• 3

57 Tahun Hidup Mesra Meski Berbeda

57 Tahun Hidup Mesra Meski Berbeda



Gereja dan Masjid Berdampingan

Puluhan tahun hidup berdampingan, jemaah Gereja Mahanaim dan Masjid Al Muqarrabien tak pernah terlibat konflik SARA. (Foto: Firy Alifiyadi)
Selama beberapa dekade Masjid Istiqlal dan Gereja Katolik Katedral ditahbiskan sebagai simbol kerukunan beragama di Indonesia. Posisi dua tempat ibadah megah di Jakarta Pusat itu hanya dipisahkan Jalan Taman Wijayakusuma.

Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal yang Berdampingan

Pemandangan dari atas bangunan Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal yang berdekatan di Jakarta, Kamis (15/12). Meski memiliki perbedaan dalam keyakinan , hal tersebut tak menjadi halangan bagi kedua pemeluk agama untuk bisa saling menghargai, menghormati dan hidup berdampingan. (Foto: Fanny Kusumawardhani)

Tapi nun di Tanjung Priok, ada dua tempat ibadah beda agama malah hanya dipisahkan selembar tembok setinggi 1,5 meter. Dua tempat ibadah itu adalah Gereja Protestan Mahanaim dan Masjid Al Muqarrabien. Posisi tepatnya di Jalan Enggano, Jakarta Utara.
Berdampingan sejak tahun 1959, jemaah gereja dan masjid itu tak pernah terlibat konflik. Jemaah kedua tempat ibadah menjunjung tinggi kerukunan dan sikap toleransi.

Gereja Protestan Mahanaim dan Masjid Al-Muqorrobin yang bersebelahan di kawasan Tanjung Priok

Tampak pekerja sedang memasang tenda depan Gereja Protestan Mahanaim di kawasan Tanjung Priok. (Foto: Fanny Kusumawardhani)

Ada banyak cara agar kerukunan itu selalu terbina hingga 57 tahun. Misalnya, sejak puluhan tahun lalu, ketua pengurus Masjid Al Muqarrabien almarhum Abdul Aziz, mengimbau siapa pun untuk lebih selektif dalam menentukan tema ceramah di masjid.
“Kalau sudah mulai berbau-bau kekerasan gitu langsung di-cut sama Bapak,” ujar Aisyah (63), istri dari almarhum Abdul Aziz saat ditemui Kumparan di kediamannya, Jumat (9/12).
Imam masjid Al Muqarrabien, Muhammad (56), menambahkan, “Kalau ada yang mau berceramah, harus konsultasi dulu dengan saya. Kalau ada yang tidak sesuai, tidak diizinkan."
Selain itu, jemaah gereja dan masjid juga saling membantu dalam beberapa kegiatan keagamaan.
“Misalnya saat bulan puasa, pihak gereja ikut membagikan makanan berbuka. Pas Idul Adha saya kasih daging, ” ujar Aisyah.

Siapa pun boleh mengikuti keyakinan apa saja, itu urusan masing-masing. Tapi kalau keributan, tetap tidak boleh.

- Muhammad (Imam Masjid Al Muqarrabien)

Para jemaah terus berupaya agar tetap bersikap netral terhadap beragam isu SARA dan telah bersepakat untuk tidak memihak agama tertentu, jika terjadi konflik yang berkaitan dengan agama mereka.

NewsSosialJakarta

500

Baca Lainnya