Bisnis
·
16 Oktober 2020 11:37

SBM ITB Rumuskan 3 Skenario Energi dan Transportasi di masa Ketidakpastian Covid

Konten ini diproduksi oleh SBM ITB
SBM ITB Rumuskan 3 Skenario Energi dan Transportasi di masa Ketidakpastian Covid (75691)
Quo Vadis: Satu tahun kabinet Indonesia Maju: Skenario transportasi Publik dipaparkan Agung Wicaksono
BANDUNG – Menjelang satu tahun Kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin, Sekolah Bisnis Manajemen Institut Teknologi Bandung (ITB) memberikan rumusan rekomendasi kebijakan di sektor energi dan transportasi. “Scenario planning adalah salah satu metode perencanaan yang paling sesuai dalam kondisi ketidakpastian, seperti pada masa pandemi akibat Covid-19 sekarang ini,” ujar Dekan SBM ITB Prof Utomo Sarjono Putro dalam Webinar bertajuk “Quo Vadis 1 Tahun Kabinet Indonesia Maju: Bagaimana Skenario Energi dan Transportasi Masa Depan?”
ADVERTISEMENT
Guru Besar Ilmu Keputusan dan Negosisasi ini mengatakan, pemerintah dapat menggunakan scenario planning untuk merumuskan masa depan yang penuh ketidakpastian, dan merencanakan opsi dan implikasi strategis yang perlu diambil. Utomo menambahkan, salah satu misi SBM ITB adalah mengembangkan dan mendiseminasi pengetahuan untuk dunia usaha, pemerintah dan masyarakat.
SBM ITB Rumuskan 3 Skenario Energi dan Transportasi di masa Ketidakpastian Covid (75692)
Dekan SBM ITB Prof Utomo Sarjono Putro dalam Webinar bertajuk “Quo Vadis 1 Tahun Kabinet Indonesia Maju: Bagaimana Skenario Energi dan Transportasi Masa Depan?”
Terutama dalam situasi pandemi seperti ini, di mana sektor energi terutama hulu migas dan sektor transportasi terutama angkutan umum yang sangat terdampak.
Pakar energi Center for Policy and Public Management (CPPM) dari SBM ITB, Ahmad Yuniarto menyampaikan tiga kemungkinan skenario sektor hulu migas yang dihadapi Indonesia hingga tahun 2023. Skenario yang dinamakan VisiPetro itu yakni Skenario Puting-Beliung, Skenario Musim Barat, dan Skenario Pancaroba. Praktisi migas ini mengungkapkan, meski bernama seperti cuaca, ketiga skenario tersebut sesungguhnya menunjukkan iklim sektor hulu migas Indonesia, yang dipengaruhi dua faktor yaitu pengelolaan pandemi dan konsolidasi industri.
ADVERTISEMENT
“Skenario Puting-Beliung adalah situasi ketika dampak pandemi tak terkendali dan industri hulu migas tercerai-berai,” ujar Ahmad Yuniarto.
Meskipun dampak pandemi dapat dikelola dengan efektif oleh pemerintah, jika industri hulu migas jalan di tempat karena iklim investasi yang tak kondusif, maka skenario yang mungkin terjadi adalah Musim Barat. Harapan akan muncul untuk sektor migas ini dalam Skenario Pancaroba. Yakni ketika dampak pandemi dapat dikelola secara efektif dan industri hulu migas mulai menata asa, dengan mengedepankan dampak ekonomi multiplier effect dari sektor ini dan bukan sekedar mengutamakan pendapatan negara.
“Diharapkan skenario yang disusun 16 pakar energi ini dapat bermanfaat bagi pemerintah sektor ESDM terutama Migas dalam menata langkah ke depan. Fragility dari sektor hulu migas ini sangat terekspos dengan adanya situasi pandemi ini,” ungkap dia. Menanggapi pernyataan tersebut, Executive Director Indonesian Petroleum Association (IPA) Marjolin Wajong menambahkan, dibutuhkan langkah-langkah antisipasi untuk memitigasi risiko yang dapat muncul dari masing-masing skenario yang dapat terjadi di masa depan.
ADVERTISEMENT
Yang terpenting bagi sektor industri yang setiap tahunnya berkontribusi lebih dari Rp 300 triliun adalah kerja sama dengan pemangku kepentingan untuk memperbaiki iklim investasi dan kinerja industri hulu migas di Indonesia.
Sementara itu dosen dan peneliti CPPM SBM ITB, Agung Wicaksono, menyampaikan kemungkinan tiga strategi di bidang transportasi public yang terdampak pandemi Covid-19. Agung mengatakan, ada tiga skenario untuk pemulihan bisnis transportasi publik yakni Skenario Gridlock, Skenario Busway, atau Skenario Highway. Mantan Direktur Utama Transjakarta ini menjelaskan, seperti Namanya, Skenario Gridlock menunjukkan kemungkinan situasi ketika kondisi pandemi Covid-19 berkepanjangan lebih dari 1 tahun dan kepercayaan masyarakat dalam menggunakan transportasi publik terus menurun karena kekhawatiran atas penularan di keramaian. Akibatnya, gridlock alias kemacetan akibat penggunaan kendaraan pribadi berlebihan terjadi di mana-mana. Dan bisnis transportasi umum pun dikhawatirkan mengalami stagnasi bahkan kontraksi akibatnya.
ADVERTISEMENT
“Skenario Busway bisa terjadi meskipun kondisi pandemi berkepanjangan lebih dari 1 tahun, namun kepercayaan masyarakat terhadap penggunaan transportasi publik dapat pulih kembali,” imbuhnya. Sehingga mereka bisa meluncur di jalur busway bebas hambatan. Itu berarti bisnis transportasi publik dapat pulih kembali meski harus mengalami konsolidasi agar lebih solid. “Peran operator transportasi publik dan pemerintah dalam memulihkan trust level dari masyarakat pengguna angkutan umum akan sangat penting,” kata dia.
Terakhir, skenario yang paling optimistis namun sulit terjadi adalah Skenario Highway, jalan bebas hambatan. “Skenario ini bak angkutan umum meluncur di jalan tol bebas hambatan, karena ternyata pandemi Covid-19 bisa berakhir kurang dari 1 tahun. Meskipun cukup sulit terjadi karena telah 10 bulan pandemi ini belum dapat dipastikan ketersediaan solusinya, tentunya harapan itu tetap ada menjelang awal 2021 nanti,” ucap Agung.
ADVERTISEMENT
Dari ketiga skenario yang dinamakan Skenario Post-Normal tersebut, kunci utamanya ada dua. Pertama, kemampuan pemerintah menangani pandemic. Kedua, kesiapan operator mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap keamanan dan keselamatan angkutan umum. Jika itu bisa dilakukan, maka “IDE (Integrasi – Digitalisasi – Elektrifikasi) sebagai trend masa depan transportasi publik modern akan terwujud. Agung juga menyarankan agar skema “buy-the service” (BTS) di mana pemerintah melalui BUMD/BUMN/BLU membayar layanan operator angkutan umum dengan skema Rupiah per Kilomoeter sesuai Standar Pelayanan Minimum (SPM) tertentu dapat terus dijalankan.
Selain TransJakarta yang telah berhasil menjalankannya, Kementerian Perhubungan juga telah menjalankan skema BTS ini di 5 kota pada tahun 2020.
SBM ITB Rumuskan 3 Skenario Energi dan Transportasi di masa Ketidakpastian Covid (75693)
Antusiasme peserta menyimak Skenario transportasi Publik di masa ketidakpastian Covid-19
Menanggapi skenario dan kebijakan yang direkomendasikan Agung, Sekjen DPP Organda Ateng Aryono menyampaikan, harapan masyarakat atas transportasi publik akan selalu tinggi, bahkan di tengah pandemi. Kolaborasi pemerintah dan operator diperlukan untuk memitigasi risiko dari pandemi yang dapat terjadi.
ADVERTISEMENT
“Para pelaku usaha transportasi sangat berharap pemerintah mendengarkan masukan dari operator untuk terus meningkatkan pelayanan transportasi public,” ucap dia.
Webinar ini dipandu Yudo Anggoro, Ph.D. , dosen dan Direktur dari Center for Policy & Public Management SBM ITB.
Yudo menyimpulkan bahwa, “Kedua skenario – Skenario VisiPetro untuk energi hulu migas dan Skenario PostNormal untuk transportasi publik – adalah upaya kami melakukan pendekatan evidence based-policy dalam merumuskan kebijakan.”
Yudo menyampaikan bahwa Center yang didirikan SBM ITB di tengah masa pandemi ini tepat berusia 6 bulan pada 15 Oktober 2020 ini.
“Webinar ini adalah sebuah peringatan setengah tahun lahirnya Center ini dan memberikan hadiahnya untuk Indonesia Maju. Sebagai pusat kajian kebijakan yang lahir di tengah pandemi, menjadi panggilan untuk memberikan kontribusi kajian yang membantu pemerintah dan dunia usaha menavigasi ketidakpastian ini.”
ADVERTISEMENT