Mom
·
23 November 2020 4:23

Parental Involvement: Peliknya Pendidikan di Tengah Pandemi

Konten ini diproduksi oleh PPI Dunia
Parental Involvement: Peliknya Pendidikan di Tengah Pandemi (115840)
Source: https://berniceblackmonwritingportfolio.weebly.com/
Sejak triwulan pertama tahun 2020, dunia pendidikan menjadi salah satu dari sekian banyak sektor yang terdampak dari munculnya pandemic COVID-19. Ketidaksiapan di segala aspek juga muncul tanpa bisa dielakkan. Berbagai masalah muncul tidak hanya di Indonesia, namun juga di beberapa negara lain. Alhasil, pembelajaran online diterapkan secara nasional dengan memperhatikan keadaan wilayah. Meskipun demikian, dapat disimpulkan bahwa kesiapan Indonesia untuk menerapkan pembelajaran online berada dalam kategori rendah dan perlu ditingkatkan (Ayuni, dkk, 2020; Aji, R. H. S, 2020).
ADVERTISEMENT
Sayangnya, tidak ada pilihan lain yang dapat dilakukan. Kerja sama antar sektor untuk memutus rantai penularan virus telah dilakukan dengan seksama. Pembelajaran Jarak Jauh kian menjamur di kalangan sekolah dengan teknologi seadanya. Namun demikian, teknologi tidak dapat menggantikan banyak hal, termasuk kedekatan emosional yang sangat dibutuhkan oleh siswa.
Mengacu kepada uraian di atas, keterlibatan orang tua merupakan satu dari beberapa solusi yang ditawarkan selama menjalani pembelajaran jarak-jauh. Beberapa negara menekankan adanya keterlibatan orang tua secara intensif selama PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) berlangsung, terlepas dari pro dan kontra kesibukan para orang tua. Thailand contohnya, merupakan salah satu negara yang menekankan keterlibatan orang tua dari pembelajaran untuk anak pra-sekolah hingga universitas.
ADVERTISEMENT
Keterlibatan orang tua dalam pendidikan bukan suatu konsep baru. Namun, sayangnya di beberapa daerah di Indonesia, keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak masih sangat rendah (Syamsudduha & Ginanto, 2017). Akibatnya, situasi yang terjadi sekarang ini menuntut orang tua untuk lebih terlibat dalam pendidikan sekolah anak. Tentu saja sebagian orang tua merasa sangat terkejut dan tidak sedikit juga yang kebingungan.
Keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak akan secara langsung berkaitan dengan sistem yang dibangun antara kedua belah pihak, yakni sekolah dan orang tua. Lumrah untuk ditanyakan saat ini “Seberapa intenskah komunikasi dan hubungan sekolah dengan orang tua murid?”. Pastinya akan ada beragam jawaban antara lingkungan urban dan rural (Yulianti, dkk., 2019)
ADVERTISEMENT
Di balik itu semua, pandemi yang sedang terjadi sekarang ini menjadi titik balik bagi orang tua. Sebelumnya, tidak sedikit orang tua menganggap bahwa gurulah yang bertanggung jawab penuh terhadap pendidikan anak. Tugas orang tua bagi mereka hanyalah membayar tagihan SPP, membelikan buku dan peralatan lain. Hal ini menjadi sesuatu yang terkesan ironis. Namun demikian, bukan berarti semuanya berpikir sama. Ada juga yang sudah sadar bahwa keputusan untuk menyekolahkan anak bukan berarti lepas tangan terhadap pengawasan terkait pendidikan. Pola pikir demikian sangat dipengaruhi oleh level pendidikan orang tua dan berdampak langsung pad acara mereka menilai dan memandang pendidikan anak (Ceka & Murati, 2016)
Fakta lapangan keterlibatan orang tua dalam pendidikan sekolah anak
ADVERTISEMENT
Tidak bisa dielakkan bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan sekolah anak masih menjadi pekerjaan rumah yang tidak kalah rumit. Syamsudduha & Ginanto (2017) dalam penelitiannya, masih mendapati bahwa level keterlibatan orang tua di pendidikan sekolah anak masih menempati level rendah dan perlu perhatian. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk membangun sistem hubungan yang baik antara hubungan sekolah dan orang tua. National Center for School Engagement dalam Sapungan & Sapungan (2014), menjelaskan setidaknya ada 4 hal yang dianggap menjadi penghambat terkait komunikasi sekolah dan orang tua, sehingga penting rasanya untuk disikapi dengan arif dan bijaksana.
Pertama, rasa ketidaknyamanan warga sekolah, terutama guru dan staf, seringkali dirasa sebagai masalah dalam komunikasi antara orang tua dan sekolah. Banyaknya staf dan guru yang tidak percaya diri dalam melakukan beberapa hal di depan keluarga dan orang tua murid, menjadi salah satu penghalang komunikasi antar keduanya. Kedua, komuniksi seringkali terhambat dengan adanya permasalahan logistik. Logistik tersebut dapat diartikan sebagai sarana untuk menyambung komunikasi yang kurang memadai, termasuk jarak tempuh antara sekolah dan rumah. Hal itu dikatakan sebagai masalah dalam rentannya komunikasi antar kedua belah pihak.
ADVERTISEMENT
Selanjutnya yang ketiga adalah sistem yang tidak mendukung keterlibatan orang tua. Misalnya, sekolah mengadakan pertemuan orang tua dan wali murid hanya sebatas saat pengambilan hasil belajar siswa saja. Sebagai orang tua, apakah kita sadar dan bisa menjawab berapa kali kita diundang oleh sekolah dalam menghadiri Open Class sebagai presentasi akhir anak-anak kita? Atau jangan-jangan belum pernah sama sekali? Padahal itu sangat dibutuhkan untuk menambah kedekatan hubungan orang tua dan sekolah. Selebihnya, Open Class juga berguna untuk mengetahui perkembangan murid yang tidak cukup hanya dilihat dalam bentuk nilai dan angka.
Masalah yang terakhir adalah ketidakterampilan dalam menjaga komunikasi. Hal ini merupakan gabungan dari ketiga permasalahan di atas. Bagaimanapun juga, beberapa penelitian sudah membukatikan dan menyatakan dengan tegas bahwa hubungan yang terjaga antara sekolah dan orang tua sangat mempengaruhi prestasi siswa. Siswa akan merasa aman dengan keharmonisan kedua belah pihak sehingga motivasi belajar akan meningkat dan tidak sungkan untuk berdiskusi dengan orang tua di rumah (Putri, dkk. 2018).
ADVERTISEMENT
Bagaimana langkah melibatkan orang tua dalam pendidikan sekolah?
Di luar itu, ada banyak cara yang dapat diterapkan dalam menjaga hubungan keluarga dengan sekolah. Bagaimanapun juga, siswa akan lebih cenderung menginginkan orang tua yang dapat mendukung, paham, serta ingin terlibat ke dalam dunia pendidikannya (Mapp. K & Henderson A. 2002).
Parental Involvement: Peliknya Pendidikan di Tengah Pandemi (115841)
Source: www.wested.org
Joyce Epstain dkk., (2002) memberikan beberapa tips kepada kita semua, baik sekolah maupun orang tua, terkait menjaga kualitas hubungan baik tersebut. Setidaknya ada 6 tips yang dibagikan, yaitu;
  1. Parenting: sekolah harus menyediakan wadah untuk mendukung orang tua dalam menjadi agen utama dalam pendidikan anak.
  2. Komunikasi: Harus terjalin komunikasi dua arah. Saat ini, ada banyak cara yang dapat dilakukan, mengingat perkembangan teknologi yang sudah mendukung keterbukaan komunikasi.
  3. Relawan: Orang tua harus menjadi relawan. Mereka harus merelakan diri untuk mengetahui dan memulai komunikasi kepada sekolah. Pun sebaliknya, komunikasi tersebut harus disambut dengan baik dan hangat.
  4. Belajar di rumah: sebagai orang tua yang seharusnya menjaga dan mendidik anaknya, tips ini sudah menjadi hal lumrah. Namun, apakah masih ada yang tidak meluangkan waktu untuk sekedar menanyakan “Apa yang kamu dapat di sekolah, nak? Coba ajarkan bapak/ ibu tentang apa yang kamu dapat di sekolah?”
  5. Peraturan dan sistem: keterbukaan sekolah dalam menyerap aspirasi orang tua tentunya sangat dibutuhkan. Hal ini pastinya sudah sangat sering dilakukan.
  6. Kerjasama komunitas: ada berapa banyak komunitas peduli pendidikan di sekitar kita? Itu menjadi sebuah pertanyaan besar. Jikapun ada, sudahkah kita menjalin komunikasi dan berjalan bersama untuk mendidik penerus bangsa ini?
ADVERTISEMENT
Tentu tidak hanya itu, kreativitas dan keadaan darurat sering kali menghasilkan sebuah keputusan baru yang menguntungkan, walau tentunya sering kali juga membuntungkan. Namun, ke-enam tips diatas adalah cara umum yang sering kali diterapkan di berbagai negara.
Setidaknya, wabah COVID-19 ini sudah menggerakkan kita untuk memulai komunikasi yang intens. Orang tua mendapatkan tugas yang selama ini guru dapatkan. Namun, apakah guru harus lepas tangan? Tentu saja tidak. Guru akan tetap memegang kendali, termasuk melakukan penilaian sikap jarak jauh. Misalnya, guru dapat membuat form penilaian sikap dalam bentuk rating scale, checklist dan dalam bentuk lain. Selanjutnya, orang tualah yang bertanggung jawab untuk memberikan penilaian sikap tersebut.
Akan tetapi, hal itu hanya bisa terjadi jika keterlibatan orang tua dalam pendidikan sekolah anak sudah baik, serta adanya pemahaman bahwa orang tua memiliki tanggung jawab yang sama seperti guru. Dengan komunikasi yang baik serta didukung keterbukaan teknologi melalui berbagai platform, COVID-19 seharusnya tidak lagi menjadi masalah dalam mengelola sistem pendidikan kita.
ADVERTISEMENT
Rujukan:
Ceka, Ardita., Muranti, Rabije. (2016). The Role of Parents in Education of Children. Journal of Education and Practice, 7 (05), 61-64
Epstein, J.L., Sanders, M.G., Simon, B.S., Salinas, K.C., Jansorn, N.R. and Voorhis F.L. (2002). School, Family and Community Partnerships: Your Handbook for Action (2nd edition). Corwin, Thousand Oaks, California.
Putri, Lili D., Hatimah, Ihat., Kamil, Mustofa. (2018). Family Partnership Strategy with an Early Childhood Education (PAUD) Institution: A Case Study on PAUD Bianglala Bandung. Non Formal Education International Conference (NFEIC 2018), Bandung, 293, 56-59
Sapungan, Gina. M., Sapungan, Ronel. M. (2014). Parental Involvement in Childs’ Education: Importance, Barriers and Benefits. Asian Journal of Management Science and Education, 3 (2), 42-48
ADVERTISEMENT
Syamsudduha, St & Ginanto, Dion. (2017). Parental Involvement in Indonesia: A study on two Public Schools in Makassar. Advances in Social Science, Education and Humanities Research (ASSEHR), 66, 407-4011
Yulianti, Kartika., Danessen, Eddie., Dropp, Mienke. (2019). Indonesian Parents’ Involvement in Their Children’s Educational: A Study in Elementary Schools in Urban and Rural Java, Indonesia. School Community Journal, 29 (01), 253-278.
Penulis: Haiyudi - Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Thailand
Editor : Tim Pengolah Artikel PPI Dunia
"Program Menulis Bersama PPI Dunia"
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white