News
·
13 Januari 2021 21:12

Si Penghasil Rupiah dan Konflik

Konten ini diproduksi oleh Raihan Rafi Malik
Si Penghasil Rupiah dan Konflik (136960)
Indonesia merupakan negeri dengan hamparan kekayaan alam yang luar biasa, sebagai negeri yang kaya Indonesia tentu saja memiliki sumber daya alam yang melimpah. Tidak hanya komponen biotik seperti hewan dan tumbuhan, Indonesia memiliki kekayaan alam abiotik seperti batu bara, minyak bumi dan gas alam yang tersebar luas dari Sabang hingga Merauke. Batu Bara adalah salah satu sumber daya alam andalan Indonesia, yang bisa bersaing di pasar internasional. Indonesia merupakan sebuah negara yang menjadi produsen dan eksportir batu bara, bahkan sebagian permintaan batu bara Indonesia berasal dari negara besar seperti China dan India. Dengan kekayaan alam batu baranya, pada tahun 2018 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia mengklaim bahwa industri batu bara ini akan bertahan hingga 50 tahun mendatang mengingat cadangan batu bara Indonesia mencapai 26,2 miliar ton . Tiga wilayah penghasil batu bara terbesar di Indonesia adalah Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan dan Provinsi Kalimantan Timur, selain itu masih ada beberapa wilayah di Indonesia yang memiliki cadangan batu bara seperti di wilayah Sulawesi dan Papua.
ADVERTISEMENT
Indonesia sebagai salah satu eksportir batu bara dunia mempunyai keuntungan dengan adanya industri ini. Pada bulan Januari 2020 saja Harga Batu bara Acuan (HBA) mencapai US$65,93 per ton, angka itupun sudah turun dibandingkan dengan HBA bulan Desember 2019 yang mencapai US$ 66,89 per ton. Bahkan pada tahun 2020 ketika dunia diterpa Pandemi, Indonesia melalui Kementerian ESDM menargetkan produksi batu bara hingga 550 juta ton, ekspor batu bara yang sempat terhalang karena Pandemi pun secara berangsur-angsur mulai membaik, terbukti dengan ekspor batu bara Indonesia kepada India sebesar 17 ton pada pertengahan tahun 2020. Indonesia Selain itu, Presiden Joko Widodo ingin kekayaan alam batu bara tidak hanya terhenti pada sektor pertambangan saja, beliau ingin mengeksplorasi manfaat batu bara dan ingin menciptakan produk turunan batu bara agar dapat menambah keuntungan dan manfaat batu bara.
ADVERTISEMENT
Indonesia sebagai negara produsen batu bara dunia turut memanfaatkan batu bara menjadi sumber pembangkit listriknya. Pada Mei 2020 saja persentase batu bara dalam sumbangsihnya menyumbangkan energi untuk diolah sebagai pembangkit listrik mencapai 85 persen. Hal itu menjadikan merebaknya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Indonesia, data menyebutkan lebih dari 50 PLTU tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan yang terbesar berada di Tenggarong, Kutai Kartanegara yang mampu mengasilkan energi listrik sebesar 110 megawatt. Semakin besar energi listrik yang di produksi, semakin besar pula intensitas pengambilan batu bara oleh industri penambangan. Sebenarnya, banyak manfaat dari batu bara jika alur pengambilan hingga pasca pengambilan dilakukan dengan baik. Namun data dari lapangan menujukan bahwa aktivitas penambangan batu bara di Indonesia, khususnya Kalimantan banyak menyebabkan bencana sosial dan ekonomi yang langsung dirasakan oleh warga sekitar.
ADVERTISEMENT
Penambangan batu bara kerap menyebabkan bencana bagi warga sekitar, dimulai dari pembukaan lahan untuk memulai aktivitas hingga saat mengakhiri aktivitas penambanganya. Tidak sedikit warga sekitar yang terpaksa pindah bahkan digusur akibat perusahaan yang ingin membuat atau memperluas area penambangan batu baranya. Masalah demi masalah muncul bergantian dengan adanya industri ini. Pada kepemimpinan Presiden Soeharto, masyarakat Indonesia khususnya wilayah yang padat penduduk di programkan untuk bertransmigrasi atau bermukim di wilayah yang masih lenangang seperti halnya Kalimantan dan Sumatera. Namun dengan berjalanya waktu, mereka hidup berdampingan dengan industri yang semakin lama semakin besar pula. Masyarakat lokal dan transmigran dipaksa untuk berpindah karena aktivitas pertambangan, jika kita melihat mundur kebelakang rasanya lucu ketika masyarakat diajak untuk bertansmigrasi dan di tanah transmigran mereka malah digusur kembali oleh korporasi bermodal besar.
ADVERTISEMENT
Penggusuran warga hanyalah satu titik kecil masalah yang ada, masalah lain yang cukup penting untuk dikaji oleh pembuat kebijakan adalah sampah dan limbah sisa pertambangan. Masyarakat sekitar industri batu bara Kalimantan adalah seorang petani yang menggantungkan hidupnya di sawah dan perkebunan. Sudah lama, masyarakat sekitar tambang tidak merasakan air bersih karena aktivitas eksplorasi tambang. Hal itu berdampak langsung pada komoditas tanaman petani sekitar yang turun setiap tahunya, air bersih bukan satu-satunya masalah yang dihadapi oleh petani dan warga sekitar, lebih dari itu adalah limbah batu bara berupa lumpur yang menyebabkan polusi tanah dan menggenangi sawah petani yang juga berimbas pada kualitas tanaman yang dipanen. Pemerintah seperti membebankan ongkos-ongkos yang seharusnya ditanggung oleh korporasi kepada warga sekitar, selain penggusuran dan pengrusakan lingkungan karena aktivitas tambang, masalah baru setelah aktivitas pertambangan usai juga menjadi keresahan warga dan menjadi sumber konflik sosial.
ADVERTISEMENT
Lubang bekas galian tambang cukup menjadikan kegiatan pertambangan batu bara di Kalimantan menjadi musuh bersama masyarakat lokal. Pada bulan September 2020, terdapat pelajar Sekolah Menengah Pertama yang menjadi korban dari bekas galian tambang yang berlokasi di Desa Krayan Makmur, Kecamatan Long Ikis, Kabupaten Paser. Pelajar tersebut diketahui sedang berwisata di lubang galian tambang yang menjadi danau. Pada tahun 2020 saja korban jiwa yang tercatat lebih dari 35 warga yang pada umumnya terdiri dari usia anak-anak hingga remaja. Hal ini seharusnya menjadi konsentrasi pemerintah untuk menindak beberapa korporasi nakal yang tidak mau mereklamasi atau sekedar mengelola agar jika menjadi tempat wisata pun tetap aman. Lubang galian tambang yang dengan sengaja dibiarkan oleh industri batu bara sering menciptakan konflik sosial karena sudah banyak merenggut nyawa warga lokal. Konflik ini akan berlanjut ketika pemerintah pusat dan daerah tidak bisa dengan tegas menangani masalah pertambangan, hal ini didukung kecemburuan warga kepada industri batu bara yang “seolah” dilindungi oleh pemerintah dalam menjalankan aktivitas pertambanganya.Tidak hanya berhenti pada aktivitas pertambangan, PLTU yang mempunyai bahan dasar batu bara juga kerap menimbulkan konflik. Bagaimana tidak, hasil buangan asapnya menimbulkan polusi udara yang berbahaya bagi kesehatan masyarakat sekitar. Dengan kemajuan zaman dan teknologi pemerintah seharusnya beralih kepada pembangkit listrik tenaga terbarukan agar mengurangi angka kerusakan lingkungan dan konflik yang terjadi.
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white