Prokrastinasi Generasi Z: Gejala Kecemasan di Tengah Tekanan Kesempurnaan

Mahasiswa Administrasi Publik,Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Sriwijaya
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Raisya Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sebagai mahasiswa yang tumbuh di era Generasi Z, saya menyadari bahwa kebiasaan menunda sudah biasa. Meskipun banyak tugas dan deadline di depan mata, selalu ada dorongan untuk membuka media sosial, menonton satu video lagi, atau sekadar menonton video lima menit yang terlalu lama.
Satu saja pesan yang masuk dapat merusak fokus yang telah dibangun dengan susah payah. Dalam situasi seperti itu, menunda kadang-kadang bukan pilihan yang dipilih secara sadar, tetapi lebih merupakan respons spontan terhadap suatu tekanan atau ketakutan akan kegagalan.
Selain itu, orang-orang di media sosial terus menunjukkan pencapaian mereka, beberapa sudah memiliki bisnis di usia dua puluh tahun, yang lain lulus cepat, dan yang lain tampak seperti kariernya tidak berkembang. Tanpa kita sadari, kita membandingkan diri kita sendiri melalui sosial media.
Survei yang dilakukan oleh American Psychological Association mengungkapkan bahwa generasi muda mengalami tingkat stres yang tinggi, terutama terkait dengan prospek karir dan masa depan mereka. Rasa takut gagal muncul saat ekspektasi terlalu tinggi. Oleh karena itu, menurut Gen Z, cara paling mudah untuk menghindari kekecewaan adalah menunda.
Saya juga pernah mengalami hal yang sama. Bukan karena tidak ingin melakukannya, tetapi karena khawatir hasilnya tidak sesuai ekspetasi saya.
Generasi Z saat ini lebih terbuka dalam membicarakan kesehatan mental. Kesadaran akan pentingnya kondisi psikologis membuat individu lebih memahami kebutuhan untuk beristirahat serta tidak memaksakan diri secara berlebihan.
Data yang dikumpulkan oleh World Health Organization menunjukkan bahwa usia muda sangat mungkin mengalami kecemasan dan stres. Jika otak lelah, lebih baik melakukan hal-hal yang memberi kalian kepuasan instan, seperti menonton media sosial, daripada menyelesaikan tugas yang sulit.
Masalahnya, menunda sering menyebabkan rasa bersalah. Kita menyadari bahwa kita memiliki ambisi dan potensi. Namun, ritme hidup tampaknya tidak seimbang.
Sepertinya terlalu mudah untuk menggambarkan Gen Z sebagai generasi yang malas. Banyak dari kita sangat menyadari masa depan dan memiliki mimpi besar. Namun, kita dibesarkan di lingkungan yang menuntut segalanya berjalan dengan cepat dan sempurna.
Mungkin tidak hanya kebiasaan yang perlu diubah, tetapi juga perspektif tentang produktivitas. Tidak semua waktu cocok untuk mencapai pencapaian. Tidak semua istirahat menunjukkan kegagalan.
Walaupun kita sering menunda untuk melakukan suatu hal, tetapi perlahan kita harus belajar untuk melawan rasa malas tersebut dan lebih disiplin waktu. Karena melawan kebiasaan yang buruk bukan tentang perubahan besar, itu tentang keberanian untuk melakukan langkah kecil yang baik setiap harinya.
