• 0

USER STORY

Surat Untuk Rekan-Rekan Seiman

Surat Untuk Rekan-Rekan Seiman


Saya bukan siapa-siapa, bukan tokoh ternama, apalagi ahli agama. Tapi setidaknya, semua berhak bersuara di sosial media.

Rekan rekan seiman…
Apa kabar panca indera kalian? semoga banyaknya berita soal dugaan penistaan agama tak lekas membuat kalian mendadak menjadi pembenci, yang melegalkan segala caci maki, seolah-olah begitulah Islam seharusnya bersikap. Bukankah Islam punya semua solusi untuk segala fenomena? Solusi-solusi cerdas dan bersahaja tentunya. Setidaknya, itu yg saya imani.

Rekan rekan seiman…
Salahkah jika saya meradang justru dengan tingkah garang sekumpulan ‘pembela islam’ yang penuh hujat dan kecaman? Bukan. Bukan saya tak cinta dengan Alquran. Tapi dengan mereka yang berlaku kasar di jalan-jalan, bahkan dengan bangganya melayangkan kerikil tajam dan meneriakan ancaman mati dengan arogan, saya benar-benar menolak untuk menyebut mereka sebagai pembela atas iman yang saya yakini. Bukankah Alquran turun sebagai pencerah dan bukan sebagai pemecah? Setidaknya, itu yang saya imani.

Rekan-rekan seiman..
Alquran adalah surat-surat cinta sempurna dari Allah. Kamu jatuh cinta? Cintailah dengan cinta yang mulia, bukan cinta yang membuatmu memandang manusia lain hina karena tak punya cinta yang sama denganmu. Kadar cinta tak punya ukuran mutlak, pun jatuh cinta tak bisa kau paksa dengan semena-mena.

Kamu jatuh cinta? mengimaninya saja tidak cukup kawan. Surat-surat cintaNya tak sesederhana deretan kata-kata manusia yang penuh alpa. Kalau memang cinta, upaya untuk mengkaji dan mengamalkannya harus dilakoni beriringan dalam proses belajar sepanjang usia.

Bebas saja jika kau ingin gaungkan soal cintamu pada Alquran, tapi sekali lagi, mengajak tidak sama dengan memaksa. Setidaknya, itu yang saya imani.

Rekan-rekan seiman…
Allah ciptakan akal agar manusiaNya berpikir soal implementasi kebaikan-kebaikan yang diajarkan Alquran, bukan untuk berpikir soal cara menghakimi seseorang karena perbedaan. Setiap manusia punya cinta masing-masing pada apa yang diimaninya.
Seekor ikan tak akan hidup lama di atas pasir tanpa air, pun seekor ayam akan cepat mati mengambang jika dilarungkan di lautan. Ikan tak boleh bilang ayam yang kalah, pun ayam tak boleh bilang ikan yang lemah. Habitat mereka berbeda, ukuran kalah menang atau kuat lemahnya pun juga berbeda.

Bebas saja soal iman apa yang kau yakini sebagai kebenaran, tapi memaksa orang lain untuk ikut membenarkan apa yang kau imani? Silahkan ingat kau tinggal di negeri mana. Negara ini masih punya sila “Ketuhanan yang maha esa” kan? Atau sekarang ‘Bhineka’ cuma tinggal nama? Setidaknya, itu yang saya imani.

Rekan-rekan seiman…
Jika percaya pada hukum Allah adalah yang Maha Adil, etiskah jika bertindak seolah-olah dirimu adalah yang Maha? Bebas saja jika kau ingin semua rekan seimanmu berlomba mengingatkan dalam kebaikan. Tak ada yang salah tentang niatmu kawan. Akan menjadi kurang benar jika cara yang kau pilih lebih menyerupai sekumpulan orang yang ‘kesetanan’ dalam berketuhanan.
Kalau memang itu caramu, tak perlu kau lekatkan embel-embel Islam. Silahkan.
Setidaknya, itu yang saya imani.

Rekan-rekan seiman…
Kalau punya banyak waktu luang dan tenaga berlebihan, coba sedekahkan saja untuk orang-orang sekitar yang membutuhkan. Jadilah manfaat bagi sesama, bukankah itu yang Alquran ajarkan?

Hati hati berkelakar soal penistaan agama, salah-salah bisa jadi justru diri sendiri yang sebenarnya nista. Setidaknya, itu yang saya imani.

Surat Untuk Rekan-Rekan Seiman


AgamaSosial Media

500

Baca Lainnya