Bisnis
·
11 November 2020 7:27

Kini Jadi Miliarder, Tri Sumono Pernah Jadi Tukang Sapu dan Kuli Bangunan

Konten ini diproduksi oleh Profil Orang Sukses
Kini Jadi Miliarder, Tri Sumono Pernah Jadi Tukang Sapu dan Kuli Bangunan (5888)
Tri Sumono. foto: bombastis.com
Ini bukan cerita sinetron. Dulunya bekerja sebagai tukang sapu dan kuli bangunan, namun kini jadi miliarder, merupakan kenyataan hidup yang dialami Tri Sumono.
ADVERTISEMENT
Tuhan tidak akan mengubah suatu kaum kecuali kaum itu yang mengubahnya, begitulah perkataan nasihat yang sering kita dengar. Tapi hal ini memanglah benar. Untuk mengubah suatu nasib seseorang harus bekerja keras, pantang menyerah, dan selalu meminta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Itu yang dilakukan juga oleh Tri Sumono. Seorang tukang sapu yang kini menjadi profil orang sukses.
Lahir di Gunungkidul, 7 Mei 1973, Tri berniat mengadu nasib di Jakarta. Meski bermodal ijazah SMA, ia membawa serta harapan besar untuk memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak. Tri sadar bahwa ia tak mungkin mendapatkan pekerjaan kantoran. Justru ia menerima segala macam tawaran pekerjaan . Pekerjaan pertamanya adalah sebagai kuli bangunan. Untuk beberapa bulan, Tri bekerja sebagai buruh kasar di Ciledug-Jakarta.
ADVERTISEMENT
Kemudian ia ditawari untuk menjadi tukang sapu di kantor di Palmerah-Jakarta Barat. Tawaran ini langsung ia ambil tanpa pikir panjang, dengan harapan bahwa menjadi tukang sapu memiliki beban yang lebih mudah ketimbang menjadi pekerja kuli. Pekerjaannya baik, lantas ia diangkat menjadi Office Boy. Di sela-sela pekerjaanya ini, Tri juga mencoba mencari peruntungan untuk berdagang di hari libur. Ia membuka lapak di Stadion Gelora Bung Karno yang menjual pernak pernik seperti jepit rambut, kalung, kucir, dan lain-lain. Kegiatan ini ia lakukan selama 4 tahun dengan modal Rp 100.000.
Kini Jadi Miliarder, Tri Sumono Pernah Jadi Tukang Sapu dan Kuli Bangunan (5889)
Tri Sumono. Foto: Youtube GTV
Di tahun 1997, ia memutuskan untuk berhenti menjadi pegawai dan memilih untuk berjualan. I nekat mundur dari pekerjaannya karena berfikir berjualan lebih menjanjikan daripada menjadi karyawan yang digaji pas-pasan. Jualannya ini ia tekuni hingga mampu memiliki kios untuk berjualan aksesoris di Mall Graha Cijantung.
ADVERTISEMENT
Jualan aksesorisnya ini juga dapat membelikannya rumah. Tahun 1999, ia dapat membeli rumah di Perumahan Pondok Ungu Bekasi Utara. Saat itu, kiosnya ditawar orang dengan harga mahal. Di rumahnya itu, bisnis Tri berkembang. Di rumah, ia membuka toko sembako. Ia juga membangun kos-kosan murah di rumahnya. Bisnis sembako dan kos-kosan miliknya kemudian berkembang.
Tahun 2006, Tri mulai berfikir untuk bisnis kuliner pembuatan sari kelapa. Yang ia tahu, sari kelapa memerlukan proses fermentasi air kelapa dengan bantuan bakteri. Ia belajar bagaimana caranya menghasilkan sari kelapa yang memiliki kualitas. Lalu ia bertemu dengan dosen IPB untuk mempelajari fermentasi. Selama dua bulan, dosen itu mengajarinya.
Hasilnya memuaskan, produksi pertamanya senilai Rp 70 juta dengan 10.000 nampan. Sari kelapa ini kemudian ia tawarkan ke perusahaan-perusahaan. Bahkan perusahaan banyak yang antre untuk membeli nata de coco buatannya. Bisnis ini kemudian terus berkembang , ia kemudian mencoba untuk memproduksi kopi jahe sachet, penyedia alat tulis kantor ke beragam perusahaan, dsb. Pemilik CV 3 Jaya itu kemudian sukses menghasilkan 500 juta sampai satu miliar dalam satu bulan.
ADVERTISEMENT