kumplus- Opini Raka Ibrahim

Menikmati Kegagalan Selagi Muda

Raka Ibrahim adalah penulis dan pelaut amatir. Tulisannya tentang musik, seni budaya, dan politik keseharian telah terbit di berbagai media. Pada 2021, ia menjadi kru sukarela di kapal layar kebudayaan Arka Kinari.
22 Juni 2022 13:41
·
waktu baca 14 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Segala yang disentuh sepupu saya berubah jadi emas. Mungkin itu kutukan yang harus ia tanggung.
Kami pertama akrab ketika remaja. Kala itu, saya masih separuh menggenggam cita-cita jadi Ahmad Dhani dan baru coba-coba jadi penulis. Namun sepupu saya sudah yakin ingin hidup sebagai fotografer. Ia gemar berkeliling kota—entah dengan ponsel atau tustel—untuk berburu subyek foto yang termutakhir. Dan setiap kali ia memamerkan hasil karyanya pada saya, mata saya terbelalak. Kami sama-sama baru berumur belasan, tapi ia sudah jauh lebih mapan dalam bidangnya ketimbang saya.
Bakat ini menurun dari bapaknya. Beliau fotografer legendaris yang kehadirannya saja bisa bikin juru foto senior tanah air terberak-berak. Saat bapaknya sedang beredar, teman burjonya adalah kurator, seniman grafis, dan fotografer paling tokcer seantero negeri. Lewat tongkrongan ini, sepupu saya bisa menyusup ke galeri-galeri ngetop segampang panitia. Kawah candradimukanya sudah terbentuk. Ia tinggal tahan ditempa.
Lanjut membaca konten eksklusif ini dengan berlangganan
Keuntungan berlangganan kumparanPLUS
check
Ribuan konten eksklusif dari kreator terbaik
check
Bebas iklan mengganggu
check
Berlangganan ke newsletters kumparanPLUS
check
Gratis akses ke event spesial kumparan
check
Bebas akses di web dan aplikasi
Kendala berlangganan hubungi [email protected] atau whatsapp +6281295655814
Konten Premium kumparanPLUS
Saya tidak tahu kapan harapan menjadi barang mahal. Kolom Raka Ibrahim, terbit setiap Minggu.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten