kumparan
search-gray
Bisnis29 Juni 2020 12:34

Kisah Ahok, Komisaris Utama Pertamina yang Naik Angkot ke Sekolah saat SMA

Konten kiriman user
Kisah Ahok, Komisaris Utama Pertamina yang Naik Angkot ke Sekolah saat SMA (1210444)
Basuki Tjahaja Purnama. Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Kemarin, Basuki Tjahaja Purnama berulang tahun yang ke-54. Oleh publik, pria yang biasa disapa Ahok itu dikenal sebagai politisi yang penuh ketegasan. Kariernya di dunia politik kian menanjak setelah ia menjabat sebagai Bupati Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pada 14 November 2014, nasib membawa Ahok bertolak ke ibukota. Ia resmi menggantikan Joko Widodo dan mulai menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.
ADVERTISEMENT
Namun, di balik karier politiknya yang cemerlang, Ahok menyimpan banyak kisah perjuangan dalam hidupnya. Sebelum dikenal sebagai seorang pejabat, mantan suami Veronica Tan itu pernah menjalani hidup yang serba terbatas di ibukota.
Ketika duduk di bangku SMA, misalnya, Ahok dan adiknya, Basuri Tjahaja Purnama, menimba ilmu di salah satu sekolah Kristen di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Untuk membiayai sekolah keduanya, ayah Ahok yang saat itu di Belitung tengah terbelit oleh persoalan ekonomi.
Menghadapinya, Ahok dan Basuri harus berhemat supaya uang bulanan kiriman dari sang ayah tak cepat habis. Setiap hari, keduanya bangun amat pagi supaya tak ketinggalan angkot untuk pergi ke sekolah, rela tidak jajan, dan hampir selalu membawa bekal. Semua itu dilakukan Ahok dan adik guna menghemat pengeluaran.
ADVERTISEMENT
Meski begitu, pria kelahiran Manggar, Belitung Timur itu tetap mensyukuri hidupnya. Ia bersyukur lantaran tetap bisa mengemban ilmu di kota, sementara di saat yang sama, banyak mimpi teman-temannya semasa kecil hanya berakhir di lubang-lubang tambang di Belitung sana.
Lantaran pengalaman yang menyedihkan itu, saat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Ahok lantas tergerak nuraninya untuk mewujudkan pendidikan gratis bagi masyarakat kurang mampu. Ia paham betul rasanya hidup dalam kesusahan, apalagi soal pendidikan. Maka, dilatarbelakangi hal tersebut, ia bersama Joko Widodo sebagai Gubernur DKI Jakarta saat itu membuat Kartu Jakarta Pintar (KJP). Kartu itu menjadi sarana bagi masyarakat kurang mampu untuk tetap bisa mengenyam pendidikan secara layak.
Sekarang, terlepas dari segala kontroversinya sebagai politisi, publik mengenang Ahok sebagai seseorang yang berjasa dalam kehidupan mereka. Hal itu telah jelas belaka dibuktikan dengan beberapa penghargaan yang telah diperoleh bapak lima anak tersebut, antara lain penghargaan Tokoh Anti Korupsi dari Gerakan Tiga Pilar Kemitraan dan Bung Hatta Anti Corruption Award, hingga masuk dalam 10 tokoh yang telah mengubah Indonesia versi Tempo.
Kisah Ahok, Komisaris Utama Pertamina yang Naik Angkot ke Sekolah saat SMA (1210445)
Ahok, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero). Ilustrasi: kumparan
Terlepas dari segala pencapaian itu, saat ini, Ahok tak lagi berkiprah di dunia politik. Ia menjabat sebagai Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) mulai 25 November 2019.
ADVERTISEMENT
Meski begitu, ternyata, jabatan tersebut telah berkali-kali lipat memberi Ahok bayaran lebih banyak ketimbang saat ia menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Ia kini justru sukses bukan kepalang.
Berdasarkan keterangan Ahok sendiri, gaji Komisaris Utama PT Pertamina mencapai Rp 170 juta per bulan. Sementara Gubernur DKI Jakarta hanya mendapat Rp 7 juta per bulan.
Dengan begitu, meski politik dan jabatan publik tak lagi jadi dunia tempat ia berkiprah, hidup tetap memberi Ahok nasib baik. Dan semoga, sebagaimana seyogyanya kita harapkan hal yang sama terjadi pada siapa pun, itu dapat berlangsung terus-menerus.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white