumparanPLUS.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten