Electoral College, Sistem Pemilu yang Tak Disukai Warga Amerika Serikat

Mahasiswa S1 Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjajaran
Konten dari Pengguna
15 Maret 2023 16:42
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Ahmad Dyandra Rama Putra Bagaskara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi sistem pemilu Electoral College (unsplash.com/Clay Banks)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sistem pemilu Electoral College (unsplash.com/Clay Banks)
Amerika Serikat (AS) merupakan negara federal yang merdeka pada 1776. Amerika merupakan negara yang terbilang berbeda dengan negara lain. Sebab, negara ini memiliki sistem pemilihan umum (Pemilu) yang terbilang ribet, tetapi unik. Sistem itu dikenal dengan sebutan electoral college (dewan pemilih). Amerika menjadi satu-satunya negara di dunia yang menggunakan sistem pemilu tersebut.
Perlu diketahui pula bahwasannya electoral college merupakan sistem pemilu yang tak banyak disukai oleh warga Amerika. Sebab, sistem pemilu ini tak memberi kesempatan kepada warga Amerika untuk memilih presidennya secara langsung.
Lantas, apakah yang disebut dengan electoral college? Dan bagaimana cara kerjanya dalam pemilu di Amerika? Untuk lebih memahami mengenai apa yang disebut dengan electoral college dan bagaimana sistem pemilu tersebut bekerja, ada baiknya kita mulai dengan mengenal lebih dulu apa definisi umum dari electoral college.
Electoral college merupakan sistem pemilu di mana presiden dan wakil presiden Amerika akan dipilih oleh anggota electoral college. Anggota electoral college merupakan sekelompok orang yang bertugas mewakili tiap negara bagian di Amerika untuk memilih presiden dan wakil presiden saat pemilu berlangsung.
Umumnya, anggota electoral college terdiri dari petinggi negara, tokoh berpengaruh, atau sosok yang berafiliasi dengan calon presiden dan wakil presiden Amerika. Anggota electoral college bersifat ad-hoc. Artinya, keanggotaan mereka hanya bersifat sementara. Sebab, mereka akan dibubarkan setelah pemilu di Amerika selesai dilakukan.
Masing-masing negara bagian memiliki jumlah anggota electoral college yang berbeda. Sebab, anggota electoral college ditentukan dari jumlah populasi yang ada di tiap negara bagian. Dengan kata lain, negara bagian yang memiliki jumlah populasi besar, sudah pasti memiliki jumlah anggota electoral college yang besar. Begitu pula sebaliknya. Negara bagian yang memiliki jumlah populasi kecil, sudah pasti memiliki jumlah anggota electoral college yang kecil pula.
Di Amerika, ada 50 negara bagian. California menjadi negara bagian yang memiliki jumlah anggota electoral college terbanyak, yakni 55 orang. Sementara itu, Wyoming, South Dakota, dan Manhattan menjadi negara bagian yang memiliki jumlah anggota electoral college terkecil, yakni sebanyak 3 orang.
Secara keseluruhan, ada 538 anggota electoral college yang ada di 50 negara bagian di Amerika. Jumlah tersebut terdiri dari 435 perwakilan dari tiap negara bagian, 100 orang senator, dan 3 orang pemilih tambahan dari ibu kota Washington D. C.

Cara Kerja Sistem Electoral College dalam Pemilu di Amerika Serikat

Ilustrasi pemilu di Amerika Serikat (unsplash.com/Element5 Digital)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pemilu di Amerika Serikat (unsplash.com/Element5 Digital)
Setelah mengetahui definisi electoral college, barulah kita beranjak pada bagaimana sistem tersebut bekerja dalam pemilu di Amerika Serikat. Pada dasarnya, pemilu di Amerika terbagi menjadi dua tahap, yakni tahap popular vote dan electoral vote.
Pada tahap popular vote, warga di 50 negara bagian di Amerika akan memilih presiden, wakil presiden, dan anggota electoral college. Umumnya, saat pemilu berlangsung, foto calon presiden dan wakil presiden akan berada di bagian atas kertas suara. Sementara itu, foto calon anggota electoral college akan berada di bawah foto calon presiden dan wakil presiden.
Tahap kedua ialah tahap electoral vote. Umumnya, tahap electoral vote dilaksanakan beberapa minggu setelah tahap popular vote. Pada tahap ini, anggota electoral college yang terpilih di tiap negara bagian akan memilih presiden dan wakil presiden. Nantinya, suara merekalah yang menjadi penentu akan siapa yang terpilih sebagai presiden dan wakil presiden Amerika.
Oleh karena itu, mereka yang ingin memenangi pemilu di Amerika harus memperoleh suara mayoritas dari anggota electoral college. Jumlah suara yang harus diperoleh ialah 270 suara atau lebih. Dengan kata lain, siapa yang memperoleh 270 suara electoral college atau lebih, merekalah yang akan menjadi presiden dan wakil presiden Amerika.
Umumnya, pada tahap electoral vote, anggota electoral college dari 50 negara bagian di Amerika akan memilih presiden yang memperoleh suara popular vote terbanyak di negara bagian tersebut. Misalnya, di negara bagian California, pasangan A memperoleh sebanyak 8 juta suara popular vote. Sementara itu, pasangan B hanya memperoleh sebanyak 7.5 juta suara.
Berdasarkan jumlah tersebut, nantinya, 55 anggota electoral college yang ada di California akan memilih pasangan yang memperoleh suara popular vote terbanyak di negara bagian tersebut, yakni pasangan A. Itu berarti, pasangan A akan memperoleh 55 suara electoral vote, sedangkan pasangan B memperoleh nol suara.
Sistem inilah yang dikenal dengan sebutan the winner take it all (pemenang mengambil semua). Sebab, pasangan yang memperoleh suara popular vote terbanyak di suatu negara bagian, akan mengambil semua suara electoral vote yang ada di negara bagian tersebut.
Sistem pemilu ini berjalan di seluruh negara bagian di Amerika, kecuali di Nebraska dan Maine. Sebab, kedua negara bagian tersebut merupakan swing state di mana mereka akan membagi suara electoral vote secara merata berdasarkan jumlah perolehan suara popular vote dari tiap pasangan.
Oleh karena itu, pasangan calon presiden dan wakil presiden di Amerika akan fokus melakukan kampanye di Nebraska dan Maine. Sebab, hanya negara bagian tersebutlah yang tidak menerapkan sistem the winner take it all.
Dampaknya terhadap hasil pemilu di Amerika Serikat
Ilustrasi pemilu di Amerika Serikat (unsplash.com/Janine Robinson)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pemilu di Amerika Serikat (unsplash.com/Janine Robinson)
Sistem electoral college tentu memiliki dampak tersendiri bagi hasil pemilu di Amerika Serikat. Pasangan calon presiden dan wakil presiden yang memperoleh suara popular vote terbanyak, belum tentu ditetapkan sebagai pemenang pemilu. Sebab, pemenang pemilu ditentukan dari perolehan suara electoral vote sehingga anggota electoral college-lah yang menjadi penentu akan hasil pemilu di Amerika.
Hal tersebut terjadi pada 2016 saat Donald Trump dan Hillary Clinton bertarung dalam pemilu Amerika. Saat itu, Trump hanya memperoleh suara popular vote sebanyak 60.072.551. Sementara itu, Clinton memperoleh sebanyak 60.467601 suara. Namun, ternyata, Trump justru unggul dalam perolehan suara electoral vote. Sebab, Trump memperoleh 290 suara electoral vote, sedangkan Clinton hanya 228 suara.
Oleh karena itu, Trump lah yang berhasil memenangi pemilu Amerika pada 2016. Sebab, ia mampu unggul dalam perolehan suara electoral vote. Dengan kata lain, saat itu, Trump memperoleh sedikit dukungan dari warga Amerika untuk menjadi presiden. Sementara itu, Trump memperoleh banyak dukungan dari anggota electoral college untuk menjadi presiden Amerika selanjutnya.
Hal inilah yang membuat sistem electoral college tak banyak disukai oleh warga Amerika. Sebab, sistem electoral college dianggap tak adil. Namun, sistem pemilu tersebut sudah tak dapat lagi diubah lantaran prosesnya akan memakan waktu yang terbilang lama.