• 3

USER STORY

Cerita dari Perlintasan Kereta: Kalah Mata, Hilang Nyawa

Cerita dari Perlintasan Kereta: Kalah Mata, Hilang Nyawa


Perlintasan rel kereta api di Kampung Nona Merah, Bekasi, hanyalah satu dari sekian perlintasan tak resmi dengan tingkat keamanan yang rendah. Berada sekitar 300 meter dari Stasiun Cibitung, perlintasan ini tidak memiliki palang pintu dan pos penjagaan yang layak. Padahal, tidak sedikit warga Cibitung yang menjadikan perlintasan ini sebagai jalur alternatif menuju Cikarang.
"Kalau pagi, ramai banget, dari anak sekolah sampai karyawan pabrik," ujar Marjuki, salah seorang penjaga perlintasan rel kereta, saat ditemui di pos penjagaannya, Senin (5/12).
Sepuluh tahun menjaga perlintasan, Marjuki mengaku tidak menerima bayaran sepeser pun dari PT Kereta Api Indonesia. Ia tinggal bersama istrinya di rumah sederhana berukuran 5 x 4 meter, tidak jauh dari tempatnya bekerja.

Penjaga Perlintasan Kereta

Di usia senja, secara sukarela Marjuki tetap sigap menjaga jalur Perlintasan kereta api di Kampung Nona Merah, Bekasi. (Foto: Nikolaus Harbowo)
Marjuki dan istri menyambung hidup dari uang pemberian warga yang sering lalu lalang di perlintasan. Jumlahnya tak tentu, sekitar Rp 15 ribu sampai dengan Rp 30 ribu per hari. Tak banyak memang, namun Marjuki rela menyisihkan sebagiannya untuk membuat palang pintu darurat. Keselamatan warga yang melintas selalu menjadi prioritas utama bagi Marjuki.
Sejak ia menjadi penjaga perlintasan, tidak pernah sekali pun terjadi kecelakaan di sana.
"Kalau sampai ada kecelakaan, perlintasan ini akan langsung ditutup," ujarnya.
Marjuki tak lagi muda, umurnya sudah menginjak kepala enam. Tak kenal lelah, ia selalu sigap mengamankan perlintasan hanya dengan mengandalkan penglihatan.
"Awas mata, kalau matanya kurang awas, ya, kejadian (kecelakaan). Istilahnya, kalah mata, hilang nyawa,” ujar Marjuki.
Jika cuaca sedang tidak bersahabat, Marjuki mengajak beberapa temannya yang lebih muda yaitu Nanang (23), Fahmi (35) dan Udin (46) untuk membantunya menjaga perlintasan.
"Kalau sudah mulai tanda-tanda hujan deras, saya minta bantuan (mereka). Tapi kalau masih rintik-rintik dan hujan biasa, ya saya masih bisa,” ujarnya.
Beberapa tahun lalu, Marjuki pernah mendapati sejumlah personel TNI dan polisi ikut berjaga di perlintasan tersebut. Mereka melakukan penjagaan untuk Presiden SBY yang melewati lintasan tersebut. Saat itu, SBY harus menggunakan angkutan darat karena jalur penerbangan pesawat terganggu kabut asap Gunung Kelud.


Kenapa di saat Presiden mau lewat, perlintasan darurat seperti ini baru diperhatikan?

- Marjuki, Penjaga Perlintasan Rel Kereta Api








SosialJakarta

500

Baca Lainnya