Tekno & Sains
·
13 Januari 2021 10:52

Hilangkan Bosan Belajar dari Rumah, Siswa SDN Ciandong Belajar Jadi Dokter Kecil

Konten ini diproduksi oleh Program PINTAR
Hilangkan Bosan Belajar dari Rumah, Siswa SDN Ciandong Belajar Jadi Dokter Kecil (417986)
Miko Marsus Pandega, siswa kelas IV SDN Ciandong sedang berpraktik sebagai dokter kecil di rumahnya.
Belajar dari rumah terkadang membosankan bagi siswa jika tidak dilakukan dengan strategi yang unik dan menarik. Guru perlu berinovasi agar kegiatan pembelajaran menyenangkan dan bermakna sesuai konteks belajar siswa dari rumah.
ADVERTISEMENT
Hal itu yang terus diupayakan oleh Anis Septiani. Anis mencoba berinovasi menggunakan strategi baru yang diberi nama “SeKolAh” atau Sesi Kolaborasi Ahli.
Strategi ini dirancang Anis untuk mengatasi kejenuhan siswa saat belajar dari rumah. Anis merancang pembelajaran dengan mengundang para ahli di bidang tertentu untuk menyampaikan materi pelajaran kepada siswa pada kelas daring.

“Kebetulan di kelas IV ini ada materi IPA tentang indera pendengaran manusia. Saya berinisiatif mengundang ahli kesehatan untuk ikut belajar bersama di kelas daring saya,” ujar Anis.

Menghadirkan Guru Tamu
Anis menghadirkan guru tamu seorang dokter yang akan menyampaikan materi IPA seputar indera pendengaran manusia. “Saya mengajak teman, dr. Dias Isnanti. Beliau dokter dari Jakarta Timur untuk berkolaborasi di kelas daring saya,” kata Anis. Anis kemudian mengundang dr. Dias bergabung ke grup WhatsApp, kemudian mempersilakannya untuk menyampaikan materi seperti sistem kulwap atau kuliah WhatsApp.
Hilangkan Bosan Belajar dari Rumah, Siswa SDN Ciandong Belajar Jadi Dokter Kecil (417987)
Poster belajar bersama dokter melalui WA yang dibuat guru untuk menarik perhatian siswa saat belajar dari rumah.
Pembelajaran dengan strategi SeKolAh ini dibagi menjadi empat sesi, yaitu (1) sapa kenal, (2) penyampaian materi, (3) diskusi dan tanya jawab, serta (4) praktik mandiri. Pada sesi penyampaian materi, dr. Dias menyampaikan materi tentang telinga manusia beserta fungsinya, proses mendengar pada manusia, gangguan pada telinga manusia, serta cara merawat telinga dengan baik dan benar. Cara penyampaian materinya pun bervariasi, seperti menggunakan chat WA, voice note, dan video-video pembelajaran.
ADVERTISEMENT
Setelah itu, diadakan sesi diskusi dan tanya jawab melalui chat WA dan voice note. “Apakah boleh mengorek telinga, dok?” tanya Miko Marsus Pandega, salah satu siswa melalui WA.
“Adik-adik, kita harus tetap menjaga kebersihan telinga ya, tapi tidak boleh mengorek telinga dengan apapun yang berbahaya. Jika ada keluhan, segera datang ke fasilitas kesehatan seperti puskesmas,” papar dr. Dias sambil memberikan tips cara membersihkan telinga.
“Kami baru tahu ternyata kotoran telinga bisa keluar sendiri dengan cara mengunyah dan menguap. Terima kasih penjelasannya dr. Dias,” tambah Labita Nareswari, siswa lainnya.
Praktik menjadi Dokter Kecil
Setelah belajar bersama dr. Dias, siswa diminta praktik langsung cara membersihkan telinga dengan panduan lembar kerja (LK). “Anak-anak saya minta praktik membersihkan telinga dengan cara yang benar. Tentu saja dengan pengawasan orang tua,” kata Anis. Siswa juga diberi tantangan untuk menjadi dokter kecil dengan mengajak anggota keluarga di rumah untuk membersihkan telinga dengan cara yang benar.
ADVERTISEMENT
Meskipun terlihat sederhana, nyatanya masih banyak ditemukan orang yang masih lalai dalam membersihkan telinga. “Masih ada tetangga saya yang membersihkan telinga dengan bulu ayam, bu. Padahal itu tidak boleh,” kata Bima Al Akbar. Menurut Anis dengan strategi SeKolAh, orangtua siswa pun dapat di undang sebagai narasumber. Dengan pembelajaran seperti ini terbukti membuat siswa lebih antusias dalam belajar. “Saya sangat senang sekali belajar seperti ini, bu!” ujar Dzaki Labidi Lais.