• 4

12 Tahun Tsunami Aceh, 12 Tahun Rini Ramadhani Melawan Trauma

12 Tahun Tsunami Aceh, 12 Tahun Rini Ramadhani Melawan Trauma



Tsunami Aceh

Sampah dan puing-puing di pusat kota Banda Aceh, menyusul Tsunami besar 26 Desember 2004. (Foto: Michael L. Bak via Wikimedia)
26 Desember 2004. Suatu pagi di salah satu sudut kota Meuloaboh, Aceh Barat, seorang gadis kecil sedang membantu ibunya membersihkan pecahan kaca di lantai rumah mereka. Kaca-kaca itu pecah akibat gempa bawah laut berkekuatan 9,1 sampai 9,3 skala Richter yang mengguncang sekitar pukul 07.59 WIB.
Gadis bernama Rini Ramadhani yang baru berusia 10 tahun itu, tak menyangka gempa akan disusul tsunami yang kemudian menggulung kota kelahirannya.
“Sekitar 20 menit setelah gempa, aku lihat orang-orang lari dan teriak, ada yang langsung nyalain motor. Waktu itu aku tidak tahu ada apa, Aceh tidak pernah tsunami sebelumnya,” kata Rini yang kini berusia 22 tahun.
Rini kecil bingung. Seorang wanita tiba-tiba menangis histeris di depan rumahnya.
“Tolong, ibu saya dibawa air, ibu saya dibawa air!” teriak wanita itu.
Iwan Jauhari, ayah Rini, sedang tak ada di rumah. Ia pergi ke kantornya, tak lama setelah mendapat laporan ada tower yang retak usai gempa.
Saat itulah gelombang air raksasa mulai tampak dari kejauhan. Rini bersama ibu dan ketiga saudara kandungnya mulai panik. Untunglah, di tengah kepanikan tersebut, ayah Rini berlari tergopoh menghampiri mereka.
“Waktu Ayah pulang, dia juga tidak memberi tahu ada apa. Dia cuma bawa surat-surat dan barang-barang yang perlu dia amankan, aku langsung digendong,” ujar Rini.
Rini sekeluarga berlari ke arah gunung. Dari gendongan ayahnya, Rini sempat menoleh ke belakang.
“Itu air sudah tidak kayak air, hitam warnanya, menyapu runtuhan-runtuhan. Semua jalan raya padat, ada orang yang jatuh, ada yang ketabrak,” kenang Rini.
Bersama warga lainnya yang selamat, Rini sekeluarga berkumpul di sebuah bangunan pesantren yang aman dari terjangan tsunami.
Sekitar pukul 18.00 WIB, Rini dan keluarganya menengok rumah mereka. Bangunan rumah Rini tak sepenuhnya hancur, karena dikelilingi beberapa bangunan besar yang kokoh.
Namun dalam perjalanan menuju rumahnya itulah, Rini menyaksikan pemandangan menyedihkan yang hingga kini masih terekam di memorinya.
“Aku lihat orang-orang luka, mayat-mayat yang rupa dan wujudnya sudah tidak kayak manusia lagi. Aku tidak menyangka kalau air itu (tsunami-red) tadi sampai makan korban begitu banyak,” cerita Rini.

Rini korban Tsunami yang selamat

Keceriaan Rini bersama keluarga. (Foto: Dok. Rini)
Meski seluruh anggota keluarganya selamat, Rini berduka karena paman dan dua orang sepupunya wafat digulung ombak.
“Pamanku, seorang polisi yang meninggal karena menolong atasannya, dan sepupuku yang umur 6 tahun, tidak ditemukan jenazahnya. Cuma sepupuku yang masih bayi yang jenazahnya ketemu karena tertimpa tembok (sehingga tidak hanyut dibawa air),” katanya.
Gelombang tsunami membuat masa kecil Rini tak lagi ceria. Ia harus berjuang melawan trauma.
“Kalau sudah sore, aku tidak mau di rumah, aku maunya di luar, maunya ke gunung, karena aku merasa aman di gunung. Aku tidak merasa aman di rumah, aku tidak mau tidur di dalam rumah. Bahkan aku sudah memasukkan baju-bajuku ke dalam tas. Kalau ada apa-apa aku tinggal kabur bawa tas itu,” bebernya.
Rini kecil bahkan sempat mengira bahwa tsunami yang sempat dia lihat itu adalah kiamat.

Aku kira yang terjadi di hari Minggu itu adalah hari kiamat, karena aku melihat banyak orang berhamburan. Kotaku hilang, tersapu bersih, sekolah dan tempat-tempat favoritku sudah tidak ada juga, aku kira itu kiamat

- Rini Ramadhani, Korban Selamat

Setelah tsunami berlalu, Kota Meuloaboh terisolasi sekitar tujuh hari. Akses jalan dan jembatan menuju daerah tempat Rini berada seluruhnya terputus. Rini dan keluarganya tinggal di tenda pengungsian.
“Semingguan kami kekurangan makanan, kami cuma makan mi instan terus, itu pun hasil ngambil dari toko yang setengah bangunannya rusak. Ada sisa-sisa dagangan mereka yang berceceran, kami ambil, sambil menunggu bantuan datang dari pemerintah,” cerita Rini.
Beberapa minggu berjalan, kantor tempat ayah Rani bekerja memberikan bantuan transportasi untuk keluarga korban yang ingin mengungsi keluar dari Aceh. Rini dan keluarga lalu pergi ke kota Medan.
“Perjalanannya tidak mudah, berhari-hari kami tempuh via darat, dan sempat menyeberang naik rakit juga,” ujarnya.
Di Medan, Rini tinggal di rumah neneknya. Di sana dia mengikuti kelas konseling psikologis untuk menyembuhkan trauma.
“Selama seminggu itu aku diajak main-main, ada semacam treatment penyembuhan trauma gitu, tapi aku malah risih kalau ditanya-tanya soal tsunami. Aku emosi, marah, kesal, sampai tidak mau datang lagi ke tempat konseling itu,” cerita Rini sambil menahan tangis.
Rini kecil kemudian berusaha menjalani hari-harinya seperti biasa.
12 Tahun berlalu, Rini kecil kini telah bermetamorfosa menjadi gadis dewasa yang kuat.

Rini Korban Tsunami

Rini korban tsunami yang selamat (Foto: dok. Rini)
Traumanya pelan-pelan terkikis, meski kenangan tentang tsunami tak akan pernah hilang sepenuhnya dari ingatan Rini.
Di balik itu semua, Rini bersyukur telah menjadi salah seorang saksi hidup atas kejadian yang maha-dahsyat itu.
“Hikmahnya, yang aku rasakan sih aku jadi lebih kuat. Setiap ada masalah pasti berpikirnya, aku pernah melewati masa-masa yang paling sulit, masa-masa ditimpa musibah, dan aku berhasil melewati itu,” ujar Rani yang kini bekerja di sebuah industri kreatif di Bandung.
Dari Rini kita bisa belajar bahwa “apa yang tidak membuatmu mati, hanya akan membuatmu semakin kuat.”

TsunamiNewsTsunami AcehAcehDuka Aceh di Desember

500

Baca Lainnya